FIGHT FOR LOVE

FIGHT FOR LOVE
Part. 32



Keesokan harinya, motor Revo sudah parkir di depan rumah. Padahal masih pagi sekali. Aku bahkan sudah berpesan sebelumnya untuk tidak menjemputku terlalu pagi. Tapi ya begitulah, bukan Revo namanya jika dia tidak melakukan apapun sesuai keinginan sendiri.


Dengan cepat kuraih roti di meja makan dan bergegas keluar menemui dia. Jika tidak, dia bisa menyusul masuk ke dalam dan mencariku lalu banyak protes seperti yang sudah terjadi sebelum-sebelumnya.


"Sayang, kok pakai bando si?"


Tuh kan, baru juga dibilangin. Dia protes lagi. Emang kenapa sama bandoku si?


"Emang kenapa Yank?"


"Aku tidak suka, kamu seperti anak-anak SD ih. Lepas saja ya?"


"Gak mau!" Protesku tak mau menurut. Kedua tanganku bersidekap di dada dan tak mau melihat ke arahnya.


"Harus mau..., itu gak bagus menurut aku Yank."


"Tapi menurutku cantik kok, manis. Ih, masa kamu gak bisa lihat itu?"


"Nggak. Pokoknya lepas, atau kita gak akan berangkat ke sekolah."


"Heleh...," akhirnya aku mengalah. Dengan cepat kulepas bando itu lalu kumasukkan dalam tas. "Puas?" Tanyaku lagi.


"Bentar...," Revo merapikan sedikit rambutku. "Nah, kayak gini kan cantik. Aku suka rambut kamu yang polos tanpa aksesoris apapun. Rambut kamu sudah cantik, disematkan di telinga saja itu sudah bisa membuat kecantikan kamu makin terpancar."


"Astaga, masih pagi loh Yank. Simpan saja modus gombalanmu itu. Ayok berangkat!"


"Baiklah! Hari ini kamu tampak cantik, Yank!"


"Kemarinnya?"


"Cantik juga. Kamu akan selalu cantik di mataku."


"Aissh, mulai lagi kan. Yang, pokoknya jangan biarkan cewek bernama Yuna itu dekat-dekat kamu lagi."


"Yang, itu serius kamu cemburu beneran? Haha..."


"Jangan tertawa. Fokus bawa motornya."


***


Aku turun dari motor saat Revo berhenti tepat di parkiran. Aku menunggunya selesai menyimpan helm dan merapikan rambutnya. Setelah itu, kita berdua berjalan bersama menuju kelas. Dan insiden itu pun terjadi.


"Auuh...," pekikku sedikit merasa kesakitan di bagian lutut karena terjatuh. Kakiku seperti tersandung sesuatu.


"Sayang, kamu tidak apa-apa kan?" Ucap Revo dengan nada khawatir.


Aku mengangkat kepalaku dan melihat ke arah cewek yang berdiri tak jauh dariku. Senyumnya menggambarkan perasaan puas, tatapannya sinis melihat ke arahku.


"Makanya kalau jalan lihat-lihat." Ucapnya kemudian tertawa mengejek. Tangannya bersidekap ke dada, tawanya diikuti tawa kedua temannya yang puas melihatku tersandung oleh kakinya.


"Kamu sengaja kan?" Ucapku.


"Wow, kamu menuduhku?"


"Lalu kaki siapa tadi yang menyanndung kakiku?"


"Ishh..." Aku kesal dibuatnya.


Revo berdiri memperhatikan kami berdebat. Dan saat adu mulut itu semakin memanas, tangan Yuna refleks ingin menarik rambutku. Tapi di halangi oleh tangan Revo yang sudah mengibas tangan Yuna.


"Jangan sekali-kali menyentuh pacarku. Tidak ada seorang pun yang boleh menyentuhnya. Jangan sampai aku juga ikut berbuat kasar padamu." Ucap Revo tenang tapi menyiratkan peringatan dan tanda bahaya.


Yuna mendesah kesal dan pergi begitu saja bersama kedua temannya. Mereka mungkin satu geng yang kerjaannya hanya mengganggu kenyamanan orang lain. Aku baru tahu sekarang, kalau ada geng Yuna di sekolah ini. Beraninya cari masalah denganku.


"Kamu tidak apa-apa kan, Yank?" Tanya Revo.


"Tidak apa-apa. Makasih Yank. Aku masuk kelas dulu ya." Jawabku yang menatap Revo penuh rasa terimakasih.


Akhh, tidak apa-apa aku terjatuh barusan Yang. Aku senang karena kamu membelaku.


Aku masuk ke dalam kelas, Revo melambai dan berjalan ke kelasnya. Tak lama kemudian, Dena dan Danu tiba bersamaan masuk ke dalam kelas.


"Pagi, Zi!"


"Pagi, De. Pagi, Danu!"


"Eh rok kamu kenapa, Zi? Kotor begitu."


"Tadi ada insiden kecil. Untung saja ada Revo, kalau tidak, mungkin aku sudah cakar-cakaran kali."


"Hah! Insiden kecil kok tapi sampai mau cakar-cakaran, ada apa si?"


"Masih ingat cewek ganjen kemarin kan?"


"Kenapa lagi dia?"


"Dia menghalangi aku pakai kakinya, terus aku tidak perhatikan jalan dan jatuh tersungkur ke lantai. Melihat wajahnya, rasanya ingin kuhempas dia ke planet lain. Nyebelin!"


"Kok bisa?"


"Yah, sepertinya dia masih tidak terima dengan perlakuan kita kemarin di kantin. Makanya dia bawa rombongan untuk balas dendam."


"Serius? Separah itu?"


"Serius."


"Eh, kalian para perempuan suka banget nge-gosip ya. Masih pagi-pagi sudah ribut aja gibahin orang." Sergah Danu.


"Diam kamu, Yang. Jangan bicara dulu, biarkan aku dan Zi ngobrolin ini."


Danu pun pasrah jika sudah begitu, dia duduk di kursinya. Memainkan pulpen dan mencoret-coret tidak jelas. Sedangkan Dena dan Zi, masih larut dengan obrolannya tentang cewek bernama Yuna itu.


Bel masuk berbunyi, semua aktifitas serentak berhenti. Guru tiba beberapa menit kemudian dan seluruh ruangan menjadi hening. Semua perhatian tertuju pada sosok guru yang kini sudah mengambil alih kelas.


***


__________


Terimakasih sudah mampir membaca cerita atau kisah Revo dan Zi, juga Dena dan Danu yang penuh Lika liku. hehe