FIGHT FOR LOVE

FIGHT FOR LOVE
Part. 30



Keesokan harinya, aku pun mulai kembali bersekolah. Seminggu lebih di rumah sakit dan itu membuatku sangat bosan. Aku rindu suasana ramai di sekolah. Lari-larian di koridor, saling ejek dan makan di kantin sekolah. Aku merindukan itu semua.


**BIP...


BIP...


BIP**...


Terdengar suara klakson, aku bergegas keluar setelah menghabiskan satu potong roti selai buatan Mama.


Revo tidak turun dari motornya, hanya menungguku datang padanya. Dia lalu tersenyum dan memberikan helm untuk kupakai.


"Berangkat sekarang ya Nona." Ucapnya dengan senyum sekilas.


"Baiklah Tuan, silahkan jalan." Balasku mengikuti dramanya.


Motor pun melaju membelah jalanan kota. Seperti biasa, aku menahan diri untuk tidak berpegangan pada pinggang Revo. Walaupun dia kerap mempercepat motornya, itu membuatku sangat ketakutan di belakang. Namun, aku berusaha untuk tidak berpegangan.


Terkadang aku hanya bisa memegangi tas ransel yang menempel di punggungnya. Issh, cukup menyiksa memang. Tetapi mau bagaimana lagi, aturan tidak boleh dilanggar. Hehe.


Angin bertiup kencang, membuat rambutku bergerak mengikuti angin. Cukup repot juga karena sesekali aku harus memegangi rambut tersebut agar tak menutupi wajahku.


Motor Revo berhenti tepat di parkiran, aku turun dari motor dan merapikan rambut serta seragamku yang agak berantakan. Baru mau jalan ke kelas, seseorang menghampiri aku dan Revo.


"Hai Revo, pagi! Hari ini jadi melatih basket kan?" Ucap cewek berseragam yang juga murid sekolah ini. Membuatku sedikit kesal karena, kedengarannya sangat manja di telingaku.


"Ya Yuna, jam istirahat ya."


"Terimakasih, Revo."


Aku meninggalkan mereka di parkiran. Kesal, karena masih pagi sudah membuat suasana hati keruh. Padahal baru masuk sekolah. Bete.


"Zi...!" Panggil Revo, aku tidak menghiraukannya. Bahkan langkahku lebih kupercepat.


"Zi, tunggu! Kamu kenapa si?" Revo mencegatku.


Aku berusaha melewatinya, namun Revo bergerak cepat ke kiri dan ke kanan. Menghalau langkahku yang hendak lolos darinya. Semua usaha itu sia-sia, sampai aku menyerah dan berdiri memalingkan wajah darinya.


"Kok wajah kamu bete begitu? Ada apa? Kita baru sampai, kamu sudah bete begini."


"Ya, kamu tuh. Kamu merusak hari pertamaku masuk sekolah."


"Lah, aku kenapa aku yang salah?"


"Iyah laki-laki memang selalu salah. Bukan hanya salah, tapi juga tidak peka sama sekali. Minggir! Aku mau masuk kelas."


Kugeser tubuh Revo dan berlari masuk kelas. Kuhempaskan tas di atas meja karena kesal. Dena yang melihatku berwajah masam dan tampak kesal, langsung mendekatiku.


"Ada apa si?"


"Apa selama aku di rumah sakit, banyak cewek yang cari perhatian ke Revo? Kesal tahu ih."


"Tidak. Memangnya kenapa?"


"Aku lagi kesal. Tadi ada cewek datang mendekati aku dan Revo. Namanya Yuna, dia bicara pada Revo. Manja dan genit, membuatku sangat kesal.


"Hahaha..., astaga Zi. Aku kira apaan?" Dena malah tertawa dan bertepuk tangan. Aku jadi semakin kesal dibuatnya.


Dena sudah gila apa ya. Lagi kesal ini. Kenapa dia malah tertawa dan tepuk tangan si.


"Apa yang lucu coba? Kenapa jadi kamu yang kegirangan. Lagi kesal ini Denaaa...," ucapku geram.


"Aku manusia kali De, lagi pula benar juga si. Kok aku jadi cemburuan begini?"


"Nah kan, itu sadar. Haha..."


