FIGHT FOR LOVE

FIGHT FOR LOVE
Part. 29



Akhirnya sekarang aku bisa bernafas lega. Perban udah dibuka, jahitannya sudah lumayan menyatu dan tertutup sekarang. Mama adalah orang yang paling senang melihat itu. Dia jadi kurang fokus dengan kerjaannya demi mengurus aku di rumah sakit.


Papa juga sangat bahagia karena aku diperbolehkan pulang. Hari ini semua berkumpul di rumah sakit, menunggu proses kepulanganku. Revo juga ikut-ikutan, dia malah izin dari sekolah demi mendengar aku akan pulang hari ini.


"Yang, kamu ngapain si ninggalin sekolah demi aku? Aku kan sudah boleh pulang. Kenapa gak ketemunya di rumah saja." Protesku pada Revo.


"Iyah Vo, Om dan Tante tahu kamu sayang pada Zi. Tetapi sekolah harus jadi prioritas utama kamu dulu."


"Gitu ya Om, Tan, ya sudah Revo kali ini minta maaf ya. Revo cukup khawatir dengan kondisi Zi. Seperti ada yang kurang kalau tidak memastikan sendiri Zi benar-benar sudah boleh pulang dalam kondisi yang sudah lebih baik."


"Lain kali jangan begitu lagi Yank. Kan aku jadi gak enak. Apa kata pihak sekolah juga nanti."


"Iyah Yank. Maaf ya. Beri pacarmu ini senyum dulu! Dari semenjak aku datang, ekspresi kamu manyun mulu. Tidak enak dilihat mataku. Sakit mata Yayankmu ini lihatnya."


Haha.., ada saja tingkah Revo yang membuat semua orang tertawa. Dia memang pandai membuat suasana jadi lebih hangat.


"Nih senyumku Yank, gimana?"


"Belum sampai di sini." Ucapnya seraya menunjuk dadanya.


"Dih, emang kerasa gitu?"


"Ya kerasalan. Orang kamu ada di dalam sini Yank."


Mama sama Papa hanya menonton kami yang terus ngobrol. Sesekali mereka tersenyum dan akhirnya membiarkan kami larut dalam obrolan.


Urusan administrasi rumah sakit selesai. Aku sudah diperbolehkan pulang. Aku dibantu suster naik ke kursi roda. Padahal aku sudah bilang, tidak apa-apa jalan sendiri. Namun susternya ngotot.


"Eh, eh, itu ngapain?" Suara Revo mengagetkan semua orang. Termasuk suster yang akan mendorong kursi rodanya.


"Vo, ada apa?" Tanyaku.


"Itu susternya ngapain, kutanya?"


"Ya kan mau didorong keluar menuju parkiran dek. Memangnya ke mana lagi?" Ucap suster itu polos.


"Tidak boleh. Suster tidak boleh dorong kursi roda Zi. Aku pacarnya. Biar aku saja yang mendorongnya." Balas Revo yang kemudian mengambil alih kursi roda.


Suster itu hanya melongo heran. Sementara aku hanya bisa menggelengkan kepala dan tersenyum tipis..


Maafkan dia suster, posesifnya kumat lagi. Haha. Revo, Revo, kadang aku suka sebel sama sikap posesifmu itu, kadang juga aku ngerasa kamu ini keterlaluan, dan terkadang pula aku ngerasa bahwa aku beruntung mendapatkan cowok sepertimu. Aku merasa dihargai dan diperhatikan. Terimakasih ya.


Mama dan Papa tidak mau terlibat lebih jauh, dia sudah tahu watak Revo seperti apa. Olehnya itu, dia duluan ke parkiran untuk membawa mobil ke depan lobi rumah sakit.


Suster yang tadi ingin mendorongku berlalu begitu saja, mungkin kembali pada kerjaannya yang telah dia tinggalkan sebelumnya.


"Yang, kasihan tahu suster itu."


"Lagian dia main dorong saja. Aku kan ada di sana."


"Biarin saja. Aku mah cuek."


***


Tak seberapa lama saat aku sudah tiba di rumah, sebuah mobil mini berwarna pink, memasuki halaman rumah. Dia membunyikan klakson satu kali. Lalu berhenti tepat di halaman.


"Vo, lihat siapa yang datang." Ucapku.


"Nggak ah. Dia masuk sendiri kok nanti. Aku mau di sini aja, temenin kamu."


"Ampun..., kan sebentar aja Yank."


"Nggak. Suruh Bibi saja."


"Bi..., bukain pintu dong!" Teriakku pada Bibi setelah ada bunyi bel.


Bibi yang dipanggil pun bergegas ke depan dan membukakan pintu. Lalu muncullah dua sepasang kekasih yang baru jadian itu, memasuki ruang tengah.


"Hai Zi, gimana? Sudah sembuh?" Sapa Dena


"Sudah. Sini duduk."


Danu duduk dekat Revo dan Dena duduk dekat aku. Sekarang, Revo sudah akrab dengan Danu. Dia sudah bagaikan dua sahabat lama yang baru bertemu. Padahal sebelumnya mereka itu bagai musuh.


Ya, syukurlah! Keduanya bisa akur. Itu juga berkat Dena yang akhirnya menerima permintaan Danu untuk menjadikannya pacar.


"Dan, kapan-kapan nge-date bareng ya." Ujar Revo dengan suara yang aku tahu sengaja dibuat besar agar terdengar olehku.


"Apa Yang?" Tanyaku.


"Hehe, nge-date Yang. Boleh gak?" Tanyanya memastikan.


"Emm..., biar kupikir-pikir dulu. Haha..."


"Yah, Yang! Boleh, tidak ada kata penolakan. Aku gak suka ditolak." Jawabnya dengan kendali diambil seratus persen. Haha.


"Pantes saja kamu dapetin Zi, cara kamu nembak dia begitu kan? Zi, kamu mau jadi pacarku kan? Tidak ada penolakan, aku gak suka ditolak. Wakakakak..." Sambar Danu yang kemudian memeragakan cara Revo nembak aku.


Karena tingkah Danu itulah, semua menjadi tertawa. Suasana rumah gaduh. Apalagi saat Revo lempar bantal sofa ke arah Danu yang puas menertawakan Revo.


Tapi emang iya si, cara dia nembak ya gitu. Hahaha. Aku terima, karena dia emang aslinya baik banget.


***


________


Maaf karena baru bisa up sekarang. semoga kalian terhibur.