FIGHT FOR LOVE

FIGHT FOR LOVE
Part. 33



Orang yang suka mengganggu atau suka berbuat onar, sesungguhnya hidup mereka kurang bahagia. Tertawa iya, tapi jauh di lubuk hatinya yang hanya berisi kegelapan itu, merasa kesunyian dan butuh cahaya untuk mengangkat dirinya dari kubangan kelam.


Yuna salah satunya, aku tidak pernah tahu pasti masalahku dengannya. Namum, seakan dia sengaja mencari masalah denganku. Bukan sekali dua kali dia berjalan pongah di depanku bersama kedua pengikutnya. Mengibas rambut persis iklan shampo. Padahal wangi juga tidak.


Jika kemarin dia sudah membuatku terjatuh, sekarang dia menjatuhkan gelas berisi jus jeruk milikku. Sengaja menyenggol lalu memasang wajah rasa bersalah. Ish, ingin kucakar wajahnya itu.


Prankkk...!


Gelas pecah berkeping-keping. Isinya meluber ke lantai. Semua orang melihat ke arah mejaku.


"Oupps...! Tidak sengaja." Ucap Yuna tanpa rasa bersalah sekalipun.


Dia ingin pergi begitu saja, lalu kutahan. Aku merentangkan satu tangan tanpa berdiri dari tempat dudukku. Berusaha untuk tidak emosi dan menahan gejolak amarah yang sebentar lagi seolah meledak.


"Bereskan pecahan gelas itu." Ucapku tegas tanpa melihat wajahnya yang menyebalkan itu.


"Gelas, gelas siapa. Yang disuruh bersihin siapa. Bersihin saja sendiri. Yuk!" Ucap Yuna acuh dan mengajak kedua temannya.


"Awww....!"


"Awww...!"


"Awww...!"


Sebuah teriakan susul menyusul seiring gelak tawa banyak orang di kantin itu. Yuna dan kedua temannya-yang entah siapa namanya- telah terjungkang ke lantai. Derai tawa tak berhenti di sana, saat berdiri salah satu diantara mereka kembali terjatuh karena menginjak tumpahan jus jeruk tadi.


Jika kalian dapat melihat ekspresi mereka sekarang, maka kupastikan kalian akan ikut tertawa menyaksikan mereka kena karma.


"Gimana rasanya? Enak?" Tanyaku.


"Awas kau ya! Tunggu perhitungan dari aku." Ancam Yuna lalu pergi. Aku hanya ikut tersenyum karena berhasil mengerjai mereka.


Emang enak? Makanya jangan suka rusuh sama orang, kalau tidak mau dirusuhin balik. Impas.


Aku sebenarnya tidak ingin mengerjai mereka balik, namun mengingat mereka sudah begitu sombong, jadi diberi pelajaran sedikit tidak dosa kali ya. Hihi.


Kebetulan hari ini aku duluan ke kantin, Dena dan juga Danu katanya ada urusan di perpustakaan. Sejak kapan mereka jadi anak-anak perpus si? Paling juga pacaran itu. Revo, masih ada tugas katanya. Oleh karena itu, aku jajan sendirian ke kantin. Dipikiran Yuna, mungkin karena aku sendirian, jadi dia bisa lebih leluasa untuk mengerjaiku. Padahal belum tahu dia, aku orangnya macam apa.


"Sayang..., maaf telat. Tugasnya baru selesai. Kamu sudah makan?" Tanya Revo yang baru saja datang dan duduk di kursi di depanku.


"Sudah Yang. Kamu mau kupesankan apa? Aku temenin makan." Revo tersenyum mendengar ucapanku barusan.


"Kayak biasa saja. Es teh Yang, jangan lupa." ucapnya ketika aku sudah beranjak dari tempatku duduk.


"Yang, malam minggu nanti jalan yuk! Sudah lama kan kita tidak malam mingguan."


"Terserah kamu, Yang. Asal ada surat izin jalan dari Mama dan Papa. Kamu sendiri kan tahu, mereka lebih senang kita ngedate di rumah ketimbang di luar."


"Gampanglah! Pulang nanti aku akan minta izin."


Aku mengangguk mengiyakan. Pesanan sudah datang dan siap disantap. Kubiarkan Revo menikmati makanannya terlebih dahulu.


"Yang, jangan pakai itu lagi ya." Ucap Revo di sela-sela makannya.


"Itu apa, Yang?"


"Gelang. Warnanya terlalu mencolok. Sakit mataku lihatnya. Sudah jangan pakai yang aneh-aneh deh, Yang."


"Ini kan baru kemarin beli di online shop, masa harus dianggurin lagi."


"Salah sendiri, beli warna mencolok begitu. Biar apa coba?"


"Protes mulu deh, Yang. Kebiasaan ih."


"Kamu juga kebiasaan memakai barang-barang aneh. Kan sudah aku bilang, tanpa aksesoris apapun kamu sudah cantik."


"Itu kan buat pemanis saja, Yang."


"Kamu sudah manis. Jangan membantah lagi. Sini kulepas!"


Masih saja sempat-sempatnya mau buka gelang padahal masih makan. Dasar aneh. Ini aku yang aneh apa dia si?


(Kalian berdua aneh, pasangan teraneh-- Author) Wkwkw


Akhirnya gelang itu dilepas dan bernasib malang dilempar ke tong sampah. Wajahku sampai ikut sedih karena harus kehilangan barang yang baru saja kubeli. Ish, ngeselin.


Revo banyak ngatur, posesif akan hal apapun yang ada kaitannya denganku. Cerewet, kadang lebih cerewet dari aku. Bukan cuma itu, dia sering bikin baper orang. Korbannya mungkin salah satunya adalah Yuna itu.


Kudengar-dengar Yuna kecewa karena dia diabaikan oleh Revo. Belum lagi saat dia tahu, kalau Revo itu bukan cuma dingin orangnya, dia juga cuek kepada apapun, siapapun, yang tak ada hubungannya denganku. Jadi fix, Yuna suka pada Revo. Nahasnya Revo bukanlah cowok yang mudah didekati apalagi dirayu. Jadi sulit buat Yuna, untuk membuat Revo berpaling dariku. Kasian.


*Baik buruknya dia, tetap dia adalah Revo. Aku berusaha menerima keseluruhan darinya. Baiknya, buruknya, walau terkadang sebal sendiri. Itulah bumbu-bumbu sebuah hubungan. Lihat nanti, apakah di masa depan berjodoh? Waktu masih panjang, perjalanan masihlah jauh.


--------


Terimaksih sudah mampir*.