FIGHT FOR LOVE

FIGHT FOR LOVE
Episode 58



Malamnya, aku merasa kalut. Aku tidak tenang tinggal di rumah ini lagi. Aku membuka jendela dan melihat langit berkabut, gelap sekali. Aku mengingat lagi kejadian siang tadi, aku meraba pipiku yang masih menyisakan sakit di hatiku. Aku kecewa pada Papi, tak terasa air mataku membanjiri pipi yang tadi ada bekas tangan Papi. Perasaanku semakin sulit untuk dikendalikan, aku ingin pergi saja dari rumah ini. Tanpa pikir panjang lagi, kuhapus air mataku dengan kasar. Aku meraih selimut, serta kain apapun yang aku temukan untuk kusambungkan dengan kain lainnya agar bisa kabur lewat jendela.


 


 


Aku melakukannya dengan sangat hati-hati. Aku mengukur sekali lagi, apakah talinya sudah cukup membantuku untuk sampai di bawah. Kulihat kurang sedikit lagi, aku pun mencari celana jeans yang banyak di lemariku itu. Mengikatnya dengan kain sebelumnya yang sudah kujalin satu persatu. Aku mengaitkan kain itu ke tiang jendela, jujur aku takut sekali melakukannya. Ini kali pertama aku akan kabur dari rumah dan lewat jendela seperti ini, jika bukan karena perjodohan itu mana mungkin aku mau lari seperti ini.


 


 


Tanganku gemetar memegangi kain yang kujalin, aku menahan perih di tanganku. Kulihat ke bawah masih sangat jauh untuk sampai di bawah sana. Aku kumpulkan lagi kekuatanku, aku pasti bisa, pasti bisa.


 


 


Hap!


 


 


Aku melompat turun dan menjejal kaki di rerumputan. Syukurlah, akhirnya aku sampai juga di bawah. Sekarang, mau kemana aku malam-malam begini? Tidak peduli apapun, aku mengendap-endap keluar dari gerbang kemudian berlari menuju jalan besar. Sialnya aku tak bawa uang sepeser pun.


 


 


"Aku harus ke mana?" Ucapku lirih.


 


 


Aku diam di pinggir jalan seperti orang asing, melihat kendaraan yang berlalu lalang dengan cepat. Aku kemudian mengingat satu alamat, yah mungkin aku ke rumah Meta saja. Waktu itu dia sempat mengatakan alamatnya padaku. Aku pun berjalan kaki di bawah remang-remang lampu jalan sembari berharap tak ada seorangpun pria nakal yang menggangguku malam ini. Jangan sampai.


 


 


Setengah jam berjalan kaki, aku merasa lelah dan haus. Rumah Meta sudah tak jauh dari sini, dia pernah menyebutkannya padaku. Aku pun berdiri lagi, mengumpulkan sisa-sisa kekuatan yang kupunya. Kemudian aku pun menemukan sebuah rumah yang tak begitu besar berlabel nomor A17, itu pasti rumah Meta. Aku memasuki pintu gerbangnya yang tak terkunci, jalanku mulai terseok-seok menahan lelah. Kuseret kakiku agar bisa menjangkau pintu rumah Meta kemudian dengan pelan megetuk pintu rumah itu berkali-kali.


 


 


Hah ... penglihatanku kenapa berputar-putar? Meta kenapa belum keluar juga, ah salahku karena aku datang selarut ini. Jam berapa sekarang? Saat ketukan tanganku di pintu mulai melemah, kulihat pintu terbuka namun aku tak bisa mempertahankan kesadaranku lagi.


 


 


***


 


 


"Zi ... Zida ... !" Panggil seseorang dengan suara lamat-lamat kudengar. Aku belum sepenuhnya sadar, tapi aku ingat sekarang aku di mana.


 


 


Kubuka mata dengan pelan, aku melihat wajah Meta yang khawatir sedang memangku kepalaku. Aku tersenyum kilas padanya, bibirku seakan kering, tenggorokanku sakit mungkin karena terlalu lama menahan haus.


 


 


"Met ... aku butuh air." Ucapku lirih


 


 


"Bu, minta tolong ambil air!" Pinta Meta kepada seseorang yang dipanggilanya Ibu, mungkin saja ibunya.


 


 


Air minum di gelas yang baru saja disodorkan padaku kini habis kuteguk tak tersisa. Kurasakan tubuhku penuh keringat, Meta bahkan bersedia melap keringat-keringat itu tanpa sungkan.


 


 


"Kamu kabur ya?" tanya Meta.


 


 


"Tentu saja kamu kabur kan? Mana ada cewek berkeliaran malam-malam begini sendirian dan sampai di depan pintu rumah orang lalu pingsan. Untung saja Ibu tidak mengira kau maling, Zi. Kamu tidak tahu betapa paniknya Ibu melihat kamu tergeletak begitu saja di depannya."


