FIGHT FOR LOVE

FIGHT FOR LOVE
Part. 34



Diberi Handphone baru.


"Zi...!" Panggil Mama dari lantai bawah.


"Ya, Ma. Tunggu sebentar."


Tak lama kemudian aku menuruni anak tangga satu persatu.


"Ada apa, Ma?"


"Nih!"


Apa ini? Kok seperti handphone ya?


"Mah, apa ini?"


"Buka saja."


Aku segera membukanya karena tak sabar. Mataku melotot begitu melihat isinya. Handphone merek iPhone paling terbaru.


"Kyaahh..., Ma ini serius?" Wajahku sampai sumringah karena melihat hadiah tersebut.


"Serius. Mumpung Mama sama Papa kamu lagi baik. Hehe. Itu hadiah ulang tahun kamu yang beberapa hari lagi akan datang. Belajar yang rajin sayang, sebentar lagi kamu ujian kelulusan."


"Aaaa..., Mama. Terimakasih ya." Aku memeluk Mama penuh kasih.


***


Aku mencari kontak Dena dan Revo di buku catatan telpon. Lalu memindahkannya ke ponsel milikku. Aku kerjain aja deh.


Memanggil....


Begitu tulisan di layar ponsel tersebut. Tak lama kemudian tulisan memanggil itu berubah menjadi terhubung.


Kok aku jadi gugup begini si? Padahal aku yang mau ngerjain. Haha.


"Halo." Terdengar suara di sebrang telpon.


Aku cekikikan sendiri mendengar suara Revo yang berat dan seperti tidak suka dengan adanya telpon tersebut.


"Halo...!" Nadanya mulai tak sabar. Aku makin senang dibuatnya.


"Halo..., dengan Kaki Revo?" Jawabku dibuat semanis mungkin.


"Iya, ini siapa? Jangan menggangguku, pacarku akan marah." Revo semakin tak sabaran.


"Pacar kakak kan tidak tahu, kalau aku menelpon kakak."


"Kalau kamu hanya untuk sekedar berbasa basi seperti ini, cari orang lain saja. Aku tidak suka bermain-main."


Tuuutt....


Sambungan telpon terputus. Rupanya Revo sangat kesal. Tapi aku senang sekali karena jadi tahu perasaan dia yang sesungguhnya. Sejauh ini si, dia setia. Hehe.


Aku menelpon nomor Revo kembali. Lama berdering namun tak diangkat. Beberapa kali kutelpon lagi tapi diabaikan. Malah aku yang kesal sendiri dibuatnya. Akhirnya kuputuskan untuk mengirimkan pesan singkat.


"Sayang, ini Zi."


Pesan terkirim. Aku tunggu balasan atau telpon dari dia tidak juga datang. Lalu kutelpon lagi, nomornya malah tidak aktif. Huhu. Niat mau ngerjain malah aku yang dikerjain begini si.


Kapok.


Aku lalu menghubungi Dena, saat panggilan mulai berdering dan tersambung. Suara malas Dena mulai terdengar.


"Halo..., dengan siapa?"


"Hayoo tebak!"


"Lagi malas main tebak-tebakan, langsung saja. Kamu mau bicara apa?" Nada suaranya malah terdengar jutek.


Sepertinya bahkan Dena juga tak mengenaliku. Apa karena dia masih tak kepikiran bahwa aku akan menelpon dia ya?


"De..., kamu tidur?"


"Zi...? Ini kamu?" Suaranya mulai terdengar tertarik mendengar suaraku lagi. Haha.


"Bukan. Kuntilanak. Hahaha."


"Issh, pakai hape siapa kamu?"


"Hape sendiri dong. Memangnya tidak boleh?"


"Emang sudah bisa?"


"Hehehe, aku saja terkejut. Mama ngasih ini barusan, katanya hadiah ulang tahun aku yang beberapa hari lagi."


"Woahh..., senangnya! Kita jadi bisa ngobrol dan chating lebih lama dong. Aaaakk..., aku senang sekali."


"Hahaha, biasa saja kali De, responnya. Gak usah pakai jingkrak-jingkrak segala."


"Aku habis ngerjain Revo. Pura-pura jadi adem kelas yang ingin kenalan. Kupikir akan ketahuan, eh dia malah gak mau ambil pusing. Sudah begitu, aku kirim pesan ngomong yang sebenarnya malah tak ada jawaban. Kutelpon lagi nomornya sudah tidak aktif. Ini aku yang ngerjain, apa aku yang dikerjain si?"


"Hahahaha, rasain! Makanya jangan suka ngerjain orang segala deh. Kalau kamu melakukannya ke Revo, kamu salah besar. Dia mana mau tergoda cewek lain. Dunia dia tuh, cuma ada kamu, Zi."


"Halah, kamu berlebihan De. Ya sudah, aku tutup dulu ya. Sudah ngantuk."


"Oke, bye Zi!"


"Bye...!"


