
Aku melewati pintu kamar Mami dan Papi, aku dengar ada suara isak tangis yang mirip sekali dengan suara Mami. Aku berhenti sebentar untuk mendengar dengan jelas apa yang sudah terjadi di dalam sana.
"Pa, apa itu tidak jadi hal yang menyakitkan untuk Zida? Dia sudah lama menjalin hubungan dengan Revo dan kita juga sudah merestui hubungan mereka. Jika sekarang kita meminta Zi untuk memutuskan hubungannya dengan Revo secara sepihak apa itu tidak menyakiti mereka berdua. Hubungan kita dengan kedua orang tua Revo juga sudah lama, mereka sahabat-sahabat kita Pa. Ayolah pikirkan lagi!" Keluh Mami di dalam sana coba membujuk Papi.
Apa yang terjadi sebenarnya?
"Ma, aku juga tidak ingin menyakiti mereka. Zida dan Revo keduanya pasangan yang saling mencintai tapi jika kita tidak menuruti keinginan Romi dan orangtuanya. Maka semua harta warisan Kakek dan Nenek Zi jatuh ke tangan mereka. Lalu kita tidak akan dapat apa-apa, asset perusahaan sudah dikuasai 60% oleh Mas Arga padahal yang merintis perusahaan itu dari awal adalah aku. Ayolah Ma, bujuk Zi."
Keduanya terlibat percekcokan yang mengarah ke pembagian harta warisan. Jadi aku dan Romi sengaja dibuat bersama untuk lebih dekat agar ke depan bisa menikah dengan Romi? Apakah memang seperti itu?
Tidak ... hal itu tak boleh terjadi. Apa yang akan kukatakan pada Revo nanti?
"Pa, saat aku meminta Zi di wajahnya tampak sangat kecewa sama Mami. Aku tidak tega melihat anak itu menderita nantinya hanya karena urusan keluarga yang tak bisa kita selesaikan."
"Tidak ada jalan lain, Ma. Satu-satunya jalan adalah menjodohkan Zi dengan Romi anak mereka."
Deg.
Deg.
Deg.
Bagai tersambar petir, hatiku hancur mendengar itu. Tidak ingin percaya tapi aku juga yakin telingaku tidak salah dengar. Pendengaranku masih sangat bagus dan tidak mungkin Papi sampai salah bicara.
Aku tak sengaja mendorong pintu kamar Mami dan Papi. Air mataku sudah mengurai ke pipi.
"Apa yang barusan Papi katakan? Apa ...? Perjodohan? Aku dan Romi kalian jodohkan?" Jawabku dengan nada terbata.
Aku sedih bukan main, tangisku pecah ketika Mami berusaha memelukku namun aku menolak dipeluk olehnya. "Ini tidak adil Ma, Pa, apa kalian tidak berpikir tentang perasaanku dan Revo sedikit saja?" Pekikku
"Sayang, maafin Papi dan Mami. Kami tidak bermaksud memisahkan kalian ... Papi hanya tidak tahu harus mengambil jalan apa? Jika Papi tak menyetujui persolan perjodohan kamu, maka kita tidak bisa dapat apa-apa. Kita akan jatuh miskin, sayang."
"Tapi kenapa harus mengorbankan perasaan Zi, Ma? Itu tidak adil." Raungku.
"Zi, dengar Papi. Jika kamu menolak perjodohan ini, maka kita akan tinggal di mana? Usaha Papi selama ini akan jatuh ke tangan Om Arga."
"Tidak. Tetap tidak adil bagi Zi, Pa. Zi sangat mencintai Revo, kalian tentu tahu hal itu kan? Hubungan kalian dengan orang tua Revo bukankah mereka sahabat-sahabat Papi dan Mami? Papi tak memikirkan bahwa perasaan mereka akan ikut terluka?"
"Zi ... cukup!" Teriak Papi.
Itu kali pertama aku dibentak oleh Papi, rasanya sangat menyakitkan. Dadaku sampai sesak dan aku menangis sejadinya. Aku berlari meninggalkan kamar Papi dan Mami, berlari ke kamarku tanpa menghiraukan mereka. Kukunci kamar itu rapat-rapat, aku ingin sendiri.
