FIGHT FOR LOVE

FIGHT FOR LOVE
Part. 35



Ujian kelulusan sebentar lagi tiba, tidak ada waktu untuk bersantai seperti biasanya. Mama dan Papa sangat ketat dalam hal belajar akhir-akhir ini. Walau tidak terlalu memaksa, namun kesannya aku jadi anak tak tahu diuntung kalau sampai gak mau belajar atau gak bisa dapat nilai bagus. Semua fasilitas sudah disediakan, aku mau ini, mau itu yang ada kaitannya dengan sekolah diberi semua. So, ayo belajar lebih keras lagi!


Di sekolah, ikut les sore. Biar saat ujian, tidak terlalu kerepotan menjawab soal. Aku, Revo, Dena, Danu dan hampir semua siswa kelas tiga, ikut les. Bulan depan ujian, artinya kurang lebih satu bulan ini harus persiapan ekstra. Mengurangi jadwal jalan-jalan, apalagi nongkrong tidak jelas.


Kita berempat biasanya belajar bersama lagi di waktu-waktu tertentu, seminggu sekali. Kalau semuanya tidak sibuk, malam Minggu dipakai buat belajar bersama.


"Den, jangan terlalu dekat ya." Ucap Revo. Padahal baru juga duduk dan akan membuka buku paket.


"Ampun, Vo. Baru juga duduk. Pacar kamu ini tidak akan lecet sedikitpun dekat sama aku."


"Bukan gitu, aku cuma gak mau mataku sakit melihat pacarku dekat-dekat orang lain, sementara aku belum bisa."


"Hahaha..., itu si derita kamu, Vo!" Danu tergelak mendengar pengakuan Revo.


"Yang, sudah dong. Ini kapan belajarnya kalau tiap kali ketemu harus bahas jarak mulu."


"Eh iya, maaf Yang. Jangan marah, cantikmu kalah saing nanti sama Dena. Gak sudi aku, Yang."


"Ish, siapa juga yang sudi saingan. Aku sama Zi itu sudah seperti saudara kembar. Kamu tidak lihat apa, betapa miripnya kita berdua. Iyah kan, Zi...!" Dena malah semakin menempel ke aku dan tentu saja mendapatkan protes dari Revo. Lihat saja wajahnya sudah mode mengancam begitu. Hahaha.


"Denaaa..., ishh! Kamu terlalu dekat sama, Zi."


"Haha, Revo santai ah. Aku saja tak cemburu. Kenapa kamu sampai harus kebakaran bulu hidung gitu."


"Hele..., mataku sakit tahu Dan."


"Kapan mulainya si, kita ini?" Ucapku.


"Ya sudah ayo!" Balas Dena dan Danu hampir bersamaan.


"Tunggu dulu!" Sergah Revo, menahan agar Zi jangan membuka buku paket dulu.


"Ada apa lagi si, Yang?"


"Astagaaaa..., Revo!" Pekik Dena.


"Kirain apaan, Yang?"


"Jangan diiket, biarkan terurai."


"Heleh, apaan si, Vo?" Danu mulai ikut jengah.


"Tapi ini gak nyaman sayang, kalau rambut jatuh-jatuh begini."


"Aku suka kok. Wangi samponya bisa kecium sampai sini kalau rambutnya terurai. Hehe."


"Yasaalam, terserah kamu deh Yang. Nih, ambil ikat rambutnya. Ikat di rambut kamu sekalian." Ucapku sebal.


"Haha, bagus ide kamu Zi. Sini Vo, aku bantu ikat di rambutmu."


Revo menyodorkan ikat rambutku ke Danu. Danu sampai harus bertumpu di lutut untuk mendapatkan rambut Revo. Ini si kurang kerjaan namanya. Danu beneran ikat rambut Revo ke atas. Ckckck.


"Hahaha...,.terlihat bagus Vo." Tawa Danu paling keras. Revo terlihat seperti banci jembatan.


"Astaga, Yang! Kamu beneran imut." Ucapku memuji. Padahal sebaliknya.


"Oh kamu suka, Yang. Baiklah akan kupakai sampai kita selesai belajar. Ayo kita mulai belajarnya!"


Aku dan Dena hanya bisa geleng-geleng kepala. Danu malah tak berhenti tertawa seraya menahan perutnya.


Revo itu, entah benar serius atau hanya melucu. Terkadang, kita ngerasa kalau dia bakal marah, atau tidak suka, eh dia malah senang saja. Tapi giliran kita kadang ngeyel, dia malah serius. Huh, susahnya memahamimu Yang.


***


Maaf dikit saja, Mak sibuk banget.