
"Mami, kan biasanya Revo juga yang antar jemput aku selama ini? Kenapa sekarang Mami jadi suruh Romi yang melakukan itu?" Protesku saat tahu Mami melarangku diantar jemput oleh Revo. Tapi justru membiarkan Romi yang melakukannya.
"Zi, please turuti apa kata Mami. Ke depannya kamu dan Revo tidak boleh terlalu akrab." Mami terlihat serius dengan ucapannya.
Ada apa sama Mami dan Papi sebenarnya? Batinku, aku mengira sesuatu telah terjadi. Apa hubungan persahabatan mereka retak atau gimana?
Aku pun akhirnya menuruti permintaan Mami. Romi tersenyum puas seakan mengejekku sekarang.
"Yang, tidak usah jemput ya, aku berangkat ke kampus bersama Romi."
"Tumben, tidak biasanya Yank?"
"Aku juga tidak mengerti jalan pikiran Mami sama Papi. Setelah sampai di kampus, aku akan ceritakan semuanya."
"Baik, Yank. Teleponnya aku tutup dulu."
BIP ... BIP ... BIP ...
Suara klakson mobil Romi meraung-raung di depan rumah. Membuat darahku semakin mendidih rasanya.
"Cepat masuk, lama amat si." Protesnya.
Aku membuka pintu mobilnya dengan malas.
"Aku bukan supirmu ya, duduk di depan sini." Perintahnya.
"Tidak, aku di belakang." Bantahku.
"Pindah atau aku adukan kamu ke Mamimu."
"Nyebelin ya."
Aku membuka pintu dengan kasar dan menutupnya dengan keras setelah berpindah tempat duduk.
Romi menyeringai, wajahnya sangat menakutkan. Beda sekali dengan kedatangannya pertama kali, terlihat polos, penggila game online, sekarang dia sangat-sangat menyebalkan.
Mobil yang dikendarai Romi meninggalkan parkiran rumah menuju jalan besar.
"Pelan-pelan, dong." Protesku saat dia menyalip kendaraan di depannya dengan kecepatan tinggi.
"Ini hanya kecepatan 100km/jam Zi. Ada apa denganmu? Rileks sedikit, agar kamu bisa menikmati perjalanan denganku kali ini."
"Romi, pelankan mobilnya atau aku melompat keluar dari mobil." Ancamku
Dia sama sekali tidak menghiraukan ucapanku, aku sudah menarik tuas pintu mobilnya dan dia pun menurunkan kecepatannya.
Gilak!
"Kamu itu sinting atau bagaimana si? Kalau kita celaka gimana?"
"Buktinya kita tidak kenapa-kenapa kok, kenapa jadi parnoan gini?"
"Tidak apa-apa bukan berarti tidak akan terjadi. Kita cuma beruntung saja, jangan takabbur!"
"Tidak usah ceramah, Zi. Lama-lama kamu kayak ustazah." Sungutnya.
Berapa lama kemudian, kita pun sampai di gerbang kampus. Kulihat Revo sudah menunggu di sana, duduk di atas jok motornya.
Aku segera turun, namun tanganku justru ditahan oleh Romi. "Ingat untuk pulang denganku."
Revo melihat semuanya, dia pun memalingkan wajahnya sejenak. Tampangnya sangat tidak sedap di pandang mata.
"Sudah lama?" tanyaku seraya mendekatinya.
"Lumayan."
"Cari tempat untuk ngobrol yuk."
Kita pun berjalan ke arah perpustakaan kampus. Di sana ada taman kecil untuk sekedar baca buku dan ngobrol santai.
Aku duduk di salah satu tempat duduk yang terbuat dari batu. Revo duduk di sampingku, menunggu aku untuk bicara. Dia banyak diam, kulihat wajahnya masih murung.
"Ada apa?" Tanyanya kemudian
"Mami melarangku untuk terlalu sering bertemu denganmu. Aku tidak tahu apa yang salah dari hubungan kita, sampai Mami dan papi seakan memberi jarak untuk hubungan kita."
"Maksud kamu, Romi?"
"Iya."
"Tapi kenapa?"
"Ya mana aku tahu, kamu coba saja tanya ke orang tua kamu."
"Apa hubungan Mami dan Papiku baik-baik saja dengan Mama dan Papamu? Kok aku merasa semuanya saling berkaitan."
"Nanti biar aku tanya sendiri ke Mama dan Papa."
