
Akhirnya bisa tenang juga. Kakek dan Nenek sudah aman tinggal di rumah barunya. Saatnya kembali ke dunia sekolah yang menyenangkan.
"Zi, boleh ngomong bentar gak?" Tanya Danu yang tiba-tiba saja mencegatku di pintu masuk.
"Ada apa Danu?"
"Ngomong bentar boleh ya."
"Boleh."
Secepat kilat tanganku sudah ditarik oleh Danu masuk ke perpustakaan. Melewati ruangan Revo.
Duh bisa gawat ini kalau Revo lihat. Lagian apa-apaan si Danu pakai narik tanganku segala.
"Danu, pelan-pelan. Aku bisa jalan sendiri. Tidak perlu ditarik begini."
"Eh Iyah maaf."
Mau gimana lagi, sudah terlanjur. Kita juga sudah sampai perpustakaan. Semoga saja Revo gak lihat.
"Mau ngomong apa?"
"Dena."
"Dena?" Jawab Zi menaikkan alisnya sebelah tanda bingung dengan ucapan Danu. "Kenapa Dena?"
"Emm, bantuin aku dekat dengan Dena boleh?"
"Hah!!? Serius?"
"Iyah serius. Memangnya wajah aku kelihatan sedang bercanda ya?"
"Nggak sih. Baguslah! Tapi Dena agak sulit didekati si."
"Tidak masalah, aku akan lakukan apapun."
"Kenapa begitu tiba-tiba?"
"Nggak tiba-tiba, sejak awal aku memang sudah naksir dia. Cuma pengen aja godain kamu, mau tahu reaksi Revo. Ternyata di luar dugaan, dia beringas. Haha."
"Makanya jangan suka main-main sama dia. Dia itu bisa mematahkan hidung kamu nanti."
"Segitu ngebelainnya ya. hehe."
"Aku mohon bantu aku yah?"
"Gampang!"
Baru selesai ngomong sama Danu, Revo sudah di depan pintu perpus. Tatapannya tajam, wajahnya sudah tidak enak dilihat. *Gawat!
Ahh, dia pasti melihat semuanya. Di kepalanya sudah seperti kobaran api. Dia pasti meledak*.
"Kalian ngapain berduaan di sini?"
"Revo. Ini tidak seperti yang kamu lihat kok."
"Apa yang tidak aku lihat? Kamu yang dengan tenangnya disentuh Danu, ditarik sambil lari-larian. Apa itu bukan sesuatu menurut kamu?"
"Revo, tenang dulu. Aku sama Zi, benar-benar tidak ada hubungan apa-apa. Aku hanya minta tolong Zi, hanya itu."
"Beraninya kamu menyentuh Zi. Itu sebuah penghinaan bagiku."
"Vo, udah dong. Jangan marah begini. Danu memang hanya mau ngobrol sebentar. Tidak ada apa-apa."
"Mungkin mataku yang sudah rabun, melihat kalian berlarian sambil pegangan tangan. Tidak kusangka Zi, tidak!"
"Vo...! Ini sama sekali tidak seperti yang kamu pikirkan."
Tuh kan, salah paham. Aku bilang juga apa, Revo pasti marah dan juga kecewa sama aku.
"Vo, ini bisa kita bicarakan baik-baik. Kamu jangan salahin Zi, dia gak tahu apa-apa. Tadi aku reflek narik dia dan berlari. Semua salahku."
"Sudah kuperingatkan berkali-kali Dan, kamu terus saja melakukan itu. Kamu tahu kan, seberapa aku menjaga perjanjian dengan orang tua Zi. TIDAK ADA SENTUHAN FISIK." Revo menekankan pada kalimat terakhirnya. Seolah menegaskan bahwa aku telah melanggar perjanjian.
"Oke. Aku yang salah. Aku minta maaf sama kamu. Tapi tolong jangan marahi Zi seperti ini."
Tak lama kemudian bel masuk berbunyi. Untung saja tadi tidak ada siswa yang melihat perdebatan kita bertiga. Lagi pula siapa yang mau ke perpustakaan, tidak ada siswa yang mau membaca.
"Sudah bel. Aku duluan." Ucap Revo yang pergi begitu saja. Meninggalkan aku dan Danu dengan segudang rasa bersalah.
Dia pasti kecewa banget sama aku. Huh... sudah kejadian, nasi sudah jadi bubur. Mau apa lagi?
Aku pasrah menghadapi kemarahan Revo. Aku tahu wataknya, semakin aku menjelaskan, sebanyak itu pula kecewanya akan bertambah.
Maaf....