FIGHT FOR LOVE

FIGHT FOR LOVE
Part. 27



Minggu Pagi.


Pintu kamar tempatku dirawat terbuka dan lihat siapa yang muncul sepagi ini?


"Yang..., hehe" ucapnya sambil nyengir.


"Masih pagi banget lo Yang. Ngapain di sini?"


"Kan kangen."


"Semalam juga kamu pulang larut, masa pagi buta begini datang lagi terus bilang kangen? Ih kurang kerjaan."


"Aku suntuk di rumah. Mikirin kamu terus, mendingan aku ke sini aja. Bisa lihat wajah kamu terus. Hehe."


"Lebbay kamu Yang."


"Siapa itu Zi?" Teriak Mama yang masih di dalam WC.


"Siapa lagi Mam. Calon mantu kesayanganmu."


Revo nyengir kegirangan disebut mantu kesayangan. Tak lama setelah itu, Mama Zi keluar.


"Ada Revo? Tumben pagi banget sudah di sini?"


"Iya Tan, kangen."


"Kalau begitu Mama boleh pulang dulu ya, kasian Papa tidak ada yang urus keperluannya di rumah. Walau ada Bibi tapi tetap saja, pasti beda kalau Mama yang siapin."


"Nanti kamu akan ngurus keperluanku juga kan?" Ucap Revo tanpa diminta.


Membuat mataku membelalak tak percaya. Issh. Apa yang keluar dari mulut dia tuh kadang tak terduga. Seringkali bikin aku salah tingkah karena tidak tahu mesti jawab apa.


"Ma, boleh gak?" Pertanyaannya kulempar ke Mama. Mama hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala.


"Masih kecil katanya." Jawabku.


"Apaan, Mama aja gak jawab dan cuma senyum-senyum. Artinya boleh."


"Dih, ambil kesimpulan sendiri. Mama senyum bukan berarti setuju itu."


"Oh, jadi ceritanya kamu gak mau nih di masa depan aku jadi suami kamu." Balasnya dengan ekspresi wajah sedih tampak sangat jelas.


"Aku gak bilang gitu."


"Kesannya seperti itu kok."


"Dih...," kesalkan jadinya.


"Sudah kalian jangan ribut terus. Mama pergi ya. Revo, jaga Zi dengan baik. Tante percaya sama kamu."


Mama pergi dan hanya ada kita berdua. Sejenak tercipta rasa canggung karena tidak tahu harus bicara apa. Revo malah puas banget menatapku seperti orang yang baru pertama kali lihat cewek cantik. Hehe.


"Apa lihat-lihat?" Kutanya dia.


"Sampai saat ini, aku masih tidak percaya kalau aku bisa mendapatkan kamu."


Kenapa dia? Kenapa omongannya tiba-tiba sendu begitu? Duh, tatapan itu? Bukankah itu tatapan yang bikin aku jadi tidak bisa berpaling dari dia. Lihat matanya yang berbulu lentik itu? Kadang aku iri sama dia, kok bisa cowok punya mata dengan bulu selentik itu? Ishh, gemes.


"Karena kamu adalah yang pertama membuatku jatuh hati dengan matamu."


Apa-apaan ini? Kenapa aku jadi ikut-ikutan gombal begini? hihi. Tapi itu jujur dari hati aku yang paling dalam kok.


"Zi...," Panggil Revo lembut.


"Ya."


"Jangan marah ya." Ucapnya pelan, terasa sangat aneh.


Apalagi ini? Kenapa dia malah bilang jangan marah. Memangnya kenapa?


"Marah kenapa?"


"Aku mau bilang sesuatu sama kamu."


"Apa si Revo, jangan sok misterius begitu tahu."


"Aku serius." Jawabnya dengan wajah yang berubah serius.


"Ya aku juga serius. Ya udah ngomong. Jangan lama." Jawabku tak sabaran.


"Itu di mata kamu ada bekelnya."


Arrgghhhhh....!


"Revo..........." Jeritku kesal.


"Ha...haha..., memangnya kamu berharap aku ngomong apa? Ingat kamu sudah janji tidak akan marah. Haha."


Kesel banget aku. Ishh, jahat banget. Sudah tahu aku bahkan belum cuci muka sama sekali. Siapa suruh datang pagi banget. Bikin rusuh pula.


"Awas kamu Yang, coba aja tanganku ini gak sakit. Habis perut kamu kucubitin. Ishh, tunggu aja pembalasanku."


"Haha, ampun Yang!" Ucapnya masih tertawa sambil memegangi perutnya.


Senang banget kayaknya sampai nahan sakit perut gara-gara ketawa. Pengen kusumpal rasanya mulutnya itu. Huh, keselllll....


***