FIGHT FOR LOVE

FIGHT FOR LOVE
Part. 25



*Halo... selamat membaca, maaf jika tak bisa memenuhi keinginan pembaca untuk kreziap soalnya nulis butuh sesuatu yang 'utuh' dalam diri kita agar bisa menjadi tulisan yang gak sekedar tulisan.


Mohon maaf jika mengecewakan. Semoga terhibur. Bantu Author tetap semangat dengan memberikan like, Krisan, dan vote jika mau. Terimakasih.


Happy reading*!


_________________


"Zi...."


"Zi..."


"Zi..."


Suara itu terus memanggil namaku, aku mengenalnya. Itu suara Revo. Aku ingin menjawab tapi kenapa jadi berat begini untuk bersuara?


Aku di mana?


Perlahan aku mendengar keributan. Suara orang berlarian, suara roda berputar cepat. Dan kecemasan.


Aku mengerjap beberapa saat. Samar kulihat wajah Revo yang khawatir. Lalu Dena. Dan beberapa orang berpakaian serba putih. Kemudian kembali gelap.


Beberapa jam kemudian...


"Aku di mana?" ucapku lirih.


Revo berdiri mendekat, loh Mama dan Papa di sini? Orang tua Revo juga? Dena dan juga Danu semuanya berkumpul di sini.


"Kamu bangun sayang? Syukurlah! Mama sempat khawatir. Kamu kehilangan banyak darah. Revo menghubungi Mama, segera Mama dan Papa ke sini. Gimana perasaan kamu?"


Aku diam sebentar berusaha mencerna kalimat Mama. Jadi, karena kejadian di kantin sekolah tadi, aku sampai harus kehilangan banyak darah? Lalu tak sadarkan diri selama beberapa jam. Kok bisa?


Kulihat kedua tanganku di perban dan menancap sebuah jarum infus di sana. Selang infus tersebut terjepit di salah satu jemariku.


"Zi..., kamu kenapa sayang?"


"Ah tidak, aku hanya tidak menyangka bisa separah ini. Maafkan kecerobohan aku ya Ma."


Aku menatap lekat ke arah Mama. Dia hanya mengusap puncak kepalaku penuh sayang.


"Hei, kamu bikin aku khawatir." Ucap Revo lembut.


"Maaf Yang!"


"Zi, gimana kondisi kamu? Aku panik tahu gak." sambung Dena.


"Maaf ya, sudah bikin kalian semua jadi panik."


"Zi, semoga cepat pulih ya." Ucap Danu kemudian dia pamit untuk pulang duluan.


"Eh iya, karena kamu sudah sadar, aku pamit ya. Jaga diri baik-baik." Ucapnya.


"Terimakasih Dan."


Danu hanya menganggukkan kepalanya lalu pergi.


"Maaf, Zi aku juga harus pamit. Tidak apa-apa kan?" ucap Dena.


"Iya De, terimakasih ya."


Dena juga pergi. Sekarang tinggal Revo dan para orang tua.


"Zi, kamu harus lebih hati-hati lain kali. Jangan bertindak cereboh. Itu bisa membahayakan dirimu sendiri nanti." Ucap Mama Revo penuh perhatian.


"Iya Tante. Lain kali lebih hati-hati."


"Ma, aku boleh tidak tinggal lebih lama untuk jaga Zi di sini sampai pulih? Janji tidak akan melanggar aturan apapun. Hehe."


"Lakukanlah sayang! Itu bentuk tanggungjawab kamu terhadap Zi. Tapi kamu pulang mandi dulu, ganti pakaian lalu kembali lagi ke sini. Masa jaga pasien harus pakai seragam sekolah terus. Kan gak lucu."


"Eh iya, belum ganti. Baiklah Zi, aku pulang sebentar ya. Ikut Mama sama Papa, tapi sabar, aku pasti cepat balik lagi. Tenang saja. Anggap saja aku menebus kesalahan karena tidak bisa jaga kamu tadi."


Eh, gitu kan dia. Selalu saja nyalahin diri sendiri. Padahal yang salah kan aku? Aku yang terlalu cereboh. Niat menenangkan malah dapat petaka.


Sejenak kutatap Revo dan tersenyum.


"Terimakasih ya. Aku nunggu kamu di sini."


Dan, keluarga Revo pamit pulang. Setelah melihat kondisiku berangsur membaik. Mama dan Papa berusaha menguatkanku terus di sini.


"Ma, berapa jahitan?" Aku tanya ke Mama.


"Lumayan. Tapi tidak usah khawatir sudah tertangani dengan baik."


"Pa, diam aja?" Sapaku pada Papa yang sedari tadi hanya diam.


"Papa selalu khawatir tentangmu sayang. Papa masih sedikit shock kamu terkapar tak sadarkan diri saat Papa dan Mama tiba di rumah sakit. Papa takut kehilangan anak Papa satu-satunya. Kamu jangan begini lagi lain kali. Kamu bisa ikut membunuh Papa karena khawatir akan keadaan kamu."


"Papa..., maaf!"


Ah, aku jadi sedih melihat raut wajah Papa yang masih tersisa kekhawatiran di sana. Garis wajahnya masih nampak tegang dan tidak rileks. Aku jadi merasa bersalah.


"Mau makan apa ya? Bingung. Buah aja Pa."