 


 


"Maaf Bu, sudah merepotkan." Ucapku sopan.


 


 


"Met, sebaiknya bawa temanmu ke kamar. Kasian, mungkin dia butuh istirahat dia pasti capek karena jalan kaki mencari rumah kita."


 


 


Aku terkejut, dari mana Ibu ini tahu bawha aku jalan kaki mencari alamat rumah Meta? Sungguh sebuah kejutan bagiku.


 


 


"Darimana Ibu tahu?"


 


 


"Kamu pingsan dan tubuh keringat begitu, bukankah itu jelas menunjukkan bahwa kamu sangat kelelahan. Orang naik kendaraan tidak mungkin berkeringat seperti itu."


 


 


 


 


Aku dipapah oleh Meta masuk ke kamarnya. Suasananya sangat nyaman, nuansa kamarnya seperti kamar seorang laki-laki. Bendera inggris, gambar-gambar penyanyi Rock, sangat jauh sekali dari kesan perempuan. Meta membaringkan tubuhku di atas tempat tidurnya. Astaga, aku merasa sungkan apalagi mengingat aku baru saja berkenalan dengan Meta tapi sudah menyusahkan seperti ini. Apa ya kesan Meta padaku?


 


 


"Met, maaf sudah merepotkan kamu dan Ibu kamu."


 


 


"Tidak masalah, kamu tidur saja. Sudah larut malam, sebaiknya kamu istirahat Zi."


 


 


Aku mengangguk, setelah itu Meta membalik badan memunggungiku. Aku berbaring menghadap ke atas langit-langit kamar, aku tidak tahu apakah tindakanku kali ini akan mengubah suatu keadaan atau semakin memperburuknya. Aku kabur dari rumah juga bukan tanpa alasan, percuma aku di sana jika setiap hari hanya dikurung di kamar dan ruang gerak dibatasi.


 


 


Jika pun nanti terjadi sesuatu, aku tidak akan pernah menyesali keputusanku kali ini. Kenapa aku tidak ke rumah Revo, semata-mata karena aku tidak ingin Revo dituduh menculikku. Aku hanya butuh tempat bernaung sebentar untuk memulihkan semua rasa kesal di otakku. Belum pernah aku sekalut ini, jika pun aku merasa kesal aku tidak akan kepikiran untuk pergi dari rumah.


 


 


'Mami aku minta maaf atas tindakanku kali ini,' batinku.


 


 


Tak lama kemudian, mataku terpejam dan akhirnya tertidur.


 


 


***


 


 


Saat terbangun, aku mencium aroma teh sangat menyengat di hidungku. Aku membuka mata pelan, di meja samping tempat tidur Meta sudah ada segelas teh hangat yang asapnya masih mengepul sedikit ke udara. Aku menggosok mataku dan mencari keberadaan Meta yang ternyata tak ada di kamar. Aku duduk seraya mengumpulkan nyawa yang masih belum semuanya berkumpul setelah tidur semalaman.


 


 


Ceklek!


 


 


Pintu terbuka, kulihat Meta masuk membawa satu piring berisi nasi goreng.


 


 


"Kau harus coba nasi goreng buatan Ibuku." Ucap Meta seraya meletakkan piring berisi nasi goreng di atas meja.


 


 


"Kau baik sekali. Terimakasih, Met."


 


 


"Tidak usah merasa sungkan, anggap ini seperti rumah sendiri. Setelah makan, aku akan menginterogasi kamu, kenapa bisa sampai di rumahku yang kecil ini."


 


 


"Dih! Buat apa rumah besar Met, kalau tak ada ketenangan buat penghuninya." Ucapku lirih seakan mengatakan bahwa walau rumah ini kecil tapi bisa terasa akan kehangatan yang tersaji di sini.


 


 


Benar saja, nasi goreng buatan Ibu Meta memang benar-benar nikmat dan enak sekali. Aku tak menyisakan sedikitpun.


 


 


"Enak! Nasi goreng Ibumu enak sekali, Met."


 


 


"Apa kubilang. Nasi goreng Ibuku memang juara. Kamu mandi gih sana!"


 


 


Baru kali ini, begiut akrab dengan orang yang bahkan baru satu kali kutemui di kampus. Itupun hanya pada saat perkenalan itu, dari luar saja orang bisa tebak jika Meta memang orang yang sanga-sangat baik. Meski tampilannya sangat tomboy, tapi dia tidak sombong. Bisa berbaur dengan lingkungan mana saja, itu yang aku tangkap sejak melihat dan mengenal sosok Meta.


 


 


Kehangatan di rumah ini sangat terasa sekali, Ibu Meta sampai bersedia membuatkanku nasi goreng sebagai sarapan. Repot-repot membuatkan teh hangat saat bangun pagi dan aromanya sangat nikmat. Ah, andai saja kengahatan seperti ini masih ada di rumhaku.