***
Imbasnya adalah selama beberapa hari aku tidak ke kampus. Ponsel aku matikan, makan hanya ingin makan jika dibawakan ke kamar oleh Bibi. Terserah Papi sama Mami mau marah atau tidak, aku benar-benar sakit dengan keputusan yang mereka buat tanpa bertanya dulu ke aku.
Tok.
Tok.
Tok.
Suara kamarku diketuk keras-keras, aku menengok sebentar ke arah pintu dengan malas. "Siapa si mengganggu istirahat orang saja." Umpatku.
"Non ... Non ... buka pintunya Non. Itu di bawah Den Revo dan Den Romi Non."
Kudengar suara Bibi seperti orang panik, aku pun melompat dari tempat tidur. "Ada apa, Bi?"
"Baik, Bi."
Segera aku berlari ke bawah menuruni anak tangga. Dan ... Bughhh! "Revo ... Romi ... sudah! Teriakku.
Satu tinju mendarat di wajah Romi. Revo bukan orang yang sabaran, ketika dia diganggu maka dia akan menyerang membabi buta tidak peduli apapun.
Mereka terus baku hantam sampai aku sulit melerai keduanya. Saat itulah insiden mulai terjadi padaku, aku yang berusaha memisahkan mereka tiba-tiba terkena tinju Romi. Wajahku sangat sakit sampai aku tak tahu kalau ternyata saat aku terjatuh aku membentur ujung meja. Semua menjadi gelap, aku tidak tahu lagi apa yang terjadi selanjutnya.
***
Di rumah sakit.
Aku akhirnya sadar. Kulihat wajah orang-orang yang menungguku di sana. Mana Revo? batinku.
Di sana yang kulihat hanya ada Mami, Papi dan juga Romi. Ke mana Revo?
"Mam ...!" panggilku dengan suara lemah.
"Zi ... akhirnya kamu sadar sayang." Pekik Mami.
"Revo mana, Ma?"
Mami kutanya diam, Papi memalingkan wajahnya, Romi tersenyum kecut dan memasang wajah tak suka. Kenapa mereka semua? Apa mereka mengusir Revo?
"Ma, Revo mana?" Tanyaku sekali lagi.
"Sayang, kamu istirahat dulu. Kamu tidak boleh banyak gerak dulu ya, ada luka yang sedang di perban di kepala kamu."
"Tapi Ma ..."
"Tidak ada tapi-tapian, Mami sama Papi mau pulang mandi dulu. Untuk sementara kamu dijaga oleh Romi ya?"
"Ma ..." Panggilku dengan menahan pergelangan tangan Mami.
Mami seolah tak mau tahu. Dia tidak mau melihatku lebih lama. Sekarang aku tahu, mereka benar-benar berusaha memisahkan aku dan Revo.
Akhirnya kulepas tanganku dari tangan Mami. Aku memunggungi Romi yang berusaha mendekat padaku. Aku tidak mau melihat wajahnya, semua ini karena kehadiran dia di rumah.
"Kamu harus belajar terima kenyataan, Zi. Bagaimana pun jodoh masa depan kamu adalah aku. Bukan pria temperamental dan posesif itu."
Aku geram mendengar setiap ucapannya. Dari mana dia tahu kalau Revo Posesif? Dasar kepo.
"Siapa yang kau sebut temperamen? Lebih baik temperamen daripada pria pengecut yang berusaha menikahi pacar orang dengan cara-cara kotor." Geramku.
"Cih! Haha ... haha ... memangnya kamu pikir aku sebegitu sukanya ya sama kamu? Zi ... Zi ... kamu terlalu polos. Aku cuma berniat merusak hubungan kalian, karena itu sangat menyenangkan bagiku. Membuatku bersemangat."
Gila. Dasar gila.
Revo, sedang apa dia sekarang? Apa dia baik-baik saja setelah aku pingsan? Aku bisa merasakan betapa paniknya dia saat ini. Hiks. Setitik air mata jatuh membasahi pipiku.