
Aku habis ngobrol panjang kali lebar dengan Revo di telepon yang tentu saja pakai hape jadul punya Bibi. Aku jujur ke Revo kalau dan Romi akan dijodohkan dan sebentar lagi akan ditunangkan. Dari nada bicara Revo meski berusaha tenang tapi aku bisa merasakan gemuruh di dadanya dari suaranya yang agak berat dan bergetar. Jangankan mendengarku bertunangan, mendengar aku akrab atau disentuh oleh Dena saja dia sudah ngamuk dan marah karena katanya yang boleh menyentuhku cuma dia dan itu ada waktunya.
"Kamu bicara dengan Mami dan Papimu. Aku akan bicara dengan Mama dan Papaku sebagai lelaki dewasa, meski umurku baru delapan belas tahun bukan berarti aku tidak bisa menentukan sikap untuk masa depanku. Hari ini atau nanti, aku cuma berharap kamu ada di masa depanku. Tidak peduli bagaimana caranya, sesulit apapun itu, meski aku harus berdarah-darah karenanya aku tidak mau membiarkanmu jatuh ke pria manapun apalagi seorang Romi." Suara Revo terdengar lantang dan mantap.
Aku bergetar mendengarnya, dia benar-benar dewasa dibanding aku yang hanya bisa merengek tanpa tahu memberi solusi atas masalah ini. Itu ucapan terakhirnya sebelum percakapan di telpon terputus.
Benar saja keesokan harinya karena hari itu hari libur, Revo datang sendiri menemui Mami dan Papi. Aku diberitahu Bibi karena tidak dibolehkan keluar untuk menemui Revo.
Aku menunggu lama sekali dengan cemas di kamar, mondar mandir kayak setrikaan. Acap kali aku duduk lalu berdiri lagi, firasatku tidak enak. Apa yang terjadi di bawah sana ya Tuhan? Tanyaku dalam hati. Akhirnya setelah menunggu setengah jam, aku tidak tahan lagi. Aku memberanikan untuk keluar dari kamar, kubuka pintu itu pelan-pelan dan mengendap-endap menuruni tangga.
Air mataku menetes begitu melihat pemandangan yang sangat asing di mataku mengenai sosok Revo. Dia bersujud di kaki Mami dan Papi yang duduk di atas sofa, dia merendahkan diri serendah-rendahnya untuk meminta agar hubungan kita berdua jangan diputuskan begitu saja.
"Om, Tante, usiaku mungkin belasan tapi untuk bertanggung jawab terhadap Zi aku sudah melakukannya jauh sebelum ada rencana ingin hidup dengan anak Om dan Tante. Sejak awal kita bersama, aku selalu bilang padanya bahwa aku mungkin tidak bisa menjanjikan apapun padanya tapi seluruh hidup aku adalah membahagiakannya. Kumohon, berikan aku kesempatan untuk berada di sisi Zi dan membuktikannya bahwa aku memang lelaki yang bertanggung jawab." Ucapnya dengan suara parau.
Mami sudah berkali-kali terlihat menghapus air matanya. Sedangkan Papi dengan hati kerasnya, hanya diam mematung sampai saat aku mendengar apa yang keluar dari mulutnya.
"JANGAN PERNAH MEMAKSAKAN KEHENDAK REVO, DENGAN ADANYA MASALAH DALAM KELUARGA KAMI, OM PIKIR INI ADALAH KEPUTUSAN TERBAIK. ZI HARUS MENIKAH DENGAN ROMI."
"Pa ... Papi keterlaluan." Pekikku.
Revo merotasikan matanya sembilan puluh derajat untuk melihat ke arahku. Aku segera berlari pada Revo dan membantunya untuk bangun dari sujudnya.
"Papi, jika Papi terus memaksakan kehendak. Maka Papi akan kehilangan satu-satunya hal yang paling berharga dalam hidup Mami dan Papi."
"Zi, maksud kamu apa sayang?" tanya Mami yang tak percaya dengan apa yang kukatakan.
"Jika Mami dan Papi lebih memilih harta daripada anak, maka aku bisa pergi dari kehidupan kalian. Bukankah itu cukup adil?"
