FIGHT FOR LOVE

FIGHT FOR LOVE
Part. 42



- Keesokan harinya di sekolah -


"Hape kamu ke mana, Vo?" Kutanya saat berpapasan di parkiran.


"Kukasih anak Ibu kantin. Kenapa?"


"Kamu marah ya sama aku?"


"Tidak."


"Kamu jawab pendek gitu berarti marah."


"Tidak."


"Tuh kan marah." Dia berjalan cepat dan aku harus mensejajari langkahnya agar tidak ketinggalan. "Kenapa marah?"


"Tidak marah, Zi. Masuk kelas sana."


Dia berhenti dan aku hampir saja nabrak dia.


"Kenapa berhenti?"


"Kalau gak berhenti kamu gak akan berhenti ikutin terus."


"Kan kelas kita satu arah."


"Terserah kamulah."


Dan..., si pengganggu datang.


"Misi, misi, mau lewat. Eh, kamu bukannya sudah jadi mantan Revo ya? Kenapa masih deket-deket aja? Kukasih tahu ya, Revo sekarang adalah incaranku." Yassalam, Yuna kenapa harus muncul si.


"Minggir gak?" Kutanya dia


"Lewat aja si. Silakan! Aku mau bicara dengan Revo-ku." Jawabnya memberi penekanan pada kata Revo-ku.


Ughhh, kesel, kesel, kesel! Kujambak juga ni cewek lama-lama. Hiks. Tahu ah, mending masuk kelas. Masih pagi sudah bete begini.


Aku pergi dari sana tanpa menggubris kehadiran Revo.


"Zi..." panggil Revo.


Buat apa memanggil? Toh dari tadi kamu juga ngomongnya cuek saja. Cemburu ternyata menguras hati.


Aku duduk di kursi di sebelah Dena. Menghempaskan diri begitu saja dan itu membuat kursi sampai berderit.


"Kenapa lagi ni anak?" Ucap Dena


"Habis ketemu ular berbisa barusan." Jawabku asal.


"Serius? Di mana?"


"Noh, di depan kelas kita."


"Terus masih ada?"


"Tahu, sudah kabur kali."


"Haha, kurasa bukan ular sayang, ini melebihi ular kayaknya. Haha...!" Jawab Danu menimpali ucapanku yang masih tersisa emosi.


"Lalu apa, Yang?"


"Paling juga Yuna biang keroknya."


"Hayyaahhh..., kenapa cewek itu lagi si?"


"Iyah jadi sekarang itu, dia lagi ngincer Revo."


"Zi, kamu tidak apa-apa kan?"


"Nggak. Ini mau tenangin diri dulu, bentar lagi bel ujian kan?"


"Ah iya. Sampai lupa."


***


Aku hanya ingin bilang bahwa, ujian kali ini terasa lebih berat dari ujian-ujian sebelumnya. Bukan cuma satu ujian yang harus dilewati, ujian yang menyangkut lanjut tidaknya sekolahku, dan ujian tentang perasaan dan hubunganku dengan Revo. Semua bergantung pada hasil ujian yang akan diumumkan bulan depan nanti.


"Kamu optimis gak, Zi?" Ucap Dena yang saat itu berjalan bersamanya menuju parkiran. Danu sudah lebih dulu menunggu di mobil.


"Lumayanlah, walau selama ujian ini terasa lebih berat. Bukan apa-apa De, aku juga harus menjalani ujian perasaan. Huh, dan itu sangat sangat melelahkan asal kamu tahu."


"Iya juga si. Semoga saja kalian berhasil ya. Semangat!"


Yeah, hatiku dipenuhi semangat kembali. Jalan ke parkiran tinggal beberapa meter, saat si Yuna nyebelin itu menghalangi jalanku.


"Lihat saja nanti, kamu akan menangisi kepergian Revo."


"Apaan si, gak jelas. Minggir sana, ganggu jalan tahu ih." Aku menggeser dia dari hadapanku dan melanjutkan jalan sampai parkiran. Tahu-tahu Dena malah tinggal untuk meladeni cewek gak laku itu.


"Mimpi ya? Ini masih siang loh. Gih sana, cuci muka." Dena terlihat begitu kesal pada Yuna.


"Kenapa kamu yang nyolot?" Yuna kepancing.


"Emang gak boleh? Dasar cewek tukang mimpi di siang bolong."


