
Sebenarnya bosan juga di rumah sakit. Apa daya luka masih basah begini. Jahitan juga belum rapat. Ini baru selesai ganti perban aja rasanya nyeri banget. Kata susternya mesti nunggu beberapa hari lagi ke depan.
Aku sendirian di rumah sakit. Semuanya pada sekolah. Mama pulang dulu bentar. Papa ngantor. Mau tidur susah meremnya.
Ceklek!
suara pintu terbuka. Mataku langsung tertuju ke arah sumber suara. Sosok tinggi dengan badan yang cukup berisi menyembul kepalanya dari sana sambil nyengir.
"Heh! Ngapain di sini? Kan sekolah."
"Bolos. Hehe. Bohong, aku udah izin kok."
"Beneran?"
"Iyah, sumpah. Tuh ada dia juga." Tunjuknya pada sosok yang masih bersembunyi di belakangnya. Dena.
"Dena?"
"Hehe, Iyah. Di sekolah kurang seru gak ada kamu."
"Tumben kalian jadi kompak gini. Biasa juga berantem mulu."
"Demi misi menjenguk kamu Yang. Wkwkw."
"Kamu sendirian?" Dena tanya.
"Iyah. Mama pulang sebentar ganti baju.
"Woah, tepat sekali berarti. Kita datang buat hibur kamu." Jawab Revo.
"Kalian datang rusuh. Hehe. Tapi aku senang."
"Vo, ingat perjanjian kita tadi di jalan sebelum ke sini. Gak boleh ada adegan mesra-mesraan. Aku jadi obat nyamuk tahu rasa kamu nanti."
"Tapi manggil sayang boleh dong."
"Ishh..."
"Makanya De, kenapa kamu gak sama Danu saja? wkwkw." Ujarku bercanda.
"APA?! Gak salah dengar? Gak mungkinlah aku suka sama dia. Gak jelas begitu anaknya."
"Jangan begitu De, benci itu bisa saja jadi cinta loh. Hati-hati." Tambah Revo.
"Bener tuh Yang. Awas kena kurma kamu De."
"Kurma apaan?"
"Karma maksudnya. Hehe."
"Kalian berdua kompor. Nyesel aku ikut kamu Vo."
" Haha, santai De. Ya namanya juga kita gak tahu. Siapa tahu di masa depan kamu malah berjodoh sama dia----
"Sekali lagi kamu ngomong tentang dia kupites kepalamu Vo." Potong Dena mengancam.
Yang diancam malah ketawa ngakak karena puas menggoda Dena. Perihal Danu, aku sudah jujur sama Revo. Kalau sebenarnya Danu itu narik tanganku ke perpustakaan karena mau minta bantuanku untuk mendekati Dena. Jadi Danu itu suka sama Dena, cuma karena Dena cuek dan judes terus sama dia, jadi dia tidak bisa mendekati Dena dengan leluasa.
"Ampun Dena. Cuma bercanda, ya ampun. Belum tentu juga kan Danu suka sama kamu apalagi jadi jodoh kamu. Wkwkw..."
"Tuh kan, mulai terus. Pulang nih!" Ucap Dena ngambek.
"Udah Yang, jangan dipancing terus dianya. Kasian Dena. Hehe. Jangan pulang dulu, aku masih mau kamu di sini."
"Pacar kamu nyebelin."
"Ya sudah aku keluar dulu deh. Cari makan buat kalian berdua." Pamit Revo. Karena kehadiran dia di sana sudah sangat membuat Dena kesal. Haha.
"De, kasus yang kemarin gimana?"
"Ternyata benar siswi dari sekolah kita. Kelas XI. 2. Jadi menurut info yang beredar tuh, dia anaknya agak pendiam, terus punya pacar anak dari sekolah lain. Terus mereka melakukan hubungan seperti suami isteri dan pacarnya ini nyebarin. Ternyata selama ini, si pacarnya ini cuma manfaatin dia saja. Cuma ingin keperawanan si cewek itu, direkam lalu disebar."
"Duh, ngeri ya. Aku sampai merinding mendengar cerita kamu. Terus teman dia yang kemarin itu gimana?"
"Belum tahu. Dia gak pernah masuk sekolah lagi sejak kejadian kamu didorong sama dia di kantin. Cuma kabar bagusnya adalah, si cowoknya itu sudah diringkus polisi. Walau sayang si cewek yang teman sekolah kita ini sudah terlanjur bunuh diri. Karena gak sanggup, videonya sudah disebar. Banyak yang membully dia juga. Sudah lengkaplah!"
"Kasian. Aku kok pengen nangis jadinya. Tragis banget. Anak remaja seusia kita ini rentan banget ya. Entah karena faktor apa sampai fenomena tentang pornografi ini seperti tidak ada habisnya dengan banyak kasus dan motif yang berbeda."
"Sini peluk dulu."
Sebenarnya Dena itu memiliki hidup yang kesepian. Makanya tak jarang dia itu terlihat pendiam. Tapi sekali ngomong bisa pedas banget. Dia juga agak tertutup, mungkin dia itu terbuka hanya sama aku. Itulah sebabnya kamu tumbuh seperti saudara. Bahkan ada yang bilang kita berdua ini kembar. Karena sering bersama dan memang terlihat sekilas mirip.
"Eh ngapain peluk peluk?" Tiba-tiba suara Revo memecah suasana di dalam ruangan rawat.
Pelukan aku dan Dena terlepas.
Astaga jangan bilang, sifat cemburunya balik lagi. Hadeehh...
"Yang, aku kan sudah bilang jangan kontak fisik."
"Ini sama Dena loh Yang. Kita pelukan cuma saling menguatkan."
"Tetap saja, aku tidak bisa melihatnya. Aku juga mau dipeluk."
"Eh gak boleh. Ngomong suka sembarangan deh Yang. Mau kamu, kita diminta paksa untuk putus?"
"Gak jadi kalau begitu." Balasnya merengut seraya meletakkan kantongan di atas meja dekat tempat tidurku.
Haha dia lucu kalau sudah seperti itu. Dibatasi peraturan bukan berarti membuat hubungan kita jadi kurang seru kok Yang. Sabar ya ada waktunya. Hehe.
"Bawa apa Vo?" Dena tanya.
"Buka saja sendiri." Jawabnya sedikit ketus. Rupanya dia masih ngambek lihat aku pelukan sama Dena. Ckckck.
"Yang, jangan kayak anak kecil deh."
"Iyah, iya. Maaf."
"Vo, maaf lo ya. Tadi gak bermaksud apa-apa meluk Zi. Jadi salahkan akunya."
"Gak papa De, tidak usah dipikirin. Kamu kayak gak tahu dia saja."
"Kalian ngomongin aku ya?" Wajahnya mendongak ke arahku dan Dena.
"Nggak Yang."
"Itu barusan?"
"Iya ngomongin kamu yang cemburuan. Haha." Jawab Dena bercanda.
"Hmm, kalian makan dulu. Aku mau keluar sebentar."
"Eh mau ke mana? Jangan ke mana-mana aku mau ditemenin makan." Ucapku.
"Serius Yang? Ya udah gak jadi pergi. Kirain aku sudah gak dibutuhkan lagi."
"Iish, ucapanmu itu Yang. Menyakiti aku loh."
"Eh maaf. Mananya yang sakit?"
"Dan.... drama telenovela dimulai...!" Seru Dena seraya memeragakan adegan tepuk tangan. Haha.
"Dena diam..." Balas Revo.
"Udah Yang makan gih."
***
Terkadang, jika kita tak bisa menahan diri. Maka apapun bisa terjadi ketika kita memiliki hubungan spesial dengan orang lain. Bukan orang lain yang akan mengingatkan dan menyelamatkan kita dari apapun, melainkan diri kita sendiri.
Pacaran boleh saja, asal tak berlebihan. Berapa banyak nyawa yang harus hilang karena memaksakan kehendak atas sebuah hubungan? Atau berapa banyak anak yang harus lahir tanpa ayah atau ibu karena kebodohan mengikuti hawa nafsu? Dan berapa orang tua yang harus malu dan sedih karena merasa gagal dalam mendidik anak-anaknya?
Ah, kenapa aku mendadak jadi melow begini? Berasa jadi emak-emak pula. Sebuah hubungan jika tak dilandasi dengan pondasi yang kuat, maka bukan hanya hancur tapi runtuh hingga menghancurkan apapun yang di bawahnya.
Oleh karena itu, jaga diri. Kita adalah milik diri kita sendiri. Kasian temanku sudah bunuh diri hanya karena kelakuan iseng laki-laki gak pernah belajar moral. Huh, jadi emosi kan.
Sudahlah, aku istirahat saja.
***
Halo maaf, jika cerita ini kurang seru. semoga kalian tetap baca ya.