FIGHT FOR LOVE

FIGHT FOR LOVE
Part. 43



- Situasi dalam perjalanan ke rumah Revo -


Hari ini karena libur, Mama dan Papa ngajakin ke rumah Om Marcel. Tahu Om Marcel kan? Papanya Revo.


"Zi, kenapa kok diam terus dari kita berangkat. Kamu gak suka kita ke rumah Revo?" Tanya Mama dengan memutar badannya ke belakang untuk ngobrol denganku.


"Nggak, Ma. Zi tidak apa-apa."


Mama si gak tahu, aku senang banget malahan. Soalnya aku jadi bisa ketemu dia dan ngobrol mengenai kejadian kemarin-kemarin itu. Cuma gak mau saja Ma, Zi sampai ketahuan oleh Mama sama Papa. Takut diceramahi lagi. Hehe.


"Oh, gitu. Tapi wajah kamu jangan masam gitulah. Mama kayak merasa bersalah ngajakin kamu ikut."


"Santai ajalah, Ma. Ini Zi biasa saja kok. Sudah, Mama balik badan lagi. Zi mau nikmati pemandangan di luar sana."


"Ah kamu, Zi. Pemandangan apa coba yang mau kamu lihat, sedang di luar itu hanya penuh kendaraan lalu lalang."


Mama nyerah dan dia balik badan lagi. Aku diam-diam tersenyum. Hehe. Maaf ya, Ma.


Beberapa saat kemudian, kita pun sampai di rumah Om Marcel. Mobil berhenti, aku turun bersamaan dengan Mama dan Papa keluar dari mobil.


Aku melihat ke sekeliling, kok motor Revo gak ada ya? Apa jangan-jangan dia gak di rumah? Yahh, percuma dong aku ke sini, kalau orang yang aku cari gak ada.


Bibi membuka pintu dan kita semua masuk ke dalam rumah. Orang tua Revo menyambut dengan hangat, Mama berpelukan dan cipika cipiki dengan Mamanya Revo. Terus Papa saling jabat tangan dan menepuk bahu dengan Papa Revo. Mereka itu seru ya, persahabatan mereka awet meski sudah berumah tangga.


Hmm, mana Revo ya?


"Kenapa, Zi? Nyari siapa?"


Walah, aku ketahuan celingak-celinguk kek orang bingung. Ketangkap basah sama Mamanya Revo.


Mama seperti meng-kode ke arah Mamanya Revo seraya senyum-senyum. Sementara para bapak-bapak sudah asyik ngobrol saja di ruang keluarga.


"Kamu nyari, Revo?"


Dengan terpaksa aku mengangguk pasrah karena sudah terlanjur ketangkap basah. Hehe. Aku nyengir sendiri jadinya.


"Revo tadi pagi keluar, katanya mau ketemu sama temannya. Dia si bilang, mau nyalurin hobi." Lanjut Mamanya Revo.


Issh, tu kan, Revo jadi nemuin Robby. Aku yakin dia nemuin Robby. Awas saja kalau sampai ada Yuna di sana.


Wajahku langsung cemberut. "Oh, gitu ya, Tan. Ya sudah tidak apa-apa.".


Akhirnya mereka para orang tua sibuk dengan obrolan mereka masing-masing. Aku sendirian seperti anak hilang. Huhu...!


Aku mengambil ponsel di tas. Lalu mencari nama Dena di daftar kontak.


Memanggil...


De, angkat dong telponnya. Lama bener deh.


Tak lama kemudian, telponku diangkat.


[ **Halo, Zi. Ada apa? ]


[ Aku lagi bete ni. ]


[ Bete kenapa? ]


[ Aku di rumah Revo. Diajak sama Mama dan Papa. Mereka janjian dengan orang tua Revo. Awalnya aku senang aja ikut, artinya bisa ketemu Revo kan. Eh tahunya, Revo malah keluar. Dia gak ada di rumah. Bete. ]


[ Memangnya kemana? ]


[ Kata Mamanya keluar mau temui teman, mau nyalurin hobi. Kamu berpikir gak si ini ada hubungannya dengan Robby? Robby yang kemarin disebut Yuna, Robby ngajakin Revo gabung di tim basket dia. ]


[ Oh iya, bisa jadi. Hobi Revo kan basket. Terus gimana? ]


[ Temenin aku yuk! ]


[ Ke? ]


[ Nyari tempat latihan mereka. Mereka pasti janjian di tempat biasa latihan kan. ]


[ Nyarinya kemana? Kita kan gak tahu tempat latihannya di mana? ]


[ Gak apa, sambil jalan saja kita cari tahu. ]


[ Ya sudah, terserah kamu saja ]


[ Aku izin dulu ke Mama, nanti biar kamu langsung jemput di sini. ]


[ Baiklah** ]


Klik.