***


Keesokan harinya, aku berangkat sekolah ikut Mama. Revo tidak menjemput, katanya akan sedikit telat karena ada urusan mendadak. Entah urusan apa, baru kali ini dia menjadi seperti itu. Biasanya masih pagi buta sudah parkir depan rumah.


"Revo tidak jemput kamu, Zi?"


"Tidak Ma, katanya ada urusan."


"Oh, gimana hape barunya?"


"Bagus. Aku senang sekali akhirnya bisa punya hape Ma. Hehe, makasih ya Ma, Pa."


"Sama-sama, pergunakan hapenya dengan baik. Jangan dipakai buat macam-macam. Misalnya nonton film yang tidak sesuai usia kamu, atau berselancar di media sosial terlalu sering. Kamu harus bisa membatasi diri kamu sendiri, Zi." Ucap Papa memberi nasehat.


"Benar kata Papamu, Zi. Kami orang tua hanya bisa mengingatkan dan memantau sebisanya. Tapi semua tergantung kamu, Zi. Walau Mama dan Papa sudah mengingatkan, namun kamu tetap melakukan hal-hal di luar batasan kamu, maka Mama atau Papa juga tidak bisa berbuat apa-apa. Jadi bijaklah menggunakan kepercayaan Mama dan Papa ke kamu."


"Baik, Ma, Pa. Terimakasih untuk semua nasihatnya. Zi, tidak akan mengecewakan Mama dan Papa."


Suasana kembali hening di dalam mobil. Hanya ada suara lalu lalang kendaraan di sekitar. Tak lama setelah itu, aku sampai di sekolah. Turun dari mobil setelah mencium punggung tangan Mama dan Papa.


***


Aku masuk pintu gerbang sekolah, kuarahkan pandangan menuju parkiran. Motor Revo belum ada di sana. Artinya benar dia ada urusan yang harus diselesaikan. Semoga saja anak itu tak terlambat hingga pagar ditutup.


Dengan langkah santai, aku berjalan menuju kelas. Beberapa siswa tampak mondar mandir dan saling bercengkrama. Siswa laki-laki tampak berkumpul di lapangan, ada yang main bola, ada juga yang sedang main basket.


Aku masuk kelas dan sudah ada beberapa siswa yang saling ngobrol satu sama lain. Aku sendiri langsung mengambil tempat duduk dan menyimpan tas di atas meja. Kubuka tas dan mengeluarkan beberapa buku pelajaran. Aku mengecek lagi tugas pekerjaan rumah yang semalam kukerjakan.


Beberapa menit kemudian, Dena datang bersama Danu. Mereka tampak serasi dan lengket setiap harinya.


"Woah..., pasangan teranyar kita sudah datang." Sapaku.


"Eits, siswa teladan kita sudah duduk bersama buku saja nih. Wajar Zi, kamu dijuluki ratu sekolah. Sudah cantik, rajin, pintar, dan disayangi guru." Jawab Dena menggoda.


"Danu, kamu pelet Dena ya?" Tanyaku berbalik ke arah Danu.


"Ealah, Zi. Maksud kamu apa coba?"


"Kok kelihatannya dia makin lengket si sama kamu. Jangan-jangan kamu pelet lagi sahabatku satu-satunya ini. Haha."


"Iyah aku pakai pelet. Kukasih minyak tokek, biar makin lengket sama aku, Zi. Puas kamu?"


"Haha, Yang. Dari mana kamu dapat pengetahuan kalau minyak tokek bisa mendekatkan dua manusia? Haha, ada-ada saja ih."


"Dari dengar orang-orang bilang begitu, Yang. Hehe."


Sesaat kemudian, Revo muncul dari arah pintu. Tersenyum pasti dan melangkah ke arahku.


"Yang, sorry, aku tidak jemput kamu. Hehe."


"Tidak apa-apa. Kamu kenapa nyuekin aku semalam?"


"Nyuekin gimana? Memangnya kamu ngapain semalam?"


"Aku telpon kamu, Yang."


"Gak ada tuh."


"Itu yang ngaku sebagai adek kelas kamu, Vo."


"Yassalam, mana kutahu Yang. Lagian niat banget ngerjain orang. Tapi aku sama sekali tak akan tergoda ya. Aku ini cowok tipe setia, tidak bisa dengan sekali gombal langsung luluh. Huh...!" Jawabnya sombong. Haha


"Iya, gak mempan dikerjain." Ucapku mendesah.


"De, pinggiran dikit duduknya." Lanjut Revo mendelik ke arah Dena.


"Memangnya kenapa?"


"Kamu terlalu dekat dengan Zi. Jaga jarak!"


"Yassalam, jiwa posesif pacar kamu kambuh, Zi. Haha." Dena langsung bergeser dan merapat ke tembok.


Aku melihatnya hanya bisa tertawa melihat ekspresi Dena yang sengaja dibuat agar seperti orang teraniaya. Haha.


***


SELAMAT MENJALANKAN IBADAH PUASA GAES. SEMOGA LANCAR SAMPAI BUKA. AAMIIN