Tak lama kemudian, Danu datang dan selang beberapa saat bel masuk berbunyi.


"Eh tahu gak, Zi cemburu pada Revo." Bisik Dena pada Danu.


"Serius? Emang Zi bisa cemburu? Setahuku tidak pernah."


"Iyah, dia cemburu. Lihat, wajah dia sangat menggemaskan."


"Aku mendengar yang kalian bicarakan. Jangan bisik-bisik lagi." Ucapku tanpa melirik mereka yang sedang bergosip.


"Ya ampun, ketahuan kita Yang. Hehe." Ujar Dena terkekeh.


Lalu pelajaran hari ini dimulai di jam pertama. Hingga istirahat, suasana hatiku masih kusut. Sekusut kertas yang sekarang kuremas. Rasanya ingin kuhempas ke depan wajah Revo. Bisa-bisanya dia buat aku cemburu begini.


Di kantin, sedang ramai murid membeli jajanan. Aku, Dena dan Danu mencari meja yang masih kosong. Lalu akhirnya dapat bagian paling belakang. Aku duduk, begitu juga yang lain. Baru duduk beberapa menit, pantat juga belum panas. Revo datang dengan senyum khasnya.


Entah kenapa aku melihatnya malah kesal. Biasanya hatiku berbunga-bunga, ini malah kesal jadinya.


"Kalian main duluan aja si. Aku cari di kelas, kalian malah sudah di sini." Ucap Revo.


"Kamu lama si." Jawab Danu.


"Ah, siapa bilang? Bel bunyi aku langsung ke kelasmu." Sanggah Revo.


"Salah sendiri, siapa suruh telat." Jawab Danu lagi.


"Aku balik ke kelas saja deh." Ucapku lalu berdiri. Namun Dena mencegatku.


"Jangan gitulah, Zi. Kesalnya udahan ih. Duduk lagi dong." Dena berusaha menenangkanku.


Revo sedikit bingung dengan apa yang terjadi. Dia kulihat sedang menyenggol bahu Danu. Danu hanya mengangkat bahunya tanda tidak tahu menahu.


Lalu, datang seorang cewek membawa semangkok bakso, dia duduk di samping Revo. Begitu saja.


"Ngapain duduk di sini kamu?" Tanya Dena.


"Ini tempat umum kan? Memangnya tidak boleh?" Jawab cewek itu santai. Aku malah semakin kesal, karena cewek di dekat Revo itu adalah cewek yang tadi menyapa Revo dengan tatapan genit.


"Memang tempat umum, cuma kan kamu lihat sendiri, kita di sini sudah berempat. Kalau ditambah lagi dengan kehadiran kamu di sini, itu akan membuat kita semua jadi tidak nyaman karena sempit." Balas Dena tak mau kalah.


"Ih apaan si. Kenapa jadi kamu sewot begitu." Jawab cewek bernama Yuna itu tak tahu diri.


Para cowok hanya diam saja melihat Dena dan Yuna berdebat. Aku diam saja. Tidak mau ambil pusing. Namun kesalku juga semakin bertambah.


"Ngeselin ya lama-lama. Udah yuk, aku gak jadi makan." Aku berdiri dan pergi dari sana. Disusul Dena dan juga Danu. Sementara Revo, dia malah terlihat sedang meminta maaf pada Yuna lalu menyusul kita bertiga.


Ada ya, cewek sok akrab begitu. Udah sok akrab, ngeselin pula. Bikin naik darah seketika.


Bukan hanya bikin kesal, tapi juga bikin lapar. Mana tadi cuma sarapan pakai roti selai. Hari pertama ini sungguh melelahkan.


Dena sampai mengumpat saking kesalnya. Sekarang dia sedang ditenangin oleh Danu. Revo juga tadi ke sini, tapi aku mengusirnya. Melihat wajahnya, kekesalanku semakin bertambah. Bagaimana bisa dia kenal dengan cewek tidak tahu diri seperti itu.


Hingga jam pulang dan bel berbunyi, kekesalanku belum juga reda. Aku tidak pulang bersama Revo. Aku numpang di mobil Dena. Biarkan saja Revo sendirian. Lihat saja, dia masih mengekor di belakang mobil Dena. Huh....


****