Sambungan telpon terputus. Aku menemui Mama yang sedang membantu Mama Revo memasak makan siang. Mereka sangat akrab satu sama lain, berbagi cerita apa saja. Aku malah melihat mereka itu bukan seperti sahabat, tapi sudah seperti saudara sendiri.


Mama yang mungkin melihat wajahku sudah memelas, juga Mama Revo sepertinya paham dengan kondisiku. Akhirnya mereka hanya tersenyum dan mengangguk mengiyakan.


"Asyik! Makasih ya, Ma, Tante."


"Zi, jangan pulang malam."


"Iya, Ma. Paling ini cuma muter-muter Mall aja."


"Ya sudah, hati-hati."


***


Dena datang jemput, aku pamit ke Mama dan Papa juga ke orang tua Revo.


Aku masuk ke dalam mobil Dena. "Ada petunjuk?" Tanyaku.


"Sebentar, aku telpon Danu dulu. Semoga saja dia tahu."


Dena pun ngobrol beberapa saat dengan Danu via telpon. Dari obrolan mereka, harusnya si dapat informasi.


"Gimana?"


"Ada. Danu tahu tempatnya. Dia nanti share loc ke WhatsApp."


"Baguslah! Yuk jalan."


Setelah berkeliling cukup lama nyari alamat, akhirnya ketemu juga satu tempat latihan yang cukup sepi dari luar. Belum tahu di dalam kayak apa.


Aku dan Dena turun dari mobil dan jalan ke pintu masuk yang dijaga oleh seorang satpam.


"Maaf, mau menemui siapa?" Tanya Satpam itu.


"Mau cari teman pak, katanya latihan di sini."


"Siapa?"


Duh jawab apa ya ini? Takutnya salah jawab malah bablas gak bisa masuk. Kok kelihatannya ketat gini. Akhirnya aku kepikiran satu nama, mungkin saja jika nyebut nama ini maka kita akan dibiarkan masuk.


"Robby. Kita nyari Robby, Pak." Jawabku cepat dan meyakinkan bapak itu.


"Oh, bos Robby. Silakan lewat sini."


Apa? Boss? Gila pamor Robby di sini keren juga ternyata. Haha. Nama pancinganku ternyata berhasil.


Akhirnya kita di antar masuk, aku dan Dena tampak melihat sekeliling. Aku yakin Revo di sini, motor dia ada terpakir di luar.


Sampailah kita ke sebuah tempat latihan yang cukup besar, aku melihat beberapa orang di lapangan sedang latihan men-dribbel bola, ada juga yang lari-lari. Beberapa lagi nonton di pinggir lapangan.


Aku menyisir semua tempat untuk mencari keberadaan Revo. Nah, itu di sana.


"Itu Revo!" Seruku pada Dena.


Revo sedang ngobrol dengan seseorang yang mungkin saja itu adalah Robby. Dan..., Hello...! Siapa itu? Siapa cewek yang tak hentinya mendekati Revo?


"Itu Yuna kan?" Tanya Dena.


"Kayaknya si. Hiss, ngapain dia di sini?"


Aku pun lantas menemui Revo di sana. Dena ikut dari belakang.


"Zi...!" Sapa Revo tampak kaget.


"Ngapain kamu di sini?" Lanjut Revo.


"Oh jadi ini yang kamu sebut latihan? Ngapain cewek itu dekat-dekat kamu? Jangan mentang-mentang kita baru putus terus kamu dengan mudahnya dekat dengan siapa saja. Jahat kamu, Vo." Entah kenapa aku langsung tersulut emosi, melihat Yuna ada di sana dan dekat-dekat Revo.


"Kamu lupa ya, kamu ini mantan. Ingat itu!" Yuna nyolot yang bikin emosiku makin meledak.


"Apaan si? Iya, aku mantan, terus kamu apa? Cewek yang tak tahu malu, deketin orang dengan segala cara? Iya?"


"Zi, sudah dong! Kamu kenapa jadi kayak gini? Tidak enak sama Robby juga teman-teman lain yang ada di sini."


"Tahu, ah! Terserah kamu, Vo."


Aku pergi dari sana, air mataku tak sengaja jatuh menggenangi pipiku. Tidak tahu kenapa aku bisa seemosi itu dan seperti kecewa pada Revo. Apa aku berlebihan? Apa cemburuku yang terlalu?


Hiksss...!


Aku menangis di dalam mobil Dena. Dena cuma diam dan sesekali mengusap bahuku.


Kok rasanya sakit begini si? Apa aku berlebihan ya? Revo tidak mengejar aku lagi. Padahal aku berharap Revo mengejarku dan minta maaf. Arhhhh..., kesal!