"Awas kamu ya, aku akan buktikan. Jika aku gak bisa dapatin Revo, maka Zi juga tidak bisa bersama Revo. Simpan baik-baik ucapanku itu."


Teriak Yuna kesal, sedangkan Dena sudah melambaikan tangan tanda tak peduli ke arah Yuna. Dena tampak puas sekali bisa menumpahkan kekesalannya pada Yuna.


Ah, tapi dia jadi dendam sekarang. Ucapan dia menyeramkan pula. Duh, kalau sampai itu jadi kenyataan gimana? Hah, aku belum siap kehilangan Revo. Biar bagaimanapun, Revo satu-satunya yang mau berjuang untukku.


Saat bersamaan, Revo muncul dan berjalan ke arah Yuna. Aku meminta Danu untuk tidak jalan dulu. "Tunggu sebentar, Dan." Aku membuka pintu mobil dan berdiri di sana, memperhatikan apa yang akan dilakukan Yuna pada Revo.


"Revo...!" Panggil Yuna karena Revo melewatinya begitu saja.


"Ada apa?"


"Tunggu sebentar. Aku ingin bicara denganmu."


"Jika mengenai perasaan kamu, maaf aku tidak bisa meladenimu. Waktuku terlau berharga hanya untuk mendengarmu bicara."


"Bukan. Bukan itu kok."


Mendengar Yuna bicara seperti itu, aku yang tadi sudah senang karena ternyata Revo tak terpancing oleh Yuna malah jadi penasaran.


"Robby ngajakin kamu masuk tim basket dia." Ucap Yuna cepat.


"Robby?"


"Iya, jadi di luar sekolah dia punya tim basket sendiri. Dia melihat kamu punya bakat, terlebih karena postur tubuh kamu juga tinggi. Sangat cocok untuk kriteria pemain basket, dia juga bilang kamu memiliki gerakan yang lincah. Kamu punya potensi."


"Kenapa harus kamu yang sampaikan itu? Kenapa bukan Robby sendiri?"


"Robby nitip pesan itu ke aku, aku disuruh ngasih tahu kamu. Tadi dia harus pulang cepat karena ada latihan untuk turnamen dua Minggu mendatang. Kalau mau lebih jelasnya, kamu bisa ambil kartu nama ini. Ini club tempat Robby biasanya latihan. Datang atau hubungi nomor itu."


Dari jauh kulihat Revo cukup tertarik, walau dia masih sedikit ragu. Namun Revo, tetap meraih kartu nama itu dari tangan Yuna.


"Terimakasih, akan kupertimbangkan." Jawab Revo yang hendak segera pergi.


Yuna sepertinya tak kehabisan akal untuk menjerat Revo tinggal lebih lama bersamanya, atau dekat dengan Revo.


"Vo, aku boleh nebeng gak?" Tanya Yuna penuh harap. Wajahnya sudah nampak sumringah.


"Tidak."


Jawaban Revo seperti membawa awan gelap, seketika wajah riangnya berubah kecut dan suram. Jujur, aku ingin sekali tertawa.


Ah, syukurlah Revo tidak mudah begitu saja mengikuti kemauan Yuna. Mengenai basket itu, aku tidak tahu, apakah Revo menolak atau menerima. Meski begitu, dia pasti mempertimbangkannya. Revo menyukai basket dan bukan tidak mungkin dia menerima tawaran itu.


Aku masuk lagi ke dalam mobil Dena. Aku tersenyum sendiri, menyaksikan Yuna sampai tak berkutik seperti itu.


"Senyam senyum kayak orang gila, lama-lama kamu gila beneran loh, Zi." Protes Dena padaku.


"Hehe, aku lagi senang. Revo tidak mau mengantar Yuna pulang. Walau hari ini, aku kecewa sama dia, karena seolah menjauhiku. Hiks."


"Paling juga marah sesaat, Zi. Udah yuk jalan, sayang!"


Mobil meninggalkan parkiran, hari ini meski berat tapi sudah dilewati dengan baik. Hari esok adalah harapan, semoga bisa lebih baik lagi dari hari ini.


Mengenai hasil ujian, aku sepenuhnya berharap bahwa nilai kami baik-baik saja dan aku bisa bersama Revo lagi.


Aku rindu dia yang posesif sama aku, aku juga rindu dia yang cerewet. Rindu dia yang tiap hari bikin hari dan semangatku naik turun. Ah..., rindu...!