FIGHT FOR LOVE

FIGHT FOR LOVE
Part. 37



Pagi yang teduh, matahari masuk ke jendela kamar tak begitu terang. Aku masih meringkuk di balik selimut sebatas leher. Hari ini hari libur kan? Tidak perlu buru-buru bangun dari tempat tidur, mandi dan sarapan. Ah, andai semua hari adalah hari libur. Aku pasti akan sangat senang.


Hari-hari melelahkan, hanya belajar dan belajar. Ujian sudah seminggu lagi, 2 Minggu terakhir ini adalah minggu-minggu berat untukku dan anak sekolah di seluruh negeri ini mungkin. Ya, walau itu tentu saja hanya berlaku bagi para siswa yang nilainya tidak ingin jelek-jelek amat karena harus mengejar masuk Universitas yang memiliki nama besar dengan sejumlah prestasi.


Minggu ini tak ada lagi les, atau belajar bersama di rumah. Diberi nama Minggu tenang, agar otak tidak terlalu kram memikirkan pelajaran dan ujian. Huh, rasanya lebih lelah dari biasanya.


Aku merentangkan tangan untuk menyegarkan dan meluruskan persendian. Duduk malas di atas kasur dan hanya ingin seperti itu saja.


**Brrttt...


Brrttt...


Brrttt**...


Suara dari hapeku yang bergetar di atas meja. Aku sengaja menyetel mode getar tanpa suara. Cukup mengganggu soalnya. Aku meraih ponsel itu dan melihat ke layar.


Revo Honey memanggil...


Kenapa harus sepagi ini si? Batinku. Bukannya tidak ingin mengangkat, hanya saja aku masih malas untuk meladeni segala dia yang lebih panjang dari kereta tujuan Jakarta Bandung. Huh...!


Walau berat, tapi kuangkat juga telponnya. Jika terus kudiamkan dia akan terus berusaha dan tak mau menyerah. Dia bahkan bisa nekat datang langsung ke rumah bila diabaikan.


"..."


"Halo, Yang!"


"Mmm...," jawabku hanya menggumam.


"Sayang..., Zi...?!"


"Apa Revo Fidel Marcel...?" Kujawab setengah berteriak.


"Hehe, kamu baru bangun ya?"


"Kamu tukang ganggu, masih pagi begini juga."


"Aku ini pacar yang baik loh, masih ingin membangunkan kamu biar tidak telat. Karena tahu kamu pasti masih di tempat tidur."


"Nah itu tahu, Revooo..., hari ini aku hanya ingin bermalas-malasan. Jangan ganggu!"


"Tidak! Kamu ke jendela sekarang."


"Ngapain si?"


"Ke jendela sekarang."


Meski sedikit kesal, tapi aku tetap menuruti keinginannya.


Kubuka jendela dan kusibak tirainya, "Astaga...!" Pekikku tak percaya. Telpon kumatikan dan mendelik ke arah Revo di bawah sana, berdiri lengkap dengan setelan kaos dan celana training. Oh, masih ada yang lupa, senyum rasa tak bersalah khas Revo.


Nih anak doyan benar si melakukan hal aneh dan diluar ekspektasi.


Aku masih memaku diri di jendela. Dia malah terus memberi kode untuk turun segera.


"Nggak! Ngapain si?" Teriakku.


"Turun atau aku naik?"


"Hele..., nyebelin. Tunggu di bawah!"


Aku pun keluar kamar dan setengah berlari menuruni tangga.


"Zi, ada apa? Kenapa lari seperti itu?" Sapa Mama yang baru saja menyiapkan sarapan di atas meja makan.


"Ada orang gila, Ma!" Jawabku asal.


Ekspresi Mama terlihat kebingungan, kuabaikan dan terus berlari ke depan. Aku buka pintu dan Revo sudah berdiri di depan pintu. Nyaris saja kutabrak.


"Revooo, kenapa berdiri di situ? Hampir saja kutabrak."


"Kamu buru-buru amat si. Mau kemana?"


"Tuh kan, mulai amnesia. Tadi yang nyuruh aku ke bawah siapa?"


"Aku. Tapi tidak dengan pakaian seperti itu, Zi. Kamu masih pakai baju tidur. Kalau ada yang lihat di luar sana gimana?"


"Hais, ya sudah masuk dulu! Mama lagi nyiapin sarapan. Sekalian kita berangkat habis sarapan saja."


"Mau jogging kan?"


"Nggak. Siapa bilang?"


"Lah itu, kamu pakai seragam olahraga lengkap untuk apa?"


"Ya bukan untuk apa-apa, pengen aja. Kan ini hari libur, gak mesti pakai seragam sekolah kan?"


"Aastaga..., terserah kamu deh Yang." Aku mulai kesal dengan tingkah dia yang super duper menyebalkan itu.


Aku masuk ke dalam dan Mama bertanya lagi.


"Mana orang gilanya, Zi?"


"Tuh, Ma!" Tunjukku pada Revo yang baru saja menutup pintu.


"Haha..., Zi itu kan Revo. Masa pacar sendiri dikatain orang gila."


"Habisnya dia sudah gila. Pakai baju olahraga, bangunin orang pagi-pagi, datang ke rumah orang pakai gak bilang-bilang. Nyebelin tuh Ma, calon mantu Mama."


"Hehe, pagi Tante!"


"Pagi, Revo. Mau ke mana?"


"Mau jogging, Tante. Ini sekalian mau ngajakin Zi."


"Ide bagus itu, Zi sudah lama tak berolahraga."


"Iish, Revo nyebelin. Tadi ditanya mau ke mana katanya gak mau ke mana-mana. Giliran Mama tanya, bilangny mau jogging. Tahu ah, Zi mau tidur saja lagi."


Aku pura-pura ngambek dan ingin bergegas naik ke lantai atas.


"Sayang, kan cuma bercanda. Kok malah mau pergi?"


"Siapa yang mau pergi? Ini mau ganti baju dulu, katanya gak cocok keluar jogging pakai baju tidur. Apa begini saja?"


"Jangan, jangan! Ganti saja, aku tidak mau tubuh kamu jadi konsumsi publik. Itu semua milikku suatu saat nanti."


"Mah, calon mantumu makin ngelunjak. Umur baru berapa sudah berani ngomong 'milikku' Mah. Marahin, Mah!"


"Hehe, jangan. Ya sudah, aku tunggu di sini ya sayang. Sekalian sarapan dulu kan?"


Ih dasar cowok tak tahu malu. Haha.


Aku pun ke atas untuk berganti pakaian. Sekitar sepuluh menit turun lagi lengkap dengan pakaian berolahraga.


"Emm, Yang! Ganti!"


"Hah? Apaan?"


"Celana sama bajunya ganti."


"Memangnya kenapa?"


"Itu terlalu ketat, punyamu menonjol. Aku gak mau kamu diliatin orang terus."


"Astaga...! Jadi aku harus pakai daster ni?"


"Gak harus daster juga, Yang. Ganti pokoknya."


"Iyya bawel amat si."


Aku naik lagi ke atas. Mengganti pakaian dengan baju kaos yang agak longgar dan celana selutut yang sedikit longgar juga. Punya pacar kok gini amat ya. Hiks.


Tak lama, aku kembali ke bawah. Dia nyengir ke arahku dan menaikkan jempolnya satu.


Baiklah, senang kamu sekarang. Belum olahraga sudah keringatan begini, gara-gara naik turun tangga gonta ganti baju.


"Yuk!"


Dia mengajak pergi tanpa rasa berdosa. Argh, inginku mengacak-acak rambut jambulnya itu.


***