"Jadi mulai sekarang yang antar jemput kamu dari dan ke kampus adalah cowok itu?"
Aku diam sesaat. "Yah, sepertinya begitu. Meski aku menolak, Mami terus memaksa. Romi itu tukang ngadu, apapun yang aku lakukan dan ada hubungannya denganmu pasti dilaporin ke Mami."
"Jangan-jangan kalian sudah dijodohkan."
Mataku membelalak. Bisa-bisanya Revo memiliki pemikiran seperti itu. Aku saja tidak pernah membayangkan hal seperti itu.
"Dih, kenapa kamu jadi ngomong begitu si? Memangnya kamu mau aku dijodohkan sama Romi?"
Kulihat Revo menarik nafas panjang dan berat. "Tidak ada yang bisa merebut kamu dariku, Zi. Apapun yang terjadi, aku sudah niatkan dalam hati bahwa aku hanya akan mau menikah denganmu."
Sekarang giliran aku yang dibikin diam olehnya.
Revo memegang kedua bahuku untuk menghadap padanya. "Lihat mataku, apa aku berbohong dengan setiap ucapanku, Zi? Apapun yang terjadi kamu harus ingat, bahwa tak ada yang boleh memisahkan kita, kecuali kematian."
Mendengar Revo berbicara seperti itu, aku jadi merinding membayangkannya. Apa iya Revo akan berkorban sampai sejauh itu? Tidak, tidak ada yang boleh berkorban lebih banyak dari yang lain.
Mencintai itu adalah bagaimana saling mengisi, bukan masalah sebanyak apa kita sudah berkorban. Tapi sekuat apa kita mempertahankan hubungan yang sudah terjalin. Tak ada alasan bagiku untuk berpisah dari Revo, sejak awal dia adalah lelaki pertama yang kuharap menjadi terakhir di masa depanku.
Aku tersenyum ke arah Revo, dia juga mengulas senyumnya yang selalu membuat nyaman itu.
"Terimakasih, kamu selalu ada untukku sejauh ini."
"Kamu ibarat ratu di hatiku, tak akan ke mana-mana bahkan ketika aku mati sekalipun. Tetap hanya namamu yang abadi di sini, percaya itu Zi."
Aku mengangguk senang.
Tak kusangka ada yang memotret kami saat Revo memegang tanganku. Aku melihatnya, meski dia pergi begitu cepat, tapi aku tahu siapa dia.
Revo dan aku berpisah untuk ke kelas masing-masing.
Sampai di kelas entah kenapa aku kepikiran dengan kata-kata Revo tadi. 'Jangan-jangan kalian dijodohkan' Aku takut jika hal itu malah menjadi kenyataan. Apa yang akan terjadi dengan hubunganku dan Revo nanti?
Saat merenung, aku dikejutkan dengan kehadiran seseorang yang tak sengaja menabrak kursiku.
"Maaf ... maaf ..." ucapnya seraya meminta maaf.
"Tidak masalah, silakan lewat. Hati-hati." Kataku.
"Ah iya, sekalian aja kita kenalan yuk! Aku Meta."
"Zi ..." Jawabku.
"Kamu di kelas ini juga?"
"Iyah. Kamu juga?"
"Iyah. Kamu teman pertamaku di sini. Hehe." Ucapnya dengan cengiran yang terasa lucu bagiku. Sepertinta dia orang baik dan anaknya juga asik. Ramah banget langsung nyapa aku.
"Sama. Kamu adalah teman pertamaku di kelas ini."
Kita berdua pun bersalaman.
Lalu obrolan terjadi hingga kita berdua menjadi akrab satu sama lain. Meta masuk jurusan Sastra Indonesia karena terpaksa katanya, orang tuanya ingin dia jadi penyair. Haha.
Perkenalan kami hari itu terasa sangat dekat, padahal baru bertemu dan baru kenalan beberapa menit lalu. Namun bisa saling mengakrabkan diri satu sama lain. Meta ini anaknya tomboy, dari penampilannya saja terlihat. Celana jeans belel dan juga kaos kegedean. Kalau dari penampilan sepertinya dia menyukai jenis musik Punk Rock. Itu kesan yang kudapat darinya.
"Ah iya Zi, kapan-kapan kita jalan bareng ya. Aku di kota ini baru, itu juga karena orang tuaku pindah karena alasan kerja."
"Boleh deh. Minta kontak kamu ya."
Kita berdua pun saling tukaran kontak dan hari pertama kuliah terasa sangat menyenangkan.