
Aku masih di kamar. Jam sudah menunjukkan pukul 12 siang. Tidak keluar-keluar kamar sejak tadi pagi. Hanya meminta Bibi agar membawakan makanan ke kamar. Dan karena itulah, aku mesti kena marah dari Mama.
"Kamu apa-apaan si, Zi? Masa nyuruh Bibi bawain makanan masuk ke kamar kamu. Memangnya kenapa bukan kamu sendiri yang ambil? Kamu sakit? Kamu gak bisa jalan? Mama gak pernah loh, ajarin kamu jadi pemalas seperti ini."
Aku cuma diam menerima omelan Mama, oke aku salah. Tapi apa aku hanya malah bergerak. Aku masih bete karena peristiwa kemarin.
"Ma, bukan begitu. Zi, lagi malas buat keluar. Zi, sedang..., aish sudahlah lupakan saja. Maafin Zi, Ma. Janji tidak akan mengulanginya lagi."
Aku mengalah, sedang tidak ingin mendebat Mama. Dia akan semakin marah nantinya.
Hah!
Kuhela nafas dengan berat. Aku merasa kepalaku pusing. Ini semua gara-gara Revo. Aku benci dia.
Drrtt...
Drrtt...
Drrtt...
Ponselku bergetar, dia tergolek pasrah di atas kasur tepat di samping kakiku. Aku meraih benda berbentuk persegi panjang itu. Melihat nama siapa yang tertera.
Oh, rupanya dia.
"Halo...!"
"Suaranya kok gitu, Yang?"
"Gitu gimana?"
"Kamu masih marah?"
"Menurut kamu?"
"Ya sudah, aku tutup lagi kalau kamu masih marah."
Klik.
Sambungan telepon terputus. Issh..., ingin rasanya kubanting hape. Maksudnya apa coba kayak gitu? Ku cari nama dia di daftar kontak. Aku hubungi balik.
Tersambung.
"Kenapa dimatiin?" Aku langsung nge-gas tanpa menunggu dia berbicara lebih dulu.
"Ya kamu masih marah. Percuma Yang kita bicara, kalau kamu masih emosi, masih marah-marah. Itu tidak akan menghasilkan apa-apa. Buntutnya pasti kita ribut lagi. Aku akan menghubungi kamu, jika kamu tidak marah lagi."
"Eit, tunggu jangan main matiin aja si. Kan aku yang telpon."
"Yang, dengerin aku. Kamu itu meledak-ledak belakangan ini. Kamu ingat kemarin kan? Aku bahkan harus meminta maaf berkali-kali pada Robby atas ketidaknyamanan yang terjadi. Kamu datang ke tempat orang langsung marah tidak jelas seperti itu, aku malu Yang."
"..." Aku diam dengerin omongan dia.
"Lagi pula jika kamu percaya sama aku, percaya kalau aku bahkan tak tergoda sedikitpun pada Yuna, maka tak akan terjadi apapun. Yuna itu jauh dibanding kamu. Kamu punya porsi tersendiri di hati aku yang gak mungkin digantikan orang dengan mudahnya. Kamu percaya aku kan? Yuna itu bukan saingan kamu, lagi pula yang penting adalah aku tidak suka Yuna."
"Hiks..."
"Lah, kok kamu nangis?"
"Aku kecewa sama kamu, kenapa kemarin kamu biarin aku pergi? Kamu gak ngejar aku."
"Kalau aku ngejar kamu, terus yang bicara baik-baik dan minta maaf sama Robby siapa? Aku bisa minta maaf sama kamu, tapi sama Robby kita gak enak. Itu tempat dia, kita cuma tamu. Oke, sekarang aku minta maaf sekali, karena kemarin tidak menyusul kamu. Bukan karena aku ngebela Yuna, tapi ini buat kebaikan bersama. Kamu dukung hobi aku kan?"
"Iya."
"Makanya, dukung aku. Kamu jangan pernah lagi melakukan kesalahan yang sama seperti kemarin. Aku seperti tidak mengenali kamu, jika kamu seperti itu."
"Maafin aku, Yang."
Akhirnya aku sendiri yang ngalah. Oke, aku akui aku memang terlewat cemburu. Apalagi dalam masa hukuman seperti ini. Rasanya tidak rela saja harus berbagi perhatian dengan orang seperti Yuna itu.
"Baiklah, aku tutup telponnya ya. Jangan nangis lagi. Aku tunggu di tempat biasa, kita makan eskrim. Aku traktir."
"Beneran?"
