
Setiap orang memiliki karakter masing-masing, termasuk karakter dalam menyayangi atau mencintai pasangannya. Dena yang cuek tapi bisa ditaklukkan oleh Danu yang tadinya sangat menyebalkan. Lalu Danu menjadi cowok manis yang selalu berada di sisi Dena. Membuatnya tak kesepian lagi setelah ditinggal berlama-lama oleh orangtuanya untuk urusan kerjaan.
Atau aku yang agak pendiam, kemudian bertemu Revo yang cerewet. Cowok bucin level sekian yang seringkali bikin aku geleng-geleng kepala tak habis pikir dengan semua tingkahnya. Namun di balik itu semua, Revo adalah cowok yang sangat baik. Dia memperlakukan aku selayaknya perempuan yang memang pantas untuk dicintai atau disayangi.
Begitulah, setiap orang memiliki karakternya masing-masing.
Bel tanda istirahat berbunyi seiring selesainya kalimat Ibu Dewi yang mengatakan bahwa manusia itu memang berbeda satu dengan yang lain, tapi bukan berarti tidak bisa kompak dan bersama. Justru karena adanya perbedaan itulah, manusia menjadi satu dalam keberagaman.
Bu Dewi keluar dari kelas dan semua siswa di kelas berebut ingin keluar lebih dulu. Apalagi jika bukan ingin pergi ke kantin. Perut sudah keroncongan begini.
Aku dan Dena berdiri dari tempat duduk, bersiap untuk berangkat ke kantin.
"Sayang, ikut tidak?" Dena bertanya pada Danu.
"Kayaknya tidak, Yang. Perutku lagi sakit ini."
"Kok bisa? Sarapan apa tadi pagi?"
"Sarapan seperti biasanya, cuma mungkin ini karena efek semalam terlalu banyak makan sambel."
Brett...!!!
Sontak saja pandangan aku dan Dena semakin tertuju pada Danu. "Astaga, Danu!!! Kamu jorok ih, bau itu." Pekikku sambil menutup hidung.
"Hehehe, maaf! Gak bisa ditahan soalnya."
"Yang, ke WC gih. Perut kamu kembung itu."
Danu tiba-tiba saja berdiri dan berlari keluar. Dia memegangi perutnya dan aku hanya bisa melihat itu seraya menahan tawa. Dia pasti kebelet.
"Haha, pacar kamu kenapa tuh De."
"Ada-ada saja ih. Yuk ke kantin!"
Aku dan Dena berjalan beriringan menuju kantin. Lupa kalau aku belum mengajak Revo. "Sebentar, De. Sepertinya ada yang terlupa deh."
"Apa lagi, Zi? Buruan..., lapar ini."
"Kamu duluan aja, ngambek lagi nanti dia."
Ah iya, Revo belum diajak ya. Ya sudahlah, aku kantin saja duluan. - Dena.
***
Aku jalan beriringan dengan Revo di koridor menuju kantin. Tingkah Revo lagi aneh. Jari telunjuk dia berulang kali mau menusuk-nusuk pipiku. Tapi selalu tidak jadi karena ingat akan peraturan. Haha.
"Yang, kamu kenapa si? Jari kamu tolong dikondisikan."
"Aku gemas, Yang sama kamu. Hehe."
"Memangnya kenapa?"
"Pipi kamu makin chubby soalnya. Haha."
"Iih, itu berarti aku gendutan dong sekarang?" Aku memegangi kedua pipiku dan memeriksa lengan serta perut, dengan perasaan cemas.
Ah, sepertinya aku memang gendutan sekarang. Huhu.
"Haha..., gak sayang. Kamu gak gendutan. Itu hanya perasaan kamu saja. Lagi pula, rasa sayangku tidak akan berubah seiring tubuh kamu yang menggendut. Rasa cintaku dangkal kalau kayak gitu. Aku terima kamu satu paket. Hehe...!"
"Iih..., nyebelin. Tetap saja itu bikin aku keki. Kamu pandai ngegombal sekarang. Belajar dari mana?"
"Aku ini pujangga sayang, kamu saja yang tidak tahu."
