FIGHT FOR LOVE

FIGHT FOR LOVE
Part. 50



Aku senang dong akhirnya bisa menjalin hubungan lagi dengan Revo. Mulanya kukira hubunganku akan berakhir kurang menyenangkan. Apalagi dengan adanya insiden di kedai Eksrim. Kalian tahu kan betapa kesalnya aku pada si ratu lebah Yuna itu. Gara-gara cewek itu, mood-ku hancur selama seharian. Untung saja semua kembali normal sekarang dan aku bisa bersama Revo lagi. Ahhh..., senangnya!


"Senyum-senyum sendiri kayak orang gila, kesambet ya?" Romi tiba-tiba saja datang merusak suasana.


"Ini lagi satu pengganggu datang gak diundang pulang gak diantar."


"Memangnya aku jelangkung? Ngapain si kalian tadi? Ribut banget."


"Protes aja. Ini gak ada hubungannya sama sekali dengan kamu jadi gak usah kepo..."


"Ishh nyebelin."


Kebetulan saat kemunculan Romi, Revo dan keluarganya sudah pulang. Jadi Revo tidak ada acara curigation bin ngambek dan marah-marahan lagi. Syukur banget.


Aku naik ke lantai atas dan meninggalkan Romi sendirian di ruang keluarga. Biarin saja, siapa suruh suka jadi tukang rusuh. Haha.


***


Keesokan harinya tepat di hari senin, aku pamit ke Mama pagi-pagi untuk ke kampus X pilihanku mendaftar.


"Ma, jalan dulu ya." Pamitku pada Mama.


"Beneran mau berangkat ke sana sendirian? Daftarnya kan bisa online Zi, kenapa kesana segala?"


"Ya kan sekalian bisa lihat-lihat kampusnya, Ma. Lagipula ke sana gak sendiri."


Lalu suara klakson tiba-tiba menyela obrolan aku dan Mama.


"Tuh orangnya sudah datang. Aku berangkat dulu ya, Ma."


"Terus Romi gimana?"


"Dia udah gede, Ma. Dia pasti bisa urus diri sendiri. Hehe. Bye Ma..."


Aku pun segera keluar menemui Revo. Mataku berbinar ketika melihat dia datang dengan potongan rambut baru. Kelihatan lebih segar dan emm... tentu saja makin cakep. Hhee.


"Wow..., rambut baru Yang?" Sapaku begitu berada dekat dengannya.


"Yang..., kok baju kamu warnanya gitu?"


Bukannya menjawab pertanyaanku, dia malah protes sama warna bajuku. Kebiasaan deh. Hhh.


"Ada apa emang?"


"Itu warnanya tidak terlalu terang?"


Kebetulan hari itu aku pakai baju warna merah cabe. Ya iya sih benar, jika siang dan panas matahari bakalan silau banget. Cuma aku nyaman kok pakai baju ini, kenapa dia tidak suka si?


"Nggak kok. Aku suka. Aku nyaman."


"Ganti."


Haishh! Satu kata tapi bikin mood-ku berubah total detik itu juga.


"Masa ganti? Udah siang ini, Yang. Nanti gak keburu."


"Salah sendiri, kenapa mesti pakai baju warna ngejreng kayak gitu. Aku berasa jalan sama pedagang mainan coba."


"Dih, kok gitu si. Jadi ganti nih?"


"Ganti."


Dengan malas aku masuk lagi ke dalam rumah. Mama yang sedang masak di dapur jadi terkejut melihatku tiba-tiba ada di rumah.


"Loh, gak jadi pergi?" Tanya Mama yang sedang memotong sayuran.


"Jadi. Mau ganti baju." Jawabku dengan nada malas.


"Bajunya kenapa ganti? Kotor?"


Seketika tawa Mama pecah di dapur. Dengan sebal aku menaiki anak tangga menuju kamar untuk berganti baju. Baru mau masuk kamar, sudah dihadang sama Romi yang saat itu keluar dari kamarnya tanpa rasa malu dengan hanya menggunakan handuk menutupi tubuh bagian bawahnya.


"Astaga...!" Ucapku seraya menutup mata dengan cepat.


"Apa si?" Protes Romi.


"Itu..."


"Itu apa?"


"Itu..., ah bisa-bisanya kamu keluar kamar cuma pakai handuk begitu si."


"Kan tadi tidak ada orang. Kupikir kamu sudah pergi dari tadi. Salah kamu sendiri kenapa tiba-tiba muncul."


"Kok jadi salah aku si."