Tiba-tiba saja aku menjadi bersemangat lagi. Hehe.
***
"Ma...! Aku ke toko eskrim depan sana ya?" Teriakku sambil menuruni tangga.
"Kamu naik apa?"
"Sepeda, Ma. Kan deket. Bentaran aja, Ma. Zi bosan di rumah." Ujarku lagi sambil berlalu ke garasi ambil sepeda.
Aku mengayuh sepeda cukup cepat, ada sesuatu yang bikin aku bersemangat. Bukan Eskrimnya si, tapi aku senang karena akhirnya bisa ketemu dan ngobrol lagi sama Revo. Jujur, aku kangen. Hiks.
Beberapa menit kemudian, aku sudah sampai di cafe itu. Kulihat motor Revo sudah ada di parkiran. Aku pun masuk dengan riang gembira.
"Telat lima menit." Ucapnya acuh seraya melirik jam tangannya.
"Hah? Dihitung?"
"Kamu kebiasaan gak tepat waktu, Yang."
"Aku naik sepeda, capek tahu gowesnya."
"Serius?"
"Memangnya tampangku ada raut bercanda apa?" kupasang wajah cemberut.
"Yah, sayang. Maafin aku. Tahu gitu kan biar kujemput saja."
"Jangan!"
"Kenapa?"
"Kita kan sedang dihukum, Yang. Nanti hukuman ditambah lagi. Malah gak bisa ketemu nanti."
"Oh iya juga si."
Akhirnya seporsi eskrim jumbo mendarat di depanku dibawa oleh seorang pelayan cafe. Aku menatapnya dengan penuh rasa dahaga. Ingin segera kupindahkan ke dalam mulut agar segera terasa segarnya.
"Yang, boleh langsung gak ni?" Tanyaku tak sabar.
"Boleh, Yang. Kan itu emang untuk kamu."
Tak tunggu lama, kusambar eskrim itu dan memindahkannya suap demi suap ke dalam mulut. Hehe.
"Yang, aku ikut club basket Robby ya?"
Aku berhenti mengunyah eskrim. Sendokku menggantung di depan bibir lalu mengembalikannya ke mangkok eskrim.
"Boleh. Tapi aku gak mau Yuna dekat-dekat kamu lagi. Entah pakai alasan apapun."
"Segitunya kamu cemburu sama aku ya, Yang?"
"Cih! Kepedean."
"Terus apa dong?"
"Hehe iya, aku cemburu, makanya jangan biarin Yuna dekat kamu terus."
"Lain kali jangan ngamuk lagi ya. Kamu itu cewek baik-baik bukan cewek bar-bar, sayang. Dengerin aku ya?"
"Iyah. Tapi kamu harus janji tidak akan mendekati Yuna."
"Memangnya aku terlihat tertarik pada Yuna?"
"Nggak si. Cuma kesel aja kalau dia nemplok mulu sama kamu, Yang."
"Sudah lupakan Yuna, pengumuman kurang lebih sebulan lagi. Bagaimana dengan nilai kita ya, Yang?"
"Itu dia, aku gak mau putus lama-lama dari kamu, Yang." Aku mulai sedih membayangkan hal itu terjadi.
"Gimana jika salah satu diantara kita nilainya jelek, Yang?"
Ah iya, aku tidak pernah kepikiran hal itu. Bagaimana jadinya? Hiks.
"Aku tetap gak mau putus dari kamu, Yang."
"Bagaimana kalau orang tua kita beneran misahin kita?"
"Udah dong, Yang. Aku gak mau kepikiran macam-macam." Mataku mulai berkaca-kaca.
"Eh, eh, kok kamu malah jadi nangis?"
"Kamu tu...,"
Revo dengan pelan, menghapus air mata yang menggantung di bulu mataku. Pelan sekali sampai rasanya aku tak merasakan kulit jarinya menempel di wajahku.
"Sudah, tidak usah menangis. Aku yakin, kita akan tetap bersama. Jangan nangis ya?"
"Hiks. Makasih, Yang."
Eskrimnya sudah mencair. Aku sudah tak berselera lagi. Revo menggenggam sebentar jemariku, dia berkata percaya padaku, hatiku bukan untuk siapapun. Hanya untuk kamu.
Dia mengungkapkannya dengan berbisik di telingaku. Sesaat sebelum kita berpisah. Aku pulang naik sepedaku, diantar olehnya hingga depan pintu gerbang rumah.
Terimakasih atas segalanya. Terimakasih karena mempercayakan hatimu padaku.
***