"Oke deh. Ini ada apel. Mama yang bukain." Sambung Mama.


Keluarga adalah satu-satunya tempat pulang yang paling menenangkan dan menyejukkan. Aku tidak tahu bagaimana hidupku jika tanpa keluarga. Ya, kedua orangtuaku. Mama dan juga Papa.


Mereka yang telah berjuang melahirkan dan membesarkan aku. Dan sekarang aku sudah membuat mereka khawatir. Jelas sekali jika mereka masih sangat terpukau atas kejadian ini. Apalagi sebelumnya, aku memang belum pernah sakit yang terluka seperti ini.


***


Pukul tujuh malam. Situasi di rumah sakit, tepatnya di kamar rawat inap VIP A003.


Pintu berderit bersamaan dengan suara ceklekan gagang daun pintu. Sebuah wajah asing muncul di sana. Sedang tersenyum ke arahku. Membawa sekeranjang buah dan buket bunga Lily kesukaanku.


Revo.


Aih, dia pakai bawa bunga segala lagi. So sweet banget si.


"Hai sayang, gimana kondisi kamu? Om, Tante." Ucapnya seraya bersalaman dengan kedua orangtuaku.


"Baik. Kamu bawa apa?"


"Buah dan juga bunga kesukaan kamu. Senang?"


"Senang. Aku suka." Jawabku seraya mencium wangi bunga Lily.


"Om dan Tante gak mau pulang dulu? Biar Revo yang jaga Zi."


"Om kamu yang pulang. Besok dia harus ada rapat. Tante yang akan nginap di sini jaga Zi. Kalian ngobrol saja. Tante antar Om ke depan dulu."


Sebelum pergi, Papa cium kening dan kedua pipiku terlebih dahulu. Lembut dan sangat menenangkan. Terimakasih Pa.


Sekarang tinggal aku dan Revo. Aku tahu selepas ini, dia akan menceramahi aku lagi. Aku juga si yang teledor, tidak mempertimbangkan sebesar apa bahaya yang mengancam.


"Bicaralah! Aku tahu kamu mau ngomongkan."


"Kamu buruk sangka deh Yang. Aku tidak akan bicara apapun yang menyakiti perasaan kamu. Sudah cukup kepanikan yang tadi kurasakan. Aku merasa jantungku seperti berhenti. Kamu kenapa pakai acara tidak sadarkan diri?"


"Aku juga tidak tahu. Tiba-tiba semuanya gelap dan aku baru sadar kalau sudah ada di sini. Tapi, makasih ya Yang. Kamu sudah bertindak cepat dan benar karena langsung membawaku ke rumah sakit. Jika tidak, aku tak tahu berapa banyak aku harus kehilangan darahku."


"Kumohon, lain kali jangan jadi pahlawan kesiangan ya. Aku tahu niat kamu tulus, tapi bukan begitu caranya."


"Iyah aku tahu. Aku minta maaf. Lalu gimana siswi tadi?"


"Diamankan pihak sekolah. Sudahlah, jangan bahas itu. Kamu hanya perlu banyak istirahat. Bagaimana tangannya?"


"Sakit. Ngilu gitu."


"Iya. Kudengar dokter bilang lukanya cukup dalam. Makanya harus dijahit. Butuh pemulihan untuk itu. Jadi, kamu jangan bandel lagi."


"Siap."


Suasana hening lagi.


Revo hanya menatapku. Aku juga menatapnya. Tanpa suara.


Dan___


"Aku takut kehilangan kamu."


Heh? Kenapa dia jadi ngomong melow begini? Apa yang terjadi? Padahal tadi baik-baik saja.


"Saat aku menggendongmu berlari untuk mendapatkan pertolongan, saat itu juga aku sadar, aku telah melanggar peraturan. Kurasa, itu pengecualian karena darurat. Tapi setalah kupikir lagi, tetap saja aku telah melanggar karena ada kontak fisik. Ke depannya aku tidak tahu apa yang harus kulakukan jika kamu seperti ini lagi. Jadi tolong, jangan bikin aku melanggar perjanjian yang sudah kita sepakati."


"Revo..., kenapa jadi melow begini? Orangtua kita pasti mengerti kok. Dan mereka mendukung apa yang sudah kamu lakukan. Kamu sudah menyelamatkan nyawaku. Jangan terlalu dipikirkan."


"Tapi Zi__


"Tante tidak marah Revo, mana mungkin Tante marah. Kamu sudah melakukan yang terbaik untuk menolong Zi. Jika tidak, Tante tidak tahu apa yang akan terjadi." Ucap Mama yang saat itu baru saja masuk ke dalam ruanganku.


"Eh Tante. Revo minta maaf ya Tante."


"Jangan begitu. Tante yang terimakasih, kamu sudah menjaga Zi dengan baik. Tante senang dia jadi pacar kamu."


"Terimakasih Tante. Ke depannya, aku tidak akan membiarkan dia melakukan hal bodoh lagi."


"Dih, senang ya dapat dukungan dari Mama. Hehe."


"Tentu Yang."


***


*Ah, aku bahagia punya keluarga yang sangat perhatian. Juga ada sahabat dan terutama ada Revo yang meskipun kadang menyebalkan tapi tetap saja dia juga baik banget. Hehe.


-----------------


Sampai jumpa di part selanjutnya*.