"Haha, apaan dah! Ngelawak mulu."
"Aku serius." Revo ke depanku dan berjalan mundur. Wajahnya serius banget demi meyakinkanku.
"Yang, awas!"
"Baru juga dibilangin, Yang!"
Revo sudah terjungkal ke lantai, dia bertubrukan dengan seorang siswa yang tampak tidak fokus dengan jalan di depannya karena sedang membawa banyak buku.
"Duh, maaf ya!" Gadis berkacamata tebal itu tampak gugup dan merasa bersalah.
"Sudah, tidak apa-apa, dia yang salah karena sudah berjalan mundur." Ucapku.
Revo tampak kesal, namun segera kubantu dia berdiri.
"Yang, kamu jangan ulangi lagi. Kasihan cewek tadi, dia sudah gugup karena ketakutan kamu akan marah."
"Hehe, memang wajahku menyeramkan ya? Padahal aku sama sekali tak marah loh, Yang."
"Terus, maksud wajah kesal kamu tadi itu apa?"
"Hehe, itu biar kamu menatapku. Aku senang melihat matamu."
"Aastaga...!"
Aku mempercepat jalanku dan meninggalkan dia di belakangku karena terus bercanda dan menggodaku.
"Yang..., tunggu!"
Sampai di kantin, Dena dan Danu sedang menikmati bakmi. Aku mengambil tempat duduk di samping Dena dan Revo di samping Danu.
"Perut kamu tidak sakit lagi Dan?" Tanyaku.
"Sudah mendingan, Zi."
"Kamu kok nanya Danu saja, Yang? Gak tanya aku?"
"Memangnya kamu kenapa sayang?"
"Tidak apa-apa."
"Terus ngapain minta ditanya?"
"Ya pengen aja. Masa Danu ditanya. Dia kan sudah punya Dena yang bisa tanya dan perhatian sama Danu. Jangan ikut-ikutanlah, Yang."
"Cih! Kamu Vo, sama teman sendiri saja masih dicemburui." Protes Danu.
"Biar. Pokoknya Zi-ku hanya boleh nanya kabarku, perhatian ke aku, gak boleh ke yang lain. Apalagi kamu, Danu. Kuajak gelud kau nanti."
"Yang..., aku diancam." Danu memasang ekspresi takut ke arah Dena.
"Kalian berdua tak jauh beda. Sama-sama cowok pencemburu."
"Ealah, Yang! Aku kan mau dibela."
Semua pada ribut pengen dibela. Apa semua cowok kayak gitu ya? Huh. Setelah pesanan datang, aku tak bisa membiarkannya nganggur begitu saja. Perutku sudah konser sejak tadi. Mendengarkan ocehan Revo membuatku kelaparan.
"Yang, makan."
Revo mulai makan dan tak peduli dengan keadaan di sekitarnya. Dia kalau sudah makan, tenang, serius, tak bicara apapun. Khusyuk menikmati setiap sendok demi sendok yang dia masukkan ke dalam mulutnya.
Katanya salah satu cara menikmati karunia Tuhan adalah saat makan. Jadi mesti khusyuk tak boleh ribut atau bicara apapun. Nanti nikmatnya berkurang. Begitulah Revo, selain cerewet, dia kadang punya kebiasaan yang bikin orang tercengang.
"Yang, habiskan makanannya." Ujar Revo yang baru saja selesai menyeka mulutnya setelah minum.
"Udah kenyang, Yang."
"Kamu itu tak boleh begitu. Makanan harus dihabiskan, Yang. Kalau gak habis, itu tandanya kamu tidak mensyukuri nikmat Tuhan. Kamu tidak pernah melihat di luar sana banyak yang gak makan karena gak bisa beli atau gak punya makanan? Jangan mubazzir, Yang."
Tuh kan, ceramah lagi dia. Salah lagi aku. Tapi emang iya si, benar apa yang dia bilang. Aku harus bagaimana? Perut sudah kenyang begini?
Dengan terpaksa kuhabiskan juga bakmi itu, walau harus engap-engapan pada akhirnya. Akibat kekenyangan. Huh.