FIGHT FOR LOVE

FIGHT FOR LOVE
Part. 40



Halo Readers Mak..., semoga kalian sehat selalu dan puasanya lancar. Baca Pacarku Posesif, setelah baca jangan lupa untuk tinggalka komentar tentang ceritanya ya. Like juga vote jangan sampai lupa. Hehe


_____________


Revo kelihatan sangat kecewa dengan keputusan para orang tua, walau dia tahu itulah konsekuensi yang harus dia terima karena telah melanggar peraturan yang telah disepakati dari awal. TIDAK ADA KONTAK FISIK.


Dena juga Danu terlihat dari wajahnya, mereka cukup terkejut dengan keputusan para orang tua yang sangat tegas dan tak bisa dibantah.


“Zi, sabar ya.” Dena berusaha menghiburku, jujur aku juga sangat sedih atas keputusan ini.


Revo dan Danu juga sedang ngobrol, mungkin Danu menghibur Revo yang juga tak menyangka bahwa dia akan putus begitu saja dariku. Ah, Yang. Maafin aku.


“Tenang saja Zi, kalian pasti balik lagi. Syarat dari Papa Revo pasti bisa kamu taklukkan. Toh selama ini kamu juga sudah jadi bintang kelas, bahkan bintang sekolah. Revo juga bukan siswa yang bodoh-bodoh amat kan. Aku yakin kalian berdua bisa melewati ini dengan baik.”


Apa yang dikatakan Dena ada benarnya juga, lagi pula ini hanya sementara. Fokus ke depan adalah bagaimana bisa mendapatkan nilai terbaik saat ujian. Oke semangat!


Saat Revo pulang bersama orangtuanya, kulihat dia begitu sedih dan banyak diam. Dia tertunduk seakan merasa bersalah atas semua kejadian ini. Harusnya, momen ulang tahun ini adalah momen bahagiaku tapi ternyata malah berakhir seperti ini.


***


Sebuah pesan masuk ke ponselku.


Maafkan aku, Yang.


Gara-gara aku, hubungan kita jadi berantakan.


Aku janji, aku akan berjuang memperbaiki semuanya.


Aku janji akan mendapatkan nilai yang terbaik.


Pegang janjiku, Yang!


Hah.


Aku menarik nafas panjang dan membuangnya. Dadaku agak sesak. Baiklah, aku hanya perlu percaya dan meyakini.


Aku membiarkan pesan Revo, kutarik selimut dan tidur. Malam ini sangat melelahkan. Bukan hanya dadaku yang sesak, tapi kepalaku juga terasa dipenuhi banyak hal. Fokus pada ujian, itulah yang harus kulakukan.


Keesokan harinya, untuk pertama kali aku merasa ada yang beda. Terasa kosong dan hampa. Biasanya, saat pagi aku sudah kejaran dengan waktu karena Revo selalu datang kepagian untuk menjemput. Sekarang, aku harus berangkat bersama Papa dan Mama.


Ujian dimulai jam 07.30 pagi, aku berangkat dari rumah bersama Papa dan Mama jam 06.00 pagi.


“Zi, diam saja. Bagaimana persiapan kamu menghadapi ujian?”


“Ya, Ma…?”


“Kamu melamun ya? Gimana persiapan ujian kamu?”


“Sudah kusiapkan segalanya jauh-jauh hari, Ma. Tidak perlu khawatir.”


“Zi, jangan pikirkan keputusan semalam. Hal itu jangan sampai mengganggu konsentrasi belajarmu. Ingat, masa depan adalah hal penting. Lebih penting daripada sekedar pacaran, waktu kamu masih panjang.” Papa berbicara sangat serius.


“Iya, Pa.”


Suasana hening kembali tercipta. Aku kembali memperhatikan lalu lalang jalanan dari balik kaca jendela mobil. Seperti biasa, hari senin adalah hari yang sangat ramai. Beberapa saat kemudian, kami pun tiba di sekolah. Aku menyalami punggung tangan Papa dan Mama sebelum turun dari mobil.


Di gerbang sekolah aku berpapasan dengan Revo. Aku tersenyum padanya dan dibalas senyum juga. Di parkiran ada Dena dan Danu yang baru saja selesai memarkir mobilnya.


“Pagi, Zi!” Dena menyapaku dan merangkul bahuku.


“Pagi, De…!”


“Zi…, Dena…, kenapa kalian pelukan seperti itu?” Revo mulai protes, barangkali tidak sadar kalau aku dan dia sudah putus sekarang.


“Vo, lupa ya? Kalian kan sudah—


“Eh, iya. Maaf. Hehe.”


Revo mendengus kesal dan pergi ke kelasnya.


Maafin aku, Yang. Hubungan kita harus seperti ini.


“Revo…,” panggil seorang cewek. Saat itu, posisiku sudah mau masuk kelas. Namun, karena mendengar seseorang memanggil nama Revo, aku auto berhenti dan melihat siapa orang itu.


Yuna. Gumamku dalam hati. Mau apa dia menemui Revo? His, dasar cewek ganjen. Tidak bisa melihat cowok orang nganggur sedikit saja.


Astaga, kenapa giliran aku yang marah-marah si. Apa benar aku sedang cemburu? Mengingat status aku dan Revo sekarang, rasanya ingin nangis. Hiks.


“Ya, Yun. Ada apa?” Aku mencuri dengar obrolan mereka dari pintu kelasku.


“Kudengar, kalian putus ya? Asyik, sekarang aku bisa dong dekatin kamu.”


Hishh…, dasar ganjen. Apaan si, Yuna. Awas saja kalau kamu berani dekati Revo.


“Coba saja. Tapi sepertinya kamu harus kerja keras, Yun. Aku memang sudah putus dari Zi, tapi bukan berarti hatiku mudah berpaling ke cewek lain.”


Deg!


Aku mendengarnya dengan jelas. Yes, Revo tidak suka pada Yuna.


“Baiklah, akan kucoba. Jangan salahkan aku, jika aku bisa mendapatkanmu, Vo.”


Sialan Yuna, berani sekali dia bicara seperti itu. Tidak akan kubiarkan.


Selesai mereka bicara, aku kembali ke tempat dudukku. Dena yang mengamati sejak tadi hanya menggeleng kepala.


“Kok jadi gentian kamu yang seolah takut banget Revo diambil orang, Zi. Jangan-janga sifat posesifnya juga nular ke kamu, Zi. Hhehe…”


“Terus saja mengejek, terus saja tertawa De. Habis aku kesal sama si Yun, Yun itu. Tahu dari mana dia, aku putus dari Revo. Jangan-jangan dia dengar lagi ucapan kamu De, kemudian dia menyimpulkan sendiri saat reflek kututup mulutmu tadi.”


“Bisa jadi, Zi. Ya sudahlah, tidak usah pikirkan itu dulu. Sekarang yang terpenting adalah kalian bisa mendapatkan nilai bagus agar bisa balikan lagi.”


“Pastinya. Huh! Semangat!”


Jam sudah menunjukkan pukul 07.25, itu artinya ujian sebentar lagi dimulai. Terlihat dua orang pengawas masuk ke ruangan. Eh iya, aku lupa cerita kalau kelas kami sekarang sudah difasilitasi perangkat laptop dan set computer untuk pelaksanaan ujian secara online.


Kedua pengawas itu duduk, beri salam dan mengajak untuk berdoa bersama.


“Agar ujian kalian hari ini lancer, maka ada baiknya kita awali dengan berdoa. Berdoa sesuai ajaran agama dan keyakinan masing-masing. Doa dimulai.”


Semua kepala tertunduk khusyuk dan berdoa. Aku sedikit mengalami syndrome, karena ini adalah ujian pertama kami menggunakan system berbasis online.


Salah satu pengawas berdiri dari duduknya dan mulai membaca aturan selama ujian berlangsung. Kita semua mendengar dengan seksama dan tak melewatkan apapun.


“Baiklah, ini adalah kode token untuk masuk ke dalam system di mana kalian akan menjawab soal. Masukkan nomor ujian kalian dan nomor token yang Bapak tulis di papan tulis ini.”


Instruksi itu cukup jelas. Bismillah…!


Akupun login dan mulai menjawab soal yang sudah disediakan. Tak ada suara, kelas hening cipta. Semua sibuk dengan layar di depan masing-masing. Hari pertama ini adalah ujian Bahasa Indonesia.


Argh…, teksnya kok bisa sepanjang ini si? Mana sempat membaca teks panjang dengan soal empat puluh nomor dan waktu hanya Sembilan puluh menit. Bisa-bisa aku ketinggalan ini.


Aku pun mengingat-ingat kembali pesan guru bimbel saat ikut les. Bahwa cara menaklukkan soal Bahasa dengan teks panjang adalah, baca apa mau soal terlebih dahulu baru baca inti dari teks itu sendiri.


Hmmpt.


Baiklah! Saatnya berjuang.


***