"Salah kamu lah. Buruan sana..., Gak dengar orang di bawah itu sudah klakson klakson tidak jelas."


Astaga..., aku jadi lupa mau ngaapain tadi. Revo pasti sudah tidak sabaran menunggu. Ini ngapain juga meladeni orang eror kayak Romi barusan.


Dengan cepat aku masuk kamar dan mencari warna baju yang lebih soft. Biar pas Revo lihat, dia tidak bilang 'mataku sakit' lagi. Kebiasaan dia tuh kalau tidak suka apapun yang kukenakan dia akan bilang 'mataku sakit.'


Akhirnya ketemu baju berwarna abu-abu yang tidak terlalu gelap atau terlalu terang juga. Warna itu menjadi pilihanku. Semoga saja Revo tidak protes lagi setelah turun ke bawah.


Aku pun bergegas turun ke lantai bawah dan pamit untuk kedua kalinya ke Mama.


"Hah...!" Desahku membuang dan mengatur nafas. "Ini gimana?"


"Lumayan. Setidaknya yang ini tidak terlalu menyakiti mata jika dilihat."


Tuh kan benar. Dia pasti protes bilang sakit mata. Sudah kuduga. Hhh. Untunglah dia gak protes lagi. Soalnya capek harus lari-larian lagi naik turun tangga.


"Nih, pakai helmnya. Buruan naik!" Perintah Revo.


Dengan cepat aku menuruti apa katanya dan seketika aku sudah berada di belakang dia.


"Pegangan jangan?" Tanyanya ngetes.


"Jangan. Belum boleh kata Mama."


"Ya sudah jangan."


Hihi. Wajah dia pasti sedang cemberut sekarang. Aku tahu benar bagaimana wajahnya akan merengut kayak anak kecil tidak dikasih permen. Haha.


Aku senyum-senyum sendiri di belakang Revo. Angin membelai rambutku pagi itu, terasa dingin menyentuh pori-pori kulit. Dengan pelan, kutelusupkan kedua tanganku di pinggangnya. Aku masih malu-malu dan sebenarnya tidak terbiasa. Tapi aku mencoba memberikan kejutan padanya.


Kulihat dari spion motornya, dia tersenyum kecil. Mata kami sempat beradu beberapa detik di kaca spion yang kemudian aku menampik seraya mengedarkan pandangan ke tempat lain dengan perasaan malu-malu. Haha.


Tanganku masih melingkar di pinggangnya. Terasa hangat dan juga mendebarkan. Ini yang pertama kalinya untukku. Ah, kok aku merasa jadi seperti orang yang baru saja jatuh cinta ya. Hehe. Malu.


Motor melaju pelan. Membawa hatiku yang bergetar syahdu. Rasa hangat yang menyatu dan debar jantung yang kian cepat. Ah, betapa hari ini sungguh menyenangkan. Kueratkan pegangan di pinggang Revo, salah satu tangannya terasa dingin menyentuh jemariku. Seperti ada aliran listrik melesak masuk menembus serambi hatiku. Ya Tuhan, apakah aku berlebihan sekarang?


*Rasanya seperti letupan balon, dadaku terbuka sekaligus bergetar. Jatuh cinta. Apakah ini namanya jatuh cinta? Puluhan kupu-kupu seperti menari dan menggelitik perutku. Aku ingin mules namun rasanya bahagia...


Ah, Terimakasih Tuhan untuk perasaan yang indah ini. Entah mengapa, aku merasa menjadi lebih kanak-kanak sekaligus menjadi dewasa secara bersamaan. Rasa ini, kuharap tak pernah berubah. Hingga nantinya, Tuhan menjodohkan aku denganmu*.


Perjalanan terasa lebih lamban tapi aku menyukainya. Aku tak peduli lagi dengan angin pagi yang dingin menelusup kulit leher dan tanganku. Aku menikmati perjalanan ini, dengan perasaan berbunga dan membuncah. Tak pernah sebelumnya, aku merasa sebahagia ini, meski berulang kali telah diboncengi Revo.


Kuharap hari ini akan terus diingat olehnya. Sebagai kenangan terindah dalam episode perjalanan hidupnya.


*


*


*


Maaf yah kali ini updatenya terasa lambat. Karena harus update tiga novel sekaligus jadi cukup menguras pikiran dan hati. Apalagi genrenya beda-beda semua. Hehe. Jadi supaya Mak tetap semangat menulis, jangan lupa like dan komen sebanyak-banyaknya ya. Oh iya, vote dan rate bintang limanya juga sangat sangat Mak butuhkan sebagai penyemangat. Terimakasih.