PLAK ...!
PLAK ...!
"Pa ... keterlaluan! Papi boleh marah pada Zi, tapi memukul dia itu adalah hal yang salah. Papi sadar tidak dengan apa yang Papi lakukan?" Mami marah besar ke Papi.
Mami bak menantang Papi, aku hanya bisa memegangi pipiku yang perih kena tampar tangan Papi.
"Hiks ... semua ini karena Papi membawa anak itu ke rumah kita. Sejak kehadiran dia tak pernah lagi ada kedamaian di rumah ini. Sebelumnya tak pernah ada keributan seperti ini. Lantas sekarang semua jadi salah Zi?" Ucapku menahan isak.
Kulihat geraham Revo menegang menahan emosi, dia paling tidak suka aku dikasarin sekalipun orang tuaku sendiri.
"Maaf, Om. Kurasa Om sudah keterlalun, Om tidak perlu menampar Zi seperti itu. Jika Om tidak bisa lebih lembut pada Zi, maka jangan salahkan Revo jika membawa Zi pergi dari rumah ini."
Aku terkejut dengan ucapan Revo yang sunguh-sungguh itu.
"Kamu mengancamku? Anak bau kencur mau mengajariku tentang bagaimana mengajari anak sendiri? Sebaiknya kamu pulang beritahu Papamu, kalau anaknya ini sudah berani kurang ajar pada seorang orang tua." Bentak Papi.
Aku sampai tidak mengenali Papi karena sifatnya saat ini, dia benar-benar dibutakan oleh harta yang bisa dicari lagi. Entahlah, aku hanya merasa bahwa Papi terlalu memaksakan diri. Jika Om Arga ingin mengambil warisan itu, tidak masalah toh kita masih bisa berusaha mencari lagi. Jika karena tidak bisa membiayai masa depanku nanti, maka aku bisa membiayai hidupku sendiri asal tidak seperti ini caranya.
"Revo ... sudah sayang. Pa ... sudah! Tahan emosi kalian, kumohon Revo pulang ya Nak." Bujuk Mami.
Sebenarnya aku kasihan sama Mami yang berusaha mengikuti keinginan Papi, dia menjadi penengah untuk masalah ini tapi juga tidak mampu mengontrol suasana yang tiba-tiba memanas. Terus ke mana Romi? Dia pasti sedang menonton kekacauan di rumah ini sembari tersenyum sinis.
"Vo ... tidak apa-apa, pulanglah!" Aku ikut membujuknya, aku tidak mau sampai keduanya semakin kelepasan emosi dan akhirnya saling adu kekuatan.
"Kamu tidak apa-apa, Yang?" tanyanya seraya menangkup wajahku dengan kedua tangannya. Mataku yang sembab dan pipi yang masih basah, hanya bisa mengangguk bahwa aku pastikan diriku baik-baik saja.
Aku mengantar Revo ke depan, untuk pertama kalinya selama kita kenal dan dekat. Revo memberanikan diri untuk mencium keningku sangat lama. Aku memejamkan mata untuk menikmati getirnya hubungan kami saat ini. Tidak pernah terpikirkan bahwa kita berdua akan sampai kepada hubungan yang serumit ini.
"Jangan menangis lagi, hapus air matamu. Air matamu adalah sumber kesakitan untuk hatiku, jadi jangan menjadi lemah." Ucapnya lembut seraya menghapus jejak air mata di pipiku dengan ujung ibu jarinya.
Mengapa ini terasa sesak sekali Tuhan, aku seakan merasa Revo akan pergi jauh dan ini pertemuan kita yang terakhir kali. Tidak ... tidak ... itu tidak mungkin terjadi. Ini hanya halusinasiku saja karena terlalu meratapi keadaan. Aku masuk kembali ke rumah, di sana masih terasa suasana tegang antara Papi dan Mami. Aku tidak mau ikut campur lagi, aku berlari naik ke lantai atas, merasa kecewa dengan sikap Papi hari ini yang untuk pertama kalinya melakukan kekerasan padaku.