FIGHT FOR LOVE

FIGHT FOR LOVE
Part. 31



"Yank..., sudah dong marahnya." Ucap Revo.


Aku masih kesal padanya, eh dia malah ikut aku ke rumah. Aku tidak peduli walau dia terus ikut ke dalam rumah.


Aku melempar tasku ke kursi di ruang tamu dan menghempaskan diri disamping onggokan tas itu.


"Ada apa ini? Kok wajah kamu kusut begitu. Pulang pulang kok bawah ekspresi jelek begitu, Zi." Ucap Mama yang saat itu kebetulan menghampiriku ke ruang tamu.


"Sore Tante..." sapa Revo.


"Eh ada Revo ya. Sini duduk!"


"Jangan minta dia duduk. Zi lagi kesel, Ma."


"Ya kan masa disuruh berdiri saja, Zi. Kasian Revo itu."


"Ya sudah, suruh duduk Zi yang ke kamar."


"Yank, sudah dong. Jangan ngambek terus."


"Kalau kalian sudah begini, Mama angkat tangan. Urus berdua sampai selesai, Mama mau ke kamar saja." Ucap Mama seraya mengangkat kedua tangannya tanda menyerah.


"Apa Vo? Sekarang mau apa?"


"Aku mau kita ngomong baik-baik. Jangan seperti anak-anak begini Zi."


"Ya sudah silakan bicara."


"Hei, Yuna itu bukan apa-apa dan siapa-siap@ buatku. Dan tidak akan pernah jadi apapun. Hanya teman. Kamu ngerti?"


"Tapi aku tidak suka dia sok akrab sama kamu, apalagi cara dia bicara terdengar manja sampai ke telingaku."


"Jadi ceritanya kamu cemburu ya? Hahaha..., akhhh... akhirnya Zi cemburu padaku." Pekiknya tertawa.


"Nah itu tahu. Malah ketawa lagi."


"Makasih ya Yank, kamu sudah cemburu. Untuk pertama kalinya loh ini. Hehe. Ayo dong senyum!"


"Tidak mau. Pulang sana!"


"Oh jadi aku diusir nih. Ya sudah aku pulang ya."


Aku masih berdiam diri, sejujurnya aku malu mengakui kalau aku cemburu. Tetapi dia sudah tahu, dia malah tertawa. Bujuk lagi kek. Ah, sebal.


"Ya sudah pulang!"


"Dih, jahat bener pacar aku. Oke deh, cemburunya jangan lama, soalnya aku sedih lihat kamu cemberut terus. Seharian tidak melihat senyummu seperti seabad."


"Dih, modus. Gombal terus!"


"Tuh kan, salah lagi aku. Yank, jangan marah dan cemberut terus ya. Bagi aku, kamu satu-satunya dan selamanya akan begitu. Jangan berpikir yang aneh-aneh lagi."


"Nih senyum." Ucapku seraya memperlihatkan senyum tipis dan samar yang bahkan tak terlihat oleh Revo. Haha.


"Yank, kurang."


"Nih."


"Nah gitu dong. Mandi sana, aku pulang ya. Love You Zi."


Iihh, jarang banget dia bilang love, sekarang malah bilang love segala. Haha. Dasar aneh. Tapi kok aku merasa senang dan bahagia ya. Hehe. Maafkan aku Yank, sudah cemburu buta begini.


***


Malam harinya Dena menelpon memakai telpon rumah dan tersambung ke telpon yang ada di kamarku. Soalnya aku belum memiliki ponsel sendiri sebagai alat komunikasi. Mama masih membatasi dan baru dibolehkan ketika lulus SMA.


Aku hanya berusaha menerima itu sebagai sesuatu yang baik. Mama tak memberikan ponsel bukan berarti dia tak sayang. Dia hanya menjagaku, agar tak terpapar terlalu jauh oleh kecanggihan teknologi. Di rumah, pemakaian internet pun dibatasi. Hanya boleh malam hari dari jam tujuh sampai jam sembilan malam. Terus, di hari libur. Itupun juga dibatasi.


Eh iya, kembali ke Dena.


"Zi, kamu baik-baik saja kan?"


"Baik De, ada apa?"


"Kupikir kamu masih kesal dengan kejadian tadi siang. Makanya aku menghubungi kamu"


"Revo mengikuti sampai rumah. Dia masuk dan membujukku untuk tak marah lagi. Dia minta maaf berkali-kali. Walau kesal juga, tapi aku tidak bisa marah terlalu lama padanya. Aku juga tidak tahu mengapa demikan."


"Baguslah! Setidaknya dia tahu apa yang dia lakukan. Aku lagi bete juga sama Danu."


"Loh kenapa?"


"Dia itu sama saja seperti Revo. Dia diam saja, apa semua watak cowok itu sama? Diam saja saat ceweknya ribut?"


"Tidak tahu lah. Revo saja masih sempat-sempatnya minta maaf ke cewek itu. Padahal jelas-jelas cewek itu sudah membuat masalah."


"Nah itu dia. Bete kan?"


"Iya. Ya sudah De, aku mau makan dulu ya. Bye..."


"Bye, Zi. Besok kujemput tidak?"


"Tidak usah. Si Posesif itu pasti akan marah lagi."


"Oke deh."


***


Maaf ya up nya kelamaan dan ini pun hanya sedikit. Huhu. Author sibuk Real Life. hehe