
Pagi sudah menjelang, matahari bahkan sudah tinggi dan aku masih di tempat tidur berselimut sambil mengumpulkan nyawa yang masih belum sepenuhnya kembali. Kutatap jam sudah menunjukkan pukul 09.00 pagi, malas menghampiriku seperti biasa. Sejak aku dikurung dan pertengkaran dengan Mami dan Papi aku malas beraktifitas. Apalagi sejak insiden di mana Revo dan Romi berkelahi yang menyebabkan kepalaku harus diperban. Sejak saat itu, semua ruang gerakku dibatasi dan aku mengikuti apa yang diinginkan Mami dan Papi. Aku bahkan mogok kuliah, tidak ada semangat yang membara seperti biasa.
Ada langkah kaki mendekat, aku duduk di tempat tidur dengan lesu. Wajah Bibi menyembul dari balik daun pintu kamarku, dia nyengir dan memperlihatkan giginya yang sedikit menguning. Kayaknya Bibi semakin hobi ngunyah sirih, makanya seperti itu. Aku pernah melihatnya sekali dua kali di dapur, Bibi ngunyah sirih sambil masak sesekali bersenandung jawa yang sama sekali tak bisa kumengerti
"Non, ini cepat. Den Revo menelpon Non Zi."
Mataku membulat sempurna menahan kegembiraan, rasa malas beberapa menit lalu tiba-tiba hilang dan aku menyambar dengan cepat hape milik Bibi.
"Yang ..." Pekikku tak sadar jika suaraku bisa saja didengar oleh Romi, Mami atau bahkan Papi.
Bibi langsung mengkode dengan dengan meletakkan jari telunjuknya ke bibir "Non jangan ribut, nanti ketahuan bisa habis Bibi. Bibi tinggal dulu ya, nanti Bibi kembali lagi ambil hapenya."
"Ok, Bi. Makasih ya!" Cengirku merasa bersyukur karena punya Bibi yang punya ide briliant ini.
"Yang, kamu masih di sana?" Kutanya dia karena sejak tadi tidak ada suara.
"Masih. Sudah ngomongnya?"
"Sudah. Kamu tidak cemburu ke Bibi?"
"Tidak, karena Bibi adalah pahlawanku. Hehe."
"Bisa aja. Lagi apa kamu?"
"Habis latihan basket."
"Hah? Sepagi ini?"
"Sepagi apanya? Ini sudah mau jam sepuluh Zi. Kamu masih di tempat tidur ya?"
"Hehe ... iyah. Malas, Yang. Hari ini aku tidak ke kampus lagi, malas kalau harus bareng Romi lagi. Selera hidupku berkurang." Jawabku dengan nada dibuat sedramatis mungkin.
"Memangnya kamu mau mati, Yang?"
"Dih, siapa bilang? Kan aku bilang selera."
"Bukan selera sayang, gairah."
"Eh salah ya? Haha ..."
Tawaku berderai hingga ke langit-langit kamar, aku baru sadar sudah ngobrol terlalu lama. Jangan-jangan sejak tadi sudah ada yang nguping, bagaimana jika itu Romi? Habislah.
Kulihat layar kaca hape jadul Bibi jadi basah karena keringat. Hapenya juga tiba-tiba panas karena terlalu lama dipakai, mungkin ada setengah jam aku ngobrol dengan Revo.
Ceklek.
Pintu kamarku terbuka, gila aku sampai harus cepat-cepat menyembunyikan ponsel itu di bawah bantal saking takutnya ketahuan. Syukurlah yang masuk Bib, bukan Mami atau Papi atau bahkan si pengganggu Romi yang nyebelin itu.
"Non, sudah?"
"Sudah Bi, ini ponselnya. Terimakasih ya, nanti Zi bakal kasih pulsa tambahan deh buat Bibi. Hehe."
"Ih Nona mah. Non, Ibu berpesan untuk Nona segera turun. Ada yang menunggu Nona di bawah."
"Siapa, Bi? Emm ... itu ... anu ... itu Non."
"Anu itu anu apa, Bi?"
"Di bawah ada orang tua dari Den Romi."
Seketika semangatku kembali down. Malas banget berurusan dengan keluarga itu. "Ya sudah, Bi. Bilangin aku mandi dulu, nanti aku akan turun setelah mandi."
***
Dengan langkah gontai aku menuruni tangga, di ruang keluarga sedang ramai suara orang ngobrol. Ramai sekali sampai tak ada yang sadar akan kehadiranku di sana. Baru ketika aku menyapa Mami semua melirik ke arahku, berasa seleb yang sudah lama ditunggu-tunggu, sayangnya aku tidak bersemangat ketemu fans yang seperti mereka ini.
"Zi ... ini Zi kan?" Pekik seorang Tante yang tiba-tiba memelukku.
Mami tersenyum melihat Tante yang sepertinya menyukaiku itu, sayangnya aku sama sekali tak suka.
"Sudah besar kali kau, Nak." Ucapnya.
Aku nyengir kuda ditambah sedikit senyum yang dipaksakan.
Sementara seorang laki-laki yang duduk menyilangkan kaki di dekat Papi wajahnya tenang-tenang saja bahkan terkesan biasa saja. Wajahnya mirip Papi, sepertinya ini saudara Papi yang katanya besar di luar negeri itu. Makanya aku bahkan tidak pernah bertemu dengannya sejak kecil, hanya melihat bebrapa kali di foto menurut cerita Mami.
"Salim dulu sama Om Arga sayang." Ucap Mami.
Aku pun menurut, kemudian duduk di sofa di samping Mami.
"Bagaimana menurut Zi, Romi cowok yang baik kan?"
Duh, apa yang harus aku jawab. Aku tersenyum kecil ke arah Tante Maya yang merupakan Mama Romi kemudian mengangguk membenarkan ucapannya. Padahal, boro-boro baik anak itu malah menyebalkan dan hanya bisa menghancurkan hubungan orang lain.
Kulihat Romi tersenyum dengan jawabanku, dia seakan mengejekku malah. Ingin rasanya kulempar bantalan kursi wajahnya yang menyebalkan itu.
"Karena anak-anak kita ini masih belasan tahun, mungkin kita bisa mengatur pertunangan saja dulu. Baru ketika umur mereka dua puluh tahun, baru kita persiapkan tentang pernikahan mereka." Ucap Tante Maya yang langsung kusambut tatapan tak percaya ke arah Mami.
Jujur saja, aku ingin menangis saat itu. Mami benar-benar tega padaku, begitu juga dengan Papi. Mereka sama sekali tidak mempertimbangkan perasaanku yang sejak awal hanya menyukai Revo.
Uhug ... uhug ... uhug ...
Aku sengaja terbatuk untuk membuyarkan pembahasan itu, rasanya bukan cuma telingaku yang sakit mendengarnya tapi juga hatiku seperti disayat-sayat.
"Ada apa Zi? Kamu kurang sehat ya?" Tanya Tante Maya.
Aku terus memegangi leherku yang seolah-olah kubuat sakit. Biar mereka makin percaya kalau saat itu aku sedang sakit dan tak bisa duduk bersama mereka, mendengar rencana-rencana omong kosong yang mereka sedang susun.
"Kamu sebaiknya istirahat saja ke kamar." Sambungnya.
Senang dong akhirnya kau bisa terbebas dari para orang tua itu, namun saat berdiri eh si Romi itu juga ikutan berdiri dan sok baik banget untuk nganterin aku ke kamar.
"Sini biar kubantu ke kamar." Ucapnya.
Aku sangsi dengan ucapan manisnya itu, paling juga pas di atas dia sudah mengejekku habis-habisan karena berhasil menggagalkan hubunganku dengan Revo.
Dia hendak menyentuh lengan dan pinggangku untuk membantuku berjalan, tapi kutepis. "Aku masih bisa jalan sendiri," ucapku.
Saat sampai di depan pintu kamarku, benar saja dia tertawa padaku. "Haha ... haha ... kamu pandai sekali berakting ya. Bilang saja kalau kamu tak mau mendengar rencana pernikahan kita itu."
"Sampai mati aku tidak mau menikah denganmu."
"Terserah. Haha ... bagiku juga tak terlalu penting aku menikah denganmu atau tidak."
"Terus maksud kamu apa?"
"Aku cuma tidak mau melihat kamu bahagia bersama cowok itu."
Ughhh ... ingin rasanya kuremas-remas wajahnya dan kutarik rambutnya itu sampai dia tak bisa berteriak karena kesakitan. Kenapa ada cowok se menyebalkan dia di dunia ini.
**