
"Zi, kalau kita sudah sampai rumahmu nanti, kamu tidak usah bicara dulu ya. Biar aku yang bicara sama Papa dan Mamamu." Ujar Revo begitu akan berangkat.
"Emm, bagaimana kalau nanti malam saja? Aku akan minta Mama untuk undang Papa dan Mamamu makan malam."
"Sepertinya ide bagus. Berarti kita pulang ke rumah masing-masing dulu ya."
"Yaps."
Duh, sebenarnya aku deg-degan juga, gimana kalau penangguhan pacarannya diperpanjang? Terus bagaimana kalau Revo salah bicara, atau aku salah bicara? Ah, kok jadi tidak tenang begini si.
Aku berusaha membuang jauh-jauh prasangka itu, biar aku bisa lebih fokus memikirkan kalimat apa yang tepat untuk disampaikan ke Mama. Rencana ini mesti berhasil. Sebagai langkah awal ya harus membujuk Mama untuk mengundang orang tua Revo ke rumah malam ini.
Saat tiba di rumah, suasana sepi sekali. Aku sampai berulang kali memanggil Bibi baru orangnya muncul.
"Bi, kok sepi?" Aku menyimpan tas di kursi dan melepas sepatu seraya menunggu jawaban Bibi.
"Nyonya sedang pergi sama Tuan, Non."
"Pergi ke mana?"
"Wah, Bibi gak tahu, Non. Coba Nona telepon Nyonya saja."
"Ya sudah, Bi. Aku mau makan siang dulu. Ada di meja kan, Bi?"
"Ada semua, Non. Silakan. Bibi mesti beresin kamar tamu dulu."
Tamu? Siapa?
Langkahku terhenti sebentar dan memanggil Bibi lagi.
"Bi, ngapain bersihin kamar tamu? Memangnya siapa yang mau datang?"
"Oh itu Nona, kata Nyonya saudara jauh Nona akan tinggal di sini untuk beberapa waktu."
"Saudara jauh? Siapa, Bi?"
"Yah, Non. Mana Bibi tahu. Tugas Bibi cuma bersihin kamar saja. Tidak berani bertanya lebih jauh kepada Nyonya."
"Ya sudah, Bi. Makasih ya."
Tamu? Saudara jauh? Siapa si? Kok aku gak tahu? Apa jangan-jangan Mama sama Papa keluar itu untuk menjemput orang itu? Sudahlah, mau makan siang dulu. Perutku terlalu lapar untuk dipakai berpikir.
Selesai makan siang. Aku masuk kamar dan rebahan sebentar. Lalu sebuah pesan masuk ke ponselku.
"***Zi, gimana? Sudah bujuk Om dan Tante belum?"
"Belum. Mama sama Papa lagi keluar."
"Ya sudah, kalau mereka kembali jangan sampai lupa bujuk mereka."
"Iyah, Vo."
"Yang..."
"Ya."
"Semoga kita berhasil ya?"
"Iyah***."
Selang beberapa saat kemudian, terdengar suara deru mobil memasuki area pekarangan rumah. Ah, itu pasti mereka.
Aku bergegas turun dari tempat tidur dan mengintip melalui jendela.
Mama sama siapa itu?
Kok ada anak cowok. Apa itu tamu yang dibilang Bibi? Turun gak yah!
Aku kurang jelas melihat siapa anak laki-laki yang bersama Mama dan Papa. Aku tidak bisa mengenalinya sama sekali. Karena itu, kuputuskan keluar dari kamar dan turun ke lantai bawah.
"Zi, kamu sudah pulang?" Sapa Mama saat aku baru saja sampai di tiga anak tangga terakhir sebelum sampai ke bawah.
"Iyah, Ma."
"Oh iya, Zi. Sini kebetulan kamu ada. Mama mau kenalin sama seseorang. Kamu pasti akan pangling melihat siapa orangnya."
Aku bukan pangling Mama, aku penasaran siapa orang itu. Kalau pangling kan artinya aku pernah bertemu sebelumnya. Memangnya siapa?
Aku pun mendekat ke Mama, Papa malah sudah masuk ruang kerjanya lagi. Namun ada momen sepersekian detik yang bikin aku sedikit iri. Papa mengelus kepala cowok yang sedang duduk membelakangiku itu. Isshh, belum apa-apa aku sudah dibuat iri sama anak itu. Hei anak muda, hati-hati ya jangan berharap kamu bisa mengambil perhatian Mama dan Papa. Awas saja.
"Siapa, Ma?" Bisikku.
"Rom, sini coba lihat. Kamu masih ingat anak Tante tidak?"
Anak yang disebut 'Rom' oleh Mama segera berbalik. Tampangnya sedikit songong, dia sedikit pun tidak tersenyum padaku. Dia hanya melihat sebentar lalu beralih lagi ke gadget di tangannya. Menjengkelkan.
"Maaf, Tante. Ingatan Romeo buruk. Romi tidak ingat apapun." Jawabnya lalu kembali lagi serius dengan gadget.
Mama hanya tersenyum melihat tingkah anak bernama Remeo itu. Isshh, tidak ada sopan santun sama orang tua. Makan apa si ini anak.
"Romeo, ini Zi. Anak Tante. Zi, ini Romeo. Kamu bisa memanggilnya dengan sebutan Romi."
Anak itu hanya sebentar mengangkat kepalanya dan kembali tenggelam dengan dunianya sendiri.
"Anak siapa, Ma? Terus ngapain tinggal di rumah kita?" Aku sengaja mengkonfrontasi keadaan agar dia mau lebih memperhatikanku ketika bicara.
"Zi, tidak boleh bicara seperti itu. Kamu juga sama sekali tidak mengingat apapun tentang Romi? Dulu sewaktu usia kalian dua tahun, kalian cukup sering bermain bersama."
"Ah, Mama, apa yang bisa diingat dari anak berusia dua tahun si? Memangnya Mama berharap aku mengingat apa?" Jawabku.
"Ya sudah, begini saja. Mama mau minta tolong sesuatu. Kamu tolong antar Romi ke kamarnya, sudah dibersihkan Bibi bukan?"
"Kenapa harus, Zi?"
"Mama minta tolong. Mama agak capek, mau istirahat sebentar. Rom, tidak apa-apa ya ditinggal sama Tante sebentar? Romi kalau ada butuh apa-apa bisa panggil Bibi atau Tante. Zi, antar Romi ke kamarnya."
"Ah elah, Mama. Kenapa harus aku coba?"
"Tolongin Mama sayang. Mama yakin kamu bisa. Perlakukan tamu dengan baik. Mama ke kamar dulu." Mama pergi begitu saja setelah menepuk pipiku seenaknya. Memangnya aku ini masih anak kecil?
"Hei kamu...,"
Tidak ada respon.
"Hei kamu..., bisa dengar tidak si?"
"Ya? Kamu bicara dengan siapa?"
"Kamu. Siapa lagi? Memangnya di ruangan ini ada siapa selain kamu dan aku? Ayo sini aku antar ke kamarmu."
"Namaku, Romi. Biar kamu tidak lupa, aku tulis namaku di telapak tanganmu. Ingat baik-baik, Romi." Romeo mengambil tanganku dan menulis namanya di telapak tanganku. Ya Tuhan, anak ini berani sekali. Habislah kau jika bertemu Revo nanti.
"Apaan si!" Aku tarik tanganku dari genggamannya.
"Dasar galak! Mana kamarnya? Tunjukkin."
"Makanya, nurut aja kenapa si. Ikut aku, bawa barangmu sendiri." Jawabku ketus padanya.
Kita berdua berjalan menaiki tangga, kebetulan kamarnya tepat di depan kamarku.
"Itu kamarmu. Masuk sana. Aku mau masuk kamarku sendiri."
"Mana kamarmu?"
"Kamu tidak bisa lihat tulisan itu ya?" Aku menunjukkan sebuah tulisan di pintu kamarku. "Zida Room bisa baca kan?"
"Oke. Berarti kita berhadapan kamar. Kapan-kapan, aku mau main ke kamarmu."
"TIDAK! Kamu sudah punya kamarmu sendiri. Lagi pula di sini tidak boleh masuk kamar orang sembarangan."
"Baiklah! Lihat saja nanti. Aku masuk dulu."
"Sana!"
Ya Tuhan, baru hari pertama dia di rumah ini tapi rasanya kepalaku mau pecah menghadapi anak cowok bernama Romi itu. Siapa si dia? Mama hutang penjelasan banyak ini.
Astaga! Bagaimana aku bisa lupa si. Jam berapa sekarang? 17.00 sudah sore. Bagaimana membujuk Mama? Ah, Revo pasti marah ini. Bodoh! Bodoh! Bodoh! Kenapa aku bisa melupakan hal penting seperti itu.
Drrtt...
Segera ponsel yang sedang bergetar itu kuraih dari atas meja.
"Halo..."
"Yang, gimana?"
"Kayaknya kali ini belum bisa, Vo. Mamaku sedang ada tamu. Aku gak yakin Mama sempat menyiapkan makan malam."
"Yah, Yang. Terus nasib kita gimana?"
"Masih ada waktu besok, Yang. Aku akan bicarakan ini ke Mama. Oke?"
"Baiklah! Aku tunggu kabar kamu, Yang."
Klik.
Sambungan telpon terputus. Aku terus mencari akal agar bisa berbicara dengan Mama. Doakan semoga berhasil!
*
*
*
**Halo teman-teman, maaf baru up lagi. Sebelumnya mau ucapin terimakasih kepada semuanya yang sudah sabar menunggu novel ini Up. Juga berterimakasih kepada kalian semua yang sudah mendukung novel ini sejauh perjalanannya.
Alhamdulillah, tepat hari ini Novel Pacarku Posesif mendapat kontrak dari pihak Mangatoon. Doakan bisa terus menanjak statistiknya. Terus dukung dengan cara, like, komen, rate, dan vote tentunya. Dukungan kalian sangat berarti bagi, Mak. muahhhh**....