
"Kamu masih bete ya?" Tanya Romi saat melihatku sedang menyetel siaran TV berpindah-pindah dari Chanel satu ke Chanel yang lain. Tanpa berniat menontonnya.
"Memangnya kamu pikir apa?" Jawabku tanpa melirik ke arahnya.
"Minggu depan sudah pendaftaran SNMPTN. Kita daftar sama-sama ya." Ucapnya berusaha bersikap manis padaku.
"Tidak mau. Urus saja sendiri. Kenapa mesti mengajakku lagi. Aku tidak mau. Jangan mencoba berbaik hati denganku. Sejak awal kamu sudah menyebalkan, kamu sudah kuanggap musuhku." Jawabku semakin acuh padanya.
"Kalau ini karena pacarmu, aku minta maaf. Aku akan menjelaskan semuanya padanya."
"Memangnya kamu tahu, siapa pacarku?"
"Hehe, tidak tahu.Kan kamu belum ngasih tahu." Jawabnya seraya menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Sudah sana! Aku tidak mau diganggu. Semua rencanaku gagal, karenamu."
"Terserah, kamu. Yang penting aku sudah minta maaf."
Romi pun pergi. Tinggal aku sendirian kayak orang ****. Tak lama kemudian kudengar seperti ada suara mobil datang. Namun aku malas untuk mengecek siapa yang datang. Bel berbunyi, aku panggil Bibi untuk membukanya.
Tak disangka...
"Eh..., kalian sudah datang! Ayo masuk!" Sapa Mama yang muncul begitu saja dari dapur.
Hah? Siapa memangnya yang datang. Kok sepertinya Mama senang banget. Aku menoleh ke arah tamu itu. Dan, astaga...! Tante Maya dan Om Marcel. Aku terlonjak dari tempatku duduk. Memastikan apa yang baru saja kulihat. Mengapa mereka datang?
"Zi, bengong saja. Ayo salim!" Mama mengagetkanku untuk kedua kalinya. Aku pun segera salim ke mereka berdua.
"Tante..., Om!"
"Zi, kamu tampak cantik sekali hari ini?" Goda Tante Maya.
Cantik apaan? Wajah masam begini masih dibilang cantik. Tante Maya ini mengada-ada.
"Revo mana Tante?" Akhirnya aku beranikan diri untuk bertanya tentang keberadaan Revo yang tak ada bersama mereka.
"Latihan. Paling sebentar lagi sampai. Tante sudah bilang agar dia menyusul ke rumah kamu."
"Oyyah? Ya sudah, Tante duduk dulu. Zi mau ke atas dulu. Sepertinya Zi butuh merapikan rambut."
Aku pun segera berlari ke lantai atas. Tepatnya ke kamarku. Baru mau masuk kamar, sudah dihadang duluan sama si rese Romi.
"Heh, musuh! Mau ngapain? Buru-buru amat. Siapa di bawah?"
"Calon mertuaku. Sudah ya, aku mau mandi dulu." Jawabku asal lalu masuk ke dalam kamar.
"Cih...!" Kudengar Romi ber-cih panjang. Haha. Mungkin jijik dengan ucapanku barusan. Biarin saja. Memangnya kupikirin.
Sekitar lima belas menit kemudian. Suar deru motor Revo sudah terdengar memasuki halaman rumah. Aku pun melihat lagi ke cermin. Mematut diri, apa sudah pantas dengan pakaian yang kukenakan atau belum.
Setengah berlari, kuturuni tangga dengan bersemangat. Bersamaan dengan Revo yang baru masuk ke dalam rumah dan duduk di sofa ruang tamu.
"Hai..." Sapaku agak canggung. Serasa baru bertemu lagi setelah sekian lama.
"Hai..." Balasnya tapi dengan nada lebih cuek
dariku.
Ishh tuh anak kenapa si? Nyebelin banget. Baru juga ketemu sudah bikin keki kayak gini.
"Kamu marah?"
"Tidak."
"Terus?"
"Aku kecewa."
"Karena foto kiriman Yuna? Memangnya kamu percaya?"
"Mengapa aku harus tak percaya? Wajah kamu jelas-jelas ada di sana bersama seorang cowok. Aku juga tak kenal siapa cowok itu. Kamu kan tahu aku cemburuan. Kamu sengaja?"
"Sengaja apa?"
"Sengaja pamerin itu di depan Yuna. Biar dia lapor ke aku dan aku cemburu."
"Hah! Gak lah. Kurang kerjaan amat. Yuna itu yang gak ada kerjaan, main foto orang sembarangan. Memangnya siapa dia?"
"Apa? Jadi Yuna nembak kamu? Ishh dasar cewek gak bener. Bisa-bisanya nembak cowok orang."
"Memangnya kenapa?"
"Terus kamu terima tidak?" Aku sudah mau menangis saat bertanya itu. Namun kutahan.
"Ya nggaklah! Ngapain?"
"Fiuh...! Syukurlah." Jawabku lega.
"Kamu kenapa?"
"Andai saja kamu bilang kamu terima Yuna, maka saat ini juga kamu akan melihat sisi aku yang lain. Aku akan membunuhmu!"
"Dih! Sadis amat. Ogah ah punya cewek tukang bunuh kayak kamu."
"Kan aku belum bunuh kamu. Masa sudah dibilang tukang bunuh."
"Au ah!"
Kita berdua pun jadi diam. Tidak ada yang mau bicara lagi.
"Kalian kenapa jadi saling diam? Ada yang salah?" Tanya Papa yang baru saja pulang.
"Om, Revo mau bicara. Tolong dengerin sebentar saja." Nafa bicara Revo tiba-tiba saja berubah, menjadi seperti orang dewasa. Haha.
"Iyah boleh. Ada apa Revo?"
"Tapi aku juga mau, ada Papaku, ada Mama, dan ada isteri om di sini." Lanjutnya tegas tanpa dibuat-buat.
Apaan si nih orang. Mau ngapain coba? Memangnya mau ada rapat keluarga? Hele..., bikin penasaran saja.
"Ya sudah boleh. Mana mereka?" Tanya Papa.
"Sebentar, Om. Aku panggil mereka. Sepertinya ngobrol di taman belakang."
"Emm..., sekalian saja ngobrol di sana biar lebih santai. Om yang ke sana. Kamu dan Zi ikut saja."
"Ide bagus, Om."
Dengan perasaan cemas, aku mengikuti langkah Papa dan Revo. Perjalanan ke taman belakang, entah kenapa terasa lebih jauh dari sebelumnya. Huh.
"Hei..., Papa sudah pulang! Sini Pah, ada Maya dan Marcel."
"Hei bro...!" Sapa Papa ke Om Marcel.
Setelah sambutan selamat datang yang singkat. Merekapun kembali duduk santai. Revo kembali mengambil ancang-ancang di tengah obrolan para orang tua.
"Namaku Revo Fidel Marcel, izinkanlah berbicara sebentar di depan para orang tua yang sangat kusayangi." Ucapnya sambil berdiri dan penuh percaya diri.
"Haha..., kamu formal sekali Revo. Ada apa? Bicaralah!"
"Anak kamu tuh Cel, aku baru datang sudah disuruh untuk mendengarkan dia bicara. Ya sudah aku ajak kemari biar kita semua dengar."
"Oh begitu. Baiklah, Revo bicaralah!"
"Mengingat ujian sudah selesai, pengumuman sudah ada, nilai juga bagus semua, maka dengan ini Revo Fidel Marcel memohon dengan sangat agar penangguhan hubungan Revo dengan Zi dicabut. Sekian dan terimakasih."
Haha...
Haha...
Semua orang tergelak dalam tawa. Tidak menyangka kalau Revo akan mengatakan hal itu. Terlebih aku, saat dia selesai mengucapkan kalimat itu, aku terbengong sesaat. Ha! Gila, pacarku memang pemberani. Hehe.
"Wah, wah...! Sepertinya ada yang sudah tidak tahan berjauhan. Bagaimana para orang tua? Akankah restu kembali? Akankah kita mencabut penangguhannya?"
Papa terlihat puas tertawa. Hanya Om Marcel yang tampak lebih serius. Aku jadi takut melihatnya.
"Karena kalian sudah bekerja keras. Maka dengan ini, Papa mencabut surat penangguhan pacaran kalian." Ucap Om Marcel penuh penekanan.
Ah, aku lega sekali. Revo berdiri dari duduknya dan menyalami para orang tua dengan penuh rasa bahagia.
"Terimakasih, Pa, Ma. Om dan Tante. Terimakasih." Ucapnya seraya menyalami mereka satu-persatu.
Aku pun melakukan hal yang sama. Ah, kupikir, Revo marah kemarin-kemarin. Dia mengabaikan telponku, Chatku, semuanya. Rupanya dia mempersiapkan untuk hari ini. Ah, so sweet sekali. Terimakasih sayang.