
Aku kesal sama Mama, bagaimana bisa dia bawa orang lain masuk ke rumah ini. Belum lagi orangnya sombong dan angkuh, tidak ada bagus-bagusnya tuh bocah. Mama berhutang penjelasan padaku. Tapi saat ini, hal itu bukan sesuatu yang penting.
Aku harus bisa membujuk Mama untuk mengundang orangtua Revo makan siang hari ini. Jika makan siang tidak bisa, maka akan kubujuk agar mengundang mereka makan malam. Bagiku itu lebih penting sekarang.
"Ma..." Panggilku manja pada Mama.
"Apa, Zi? Kamu kalau sudah bertingkah seperti ini, pasti deh ada maunya. Iya kan?" Ucap Mama seraya menyentil hidungku.
"Mama harus janji dulu, kabulkan permintaan Zi. Okeh?"
"Ya apa dulu?"
"Janji dulu, Ma."
"Kamu ini ada-ada saja, Zi. Ya sudah Mama kabulkan. Tapi kalau permintaan kamu aneh-aneh, Mama tidak mau."
"Tidak aneh kok, janji. Zi, itu cuma mau minta satu hal. Undang Papa dan Mama Revo makan di rumah kita. Bisa kan? Terserah Mama, mau diundang untuk makan siang atau makan malam. Pokoknya undang ke sini. Bisakan?"
"Memangnya ada apa? Kenapa mendadak begini?"
"Iihh Mama, tadi kan udah janji. Kabulkan dulu, setelah itu baru aku mau cerita."
"Iya, iya. Mama telpon Tante Maya dulu."
"Asyik...! Makasih Mama..., Cup!" Aku turun dari tempat tidur Mama setelah memberinya kecupan di pipi. Hehe.
Aku senang sekali sampai keluar pintu kamar tidak lihