FIGHT FOR LOVE

FIGHT FOR LOVE
Part. 48



Acara makan malam seperti yang direncanakan sebelumnya, gagal total. Ini sudah pasti ulah si ratu lebah, Yuna menyebalkan itu. Foto di kedai eskrim itu pasti sudah dikirimkan ke Revo. Mama menjadi penasaran, kenapa tiba-tiba makan malam yang sudah disetujui kedua belah pihak itu menjadi batal dalam waktu sekejap.


Berkali-kali kuhubungi Revo tak ada jawaban. Malah, sekarang nomor Revo sudah tidak aktif. Fix, ini semua ulah Yuna. Ingin sekali kucakar wajah sok cantiknya itu. Sudah tahu, Revo orangnya cemburuan, eh dikirimi foto yang tidak seharusnya menjadi bahan retaknya sebuah hubungan.


Kalau sudah begini, apa yang mesti kulakukan coba? Aku sudah bersusah payah membujuk Mama untuk acara makan malam tapi semuanya berantakan. Apa aku ke rumah dia saja?


"Ngapain kamu cemberut begitu?" Dengan polosnya Romi si menyebalkan nomor dua itu bertanya. Padahal semua masalahku ada, juga karena dia.


"Pakai nanya. Semua itu gara-gara kamu tahu gak. Hisssh."


"Kenapa jadi gara-gara aku?"


"Iya, semuanya tuh gara-gara kamu. Ngapain juga kamu minta dianterin beli eskrim dan pakai pegang tanganku segala."


"Karena aku tahu kamu suka eskrim. Terus di cafe kamu gak mau duduk, makanya aku tarik tangan kamu biar duduk. Memangnya ada yang salah?"


"Salah. Salah besar. Ingat cewek tadi? Dia itu musuh bebuyutan aku, dia ngejar-ngejar pacar aku, sampai niat banget bikin aku putus sama pacar aku."


"Oo. Seperti itu."


"Haissh, nyebelin! Responnya masa gitu. Sudah ah, sana! Jangan ganggu aku lagi."


"Ya ampun, kamu ini galak banget sumpah. Sudah galak, cerewet lagi. Amit-amit punya pacar kayak kamu."


"Siapa juga yang mau jadi pacar kamu. Romeo..., please! Pergi dari sini sekarang!"


Emosiku dibuat meledak oleh Romi jika begini terus.


"Ada apa si? Kalian ini ribut terus tidak pernah akur." Sela Mama yang baru saja turun dari lantai atas.


"Itu si Romi, Mah. Gangguin Zi terus kerjaannya. Oyah Ma, memangnya itu sudah Fix orang tua Revo gak jadi makan malam di rumah kita?"


"Iya sayang. Tadi Mama sudah coba konfirmasi ulang. Kata mereka tidak bisa. Ada apa memangnya? Kamu ini misterius amat dari sejak selesai ujian. Ayo coba ngomong sama Mama."


Mama ikut duduk di kursi samping aku, tapi aku bingung mau cerita atau tidak. Soalnya masih ada Romi di sana, Sudah pasti dia ngerecokin lagi.


Aku diam saja. Mama masih menunggu apakah aku harus cerita atau tidak. Aku tetap memilih bungkam, meski Mama sudah berusaha membujuk aku untuk cerita.


"Ya sudah kalau tidak mau cerita. Tidak apa-apa. Tapi lain kali, kalau ada masalah coba bagi ke Mama. Mungkin saja Mama bisa ngasih solusi atau pandangan ke Zi."


"Iya, Ma. Terimakasih atas pengertiannya. Zi cuma merasa belum saatnya untuk cerita. Makan malam itu adalah momen di mana Zi mau cerita tapi semuanya batal dan semua terasa percuma sekarang Ma." Jawabku dengan mimik wajah sedih.


"Maulah, Ma. Siapa juga yang tidak mau. Tapi aku boleh tidak milih kampus yang berbeda dari Romi? Aku tidak mau sekampus dengannya."


"Memangnya kenapa? Kan nanti jurusan yang diambil berbeda Zi. Cobalah akrab dulu dengan Romi. Jangan pasang wajah bete dan judes terus sama dia. Romi kan saudara kamu juga."


"Iya deh iya. Terserah Mama. Aku mau ke kamar dulu."


Mama cuma mengangguk dan aku ke kamar melewati Romi yang masih saja serius dengan game di ponselnya. Sudah kayak gamer handal saja. Heran.


***


Masuk ke kamar, ponselku berbunyi. Dengan semangat aku meraih ponsel itu. Pasalnya aku lagi menunggu kabar dari Revo. Kan mungkin saja itu dari Revo.


Ah, sebuah pesan.


"Jadi, sekarang kamu punya kecengan baru?"


Hmmpptt...


Aku terdiam sejenak membaca pesan itu. Yang benar saja. Inikan pesan dari Revo. Ratu lebah Yuna memang keterlaluan.


"Dia bukan kecenganku. Dia saudara jauh yang kebetulan tinggal di rumahku."


Send...


Setelah pesan itu terkirim, aku menunggu dengan cemas akan balasannya. Namun, setelah menunggu kurang lebih setengah jam. Tetap tidak ada balasan. Ah sial!


Aku geregetan sendiri dibuatnya. Dengan gemas aku mencari-cari nomor Revo, lalu memanggil.


Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan. Cobalah beberapa saat lagi.


Terdengar pesan suara dari Operator provider. Pantas saja tidak dibalas, orang nomornya sudah tidak aktif lagi. Hugh. Semakin bete dibuatnya.


Tak lama kemudian. Sebuah pesan multimedia masuk ke ponselku. Foto Revo sedang main basket. Hishh! Kulempar ponselku sembarangan ke tempat tidur. Pengirimnya menggunakan nomor baru. Feelingku itu adalah Yuna. Siapa lagi coba, yang bisa mengambil foto Revo dari jarak dekat seperti ini saat latihan? Yang mana tempat latihannya itu adalah di tempat sepupu Yuna. Dan Yuna akan selalu nempel di sana kayak perangko selagi Revo di sana.


Arhhhh... kesal!


Akhirnya kuputuskan untuk berdiam diri di kamar hingga petang. Memilih untuk tidur tinimbang memikirkan masalah-masalah yang terus datang silih berganti tak pandang waktu.