
Aku mulai bosan di rumah sakit. Cuma bisa tiduran atau duduk sekedarnya. Untung saja punya pacar yang selalu setia menemani. Juga sahabat yang meski datang menghancurkan suasana, tapi membuatku bisa tertawa lebar.
"Ke mana pacar posesifmu, Zi?" Tanya Dena.
"Paling bentar lagi muncul batang hidungnya." Jawabku asal, tapi aku merasa ada yang berbeda dari Dena dan Danu. Kenapa mereka datang berdua? Bareng pula. Jangan... jangan...
Demi mengobati rasa penasaranku, aku menodong Dena secara langsung.
"Ngomong-ngomong, kalian kenapa barengan datangnya? Ini aneh. Kalian kan Tom dan Jerry." Ucapku penuh selidik.
Mereka malah saling menatap lagi, bikin gemas tahu ih.
Duh, ketahuan Zi lagi. Iyah juga ya kenapa aku mesti datang bareng Danu.
"Hayoo Loh, kalian ada apa?"
"Aku berhasil menaklukkan hatinya Zi." Jawab Danu kemudian.
Sontak membuat mataku terbelalak dan saking gembiranya aku malah menggunakan kedua tanganku mengguncang bahu Dena. Al hasil, aku meringis kesakitan, lupa kalau tanganku belum sembuh. Arhhhh... sakit.
"Iihh... kapan? Kenapa aku baru tahu?"
"Baru saja." Jawab Danu.
Yang ngeselin adalah Dena yang cuma diam tersipu malu. Pipinya memerah bak kepiting rebus. Menjengkolkan. Eh menjengkelkan.
"Senyum kamu mencurigakan De, jahat benar gak ngasih tahu aku."
"Ini baru mau ngasih tahu, Zi." Jawab Dena masih dengan senyum yang disamarkan.
"Kamu juga Danu, cepet banget si menaklukkan hati singa betina ini."
"Singa betina? Siapa singa betina?" Ucap Dena protes.
"Kamu singa betina. Wkwkw."
"Ishh..., dasar aneh. Sama kayak pacar kamu tu."
Tiba-tiba pintu terbuka, dan dari luar muncullah Revo dengan senyumnya.
"Yang sini deh, ada yang baru jadian."
"Siapa?" Tanya Revo penasaran dan duduk di sisiku di tempat tidur.
"Tuh, mereka berdua katanya baru jadian. Hebat ya. Kamu gak pernah lihat mereka berdua di sekolah Yang? Kok bisa kamu gak tahu?"
"Kapan jadiannya?" Tanya Revo lagi.
"Baru saja Vo, hebat kan aku?" Jawab Danu songong.
"Baguslah! Jadi aku tidak perlu cemburu lagi sama kamu. Tapi tetap berlaku, jangan sentuh Zi. Dia pacarku, dia milikku."
"Etdahh, waktu itu cuma gak sengaja. Refleks Vo. Pake dibahas lagi."
"Iyah itu peringatan buat kamu. Berlaku juga buat Dena."
"Lah kok aku? Eh iya, iya, gak akan aku sentuh Zi. Ampun dah, punya pacar posesif gini, mungkin aku sudah tenggelamin di laut selatan."
"Untung aku gak pacarin kamu De." Jawab Revo. Yang mengundang gelak tawa semua orang.
"Hati-hati sama singa betina ini Dan. Dia bisa saja menenggelamkan kamu di laut selatan." Ucap Revo seraya bergidik ngeri dan malah membuat mereka semua tertawa lagi.
Suasana seperti ini sungguh menyenangkan. Akhirnya Dena dan Danu jadian juga. Walaupun belum tahu pasti, gimana kronologi mereka sampai bisa jadian. Penasaran. Pasalnya, Dena itu kan orangnya galak, gak suka kalau ada yang deketin dia. Suka parno-an sama cowok semenjak dia patah hati sama pacarnya yang pertama.
Baguslah, sekarang dia sudah mau membuka hati. Apalagi untuk Danu, artinya Danu cukup bisa menyentuh hatinya yang seperti singa betina galak itu. wkwkww.
"Zi, kita berdua pamit pulang dulu ya. Ada urusan lain." Ucap Dena.
"Mau kencan ya kalian? Aihh..., kalah kita Yang." Jawabku seraya bermanja pada Revo.
"Kalian kan bisa kencan di rumah sakit. Wkwkww." Samber Danu.
"Eh iya bener tuh. Kalian pulang sana, aku mau berduaan dulu sama Yayangku. Sayang kan kalau diganggu sama kalian." Ucap Revo cepat.
Akhirnya mereka berdua pulang dan meninggalkan aku yang hanya ditemani Revo seorang.
***