FIGHT FOR LOVE

FIGHT FOR LOVE
Ch-2. Penerus



Hari tampak sudah sangat siang Razie ingin pulang kerumah, ia tak lupa ingin membawakan oleh-oleh untuk ibunya.


Ia berburu sebentar seraya menuju jalan pulang, tak lupa pula ia membawa benda yang dilemparkan gadis saat di sungai tadi.


"Benda ini aku bawa pulang saja, siapa tau ada petunjuk" kata Razie sambil mengangkat benda tersebut.


"Apa yang harus aku untuk di bawa pulang" terusnya.


Terlihat dua kelinci tepat di depan matanya, dengan cepat Razie menerkam dua kelinci tersebut, kelinci di dapatkan ia tersenyum-senyum.


"Kebetulan sekali ibuku sangat suka makan daging kelinci dan juga tekstur dagingnya sangat lembut, dua ini saja mungkin cukup" gumamnya.


Razie langsung menuju tempat pulang, setelah sampai di penghujung desa ia bertanya-tanya kepada warga desa (samurai) tentang benda yang dibawanya (kunai). Namun setiap kali bertanya, rakyat seperti ketakutan melihat benda tersebut.


"Permisi pak boleh nanya benda ini apa ya" ucap Razie sambil menunjukan sebuah benda


"S-saya tidak tahu be.. be... benda apa yang tuan bawa" jawab seorang warga desa seraya meninggalkannya.


Sudah Kesana kemari ia menanyakan tentang benda tersebut, namun jawaban dari warga desa sama dan selalu menghindar.


Razie berbicara dalam hati dengan rasa penasaran "kenapa warga desa selalu menghindar ketika aku menanyakan tentang benda ini, ada apa dengan benda ini".


Ia terus berjalan, sesampai di rumah Razie tidak langsung masuk ia meletakan benda tersebut (kunai) ke dalam kamarnya melalui jendela. Kemudian ia masuk lewat pintu belakang kebetulan ibunya (Aisyah) berada di dapur sedang memasak, Razie langsung menyerahkan buruannya kepada ibunya.


"Eeehhh ibu, ini bu oleh-oleh yang aku bawakan dari hasil berburu" Razie menyerahkan dua kelinci yang telah ia buru.


"Putraku, kenapa kamu baru pulang ibu sangat khawatir" sambut ibunya seraya mengambil dua kelinci yang diserahkah Razie.


Razie tersenyum "kemaren gak bisa langsung pulang bu karena keburu malam" sahutnya.


"Lain kali jangan berburu jika udah mau malam" sambung ibunya dengan rasa cemas.


"Ibu tenang saja aku bukan anak kecil" ucap Razie dengan bangganya.


Ibunya tersenyum "Cepat sana kamu mandi, terus makan ya di meja sudah ada sate bakar kesukaan kamu".


Razie dengan tegas "siap laksanakan".


Ibunya hanya tersenyum melihat tingkahlaku anaknya yang seperti anak kecil.


Setelah selesai mandi dan berpakaiaan, Razie munuju meja makan yang telah disediakan ibunya.


"Ibu memang selalu tau yang disukai anaknya" gumamnya sambil memakan sate bakar.


Setelah selesai makan ia pergi ke ruang tengah di sana terlihat ayahnya (Rean) sedang duduk santai.


"Hay ayah, terlihat santai banget hari ini" ucap Razie.


Razie tersenyum-senyum "Biasa anak muda kan ayah tau sendiri".


Ayahnya pun melirik "memang urusan anak muda selalu ribet".


"Ayah tumben gak pergi latihan" teruskan Razie.


"Kamu tau sendirikan ayah sudah tua, umur sudah 60 tahun gak mampu latihan setiap hari lagi pinggang ayah terasa encok" sahut ayahnya.


Razie menggaruk-garuk pipinya "iya..ya ayah udah tua, kenapa gak minum oskadon aja yah"


"Emang kamu pikir ini Zaman apa minum oskadon segala" ayahnya melotot


Razie tertawa "Hahahaha bercanda doang kok yah jangan di bawa sampe kehati lah"


Ayah Razie pun mengalihkan pembicaraan mengenai yang akan meneruskan pelatihan ayahnya.


"Putraku Razie, Ayah sepertinya tidak bisa melatih warga desa lagi, Ayah akan menyerahkan semuanya kepadamu" mengalihkan pembicaraan.


Razie terkejut "hahh kenapa harus aku yang menggantikan ayah, kan masih banyak murid ayah yang lebih hebat dari aku"


"Ayah tahu itu, tetapi ayah tidak mau menyerahkan pelatihan itu kepada orang lain karena kamu merupakan putra ayah yang paling tersayang" teruskan ayahnya.


"Ayah bisa aja" Razie terlihat malu karena di katakan anak tersayang oleh ayahnya.


Ayahnya meneruskan kata-katanya "Kamu sekarang telah dewasa, umur kamu juga sudah beranjak 27 tahun"


"Baiklah ayah aku akan meneruskan pelatihan ayah yang diberikan kepadaku" sahut Razie dengan tegas.


Ayahnya tersenyum bangga.


"eehh Ayah aku ingin menanyakan sesuatu" tanya Razie.


"apa yang ingin kamu tanyakan" balas ayahnya


Razie kemudian berpikir dan berbicara dalam hati "apakah benda itu (kunai) langsung aku kasihkan ke ayah saja, ahh nanti aja deh aku selidiki sendiri dulu".


"Gak jadi deh yah aku lupa" ucap Razie sambil menggauk kepala.


"Kamu ini memang pelupa ya" balas ayahnya.


Razie tersenyum-senyum sendiri.


to be continou.....