
Apaan coba Revo, niat ngajakin lari pagi, tahunya malah diajak makan eskrim. Di cafe pula. Gila kali dia. Mana pakaian olahraga gini. Astaga.
"Yang, kenapa kita naik motor? Katanya mau lari pagi."
"Capek lari, naik motor saja. Memangnya kamu mau lari sampai cafe di ujung jalan komplek rumah kamu?"
"Hah? Cafe? Ngapain ke cafe pake baju olahraga gini?"
"Aku lagi pengen makan ice cream. Niatku berubah. Tadinya memang mau lari pagi, tapi kupikir ke cafe sajalah makan ice cream."
"Hah? Pagi gini makan eskrim?"
"Memangnya kenapa? Aku lagi pengen."
"Ya sudah, kamu makan sendiri saja."
"Yakin gak mau nyobain juga?"
"Nggak!"
Motor berhenti tepat di depan cafe yang memang selalu menjadi tempat tongkrongan anak muda. Belum lagi cafe itu terkenal dengan ice cream-nya**. Sudah menjadi rahasia umum kalau cafe itu menjadi favorit orang-orang.
Aku turun dari motor, menyerahkan helm ke Revo. Aku memasang tampang cemberut. Gak asik banget pake baju ginian 'ngafe'.
"Masuk yuk, sayang!"
Dengan malas aku mengikuti langkah Revo. Masuk ke cafe, kok ada yang beda? Cafenya sepi. Padahal biasanya rame banget. Aku baru sadar pas di dalam, di luar juga tidak ada kendaraan yang parkir. Biasanya banyak dan kerepotan nyari parkiran. Apa mungkin karena ini masih pagi kali ya?
"Yang, kok sepi si?" Kutanya Revo yang sudah duduk saja dengan santai.
"Ya bagus dong, sepi. Kita bisa berduaan saja kan? Hehe."
"Tapi kan gak seperti biasanya, Yang. Kamu tahu kan maksud aku?"
Dia hanya menaikkan bahu, apaan itu. Ishhh, orang ini kok makin nyebelin si. Kalau bukan pacar, sudah kutinggal dari tadi.
Arhhhh..., mana jatah tidurku berkurang lagi. Harusnya aku masih di tempat tidur ini leyeh-leyeh, nyantai, apalagi Minggu depan ujian. Hiks.
Tak lama kemudian seorang pegawai di cafe itu muncul dengan eskrim super gede, berwarna warni dan kelihatannya sangat menggoda iman. Sepertinya enak banget. Aku sampai nelan ludah.
Pegawai cafe itu meletakkan eskrim raksasa berbentuk hati dan dipenuhi warna pink dan buah strawberry.
Tunggu, tunggu, kenapa strawberry? Aku kan belum bilang ke pelayan aku suka strawberry dan kenapa eskrimnya harus segede gaban?
Aku masih tidak habis pikir dengan semuanya. Belum lagi di tengah eskrim itu ada lilin yang menyala. Herannya kenapa eskrim itu gak meleleh dengan cepat ya?
"Terimakasih." Ucap Revo kepada pegawai cafe yang mengantar Eksrim tersebut.
"Sama-sama." Jawabnya.
Saat pegawai itu hendak pergi, aku memiliki ide untuk bertanya. "Mbak, ini kok sepi ya? Biasanya rame."
Pegawai itu tersenyum dan menggumam tak jelas. Aku sampai heran dibuatnya.
"Selamat ulang tahun..., selamat ulang tahun..., selamat ulang tahun Zida, selamat ulang tahun...!"
Revo berdiri dari duduknya dan menyayikan lagu selamat ulang tahun.
Astaga..., jadi ini maksudnya? Aaaakk, tolong, aku ingin menghilang sejenak. Aku terlalu bahagia sekaligus malu karena sudah berpikiran buruk terus ke Revo. Hehe.
"Sayang..., ih kok gitu si!" Ucapku serasa tak percaya dan terharu. Air mataku merembes di sudut mata.
"Selamat ulang tahun, kekasihku Zida Ayunda Ramos. Semoga selalu sehat, panjang umur, serta mulia. Terakhir semoga makin sayang sama aku, pacarnya yang paling setia ini. Hehe."
"Revo..., kamu pasti sudah merencanakan ini semua kan? Kok bisa aku gak tahu si? Bodohnya aku, kok bisa aku sampai lupa ulang tahun sendiri. Haha."
"Tiup dong lilinnya. Eh tapi buat pengharapan dulu. Jangan lupa selipin aku dan kita dalam setiap doamu."
Aku memejamkan mata sebentar sembari berdoa. Setelah itu tiup lilin yang hanya ada aku dan Revo di sana. Para pegawai cafe entah kemana.
"Sayang, makasih ya." Aku hanya bisa tersenyum tulus kepada Revo. Selama ini aku sudah terlalu banyak bersalah padanya. Suka mengabaikan dia dan perhatiannya.
Ahhhh, Revo kamu sweet sekali. Hihi.
Saat aku duduk lagi, eh tahu-tahu.
Cup!
Hah? Astaga, Gimana ini? Revo cium pipiku. Kok ada sengatan gitu tadi ya? Sepeti tersengat listrik, tapi kok malah menenangkan. Akkk, aku bisa gila. Revo sudah melanggar peraturan. Aku juga kenapa gak bisa reflek si. Tolak kek, apa kek. Mama sama Papa marah gak ya.
"Hehe, gemes. Habisnya kamu bikin aku tidak bisa untuk tidak mencium pipimu itu."
Aku memegang kedua pipiku.
"Ada apa sama pipiku?"
"Pipi kamu memerah kayak udang rebus. Sudah ah, ayok makan eskrimnya. Keburu mencair nanti."
"Yang, orang tua kita marah gak si kita melanggar peraturan."
"Biar aku yang tanggungjawab. Sekarang tidak usah mikirin itu, makan dulu eskrimnya."
Ini adalah momen ulang tahun terindah buatku di sweet seventeen. Aku harus berterimakasih pada Revo yang sudah melakukan ini semua untukku.
Benar-benar di luar rencana dan tak terduga. Tak lama kemudian, seorang pegawai cafe muncul lagi. Membawa buket bunga Lili yang aromanya sangat menarik di hidungku.
"Selamat ulang tahun, Nona. Ini hadiah dari kami." Ucap pegawai itu.
Aku diam dan tak tahu lagi harus berucap apa.
"Bilang terimakasih, Yang. Malah cium-cium bunga."
"Hehe, eh iya. Terimakasih Kak."
Pegawai itu pergi. Kita berdua pun kembali menikmati eskrim yang sudah diantar tadi Revo sangat menikmatinya. Aku hanya sesekali nyemil strawberry yang ada di atas eskrim itu. Aku takut gendut lagi. Hehe.
"Yang, pulang yuk!" Revo berdiri dan keluar dari cafe begitu saja. Dia bahkan tidak mengucapkan terimakasih kepada pegawainya. Atau membayar tagihan yang tadi sudah kita makan.
"Yang, kok gak bayar?"
"Kata pegawainya gratis. Ya sudah gak bayar."
"Kapan ngomongnya?"
"Tadi, kamu gak denger si."
Hah? Apa yang kulewatkan si? Perasaan tadi emang gak ada obrolan semacam itu.
Aku hanya nurut apa yang dikatakan Revo. Kita pulang ke rumah dan dia tak membahas apapun soal yang terjadi di cafe tadi.
"Sudah sampai, Yang! Kamu turun, aku mau pulang. Jangan rindu."
"Langsung?"
"Kenapa? Kamu sudah rindu lagi?"
"Iih, Revo ih."
"Ya sudah, aku tinggal di sini dulu kalau kamu masih rindu."
"Nggak!"
"Oh, nggak. Jadi gak rindu? Oke, aku pulang dulu ya."
"Nggak gitu. Kamu ih."
"Sayang, kamu mulai tidak jelas loh. Kamu sehat kan?"
"Revooo...! Ya sudah pulang sana. Hati-hati di jalan. Makasih ya sudah merusuhi pagiku. Terimakasih untuk perayaan ulang tahunnya."
"Bilang, aku cinta kamu, dong."
"Haha, malu."
"Oh malu, ya sudah aku pulang."
"Aku cinta Revo."
"Kucinta anaknya Papa Ramos. Hehe."
Revo pun pergi, aku senyum-senyum sendiri sudah seperti orang gila sepeninggal Revo tadi. Hehe.
Belakangan aku tahu kalau cafe itu sengaja direservasi oleh Revo hanya untuk merayakan ulang tahunku berdua dengannya. Haha, punya pacar kok gini amat si baiknya. Kalian jangan ngiri ya, bacanya juga gak usah senyum-senyum, nanti dikira stres. hehe.
***
Terimakasih sudah mampir dan membaca karya-karya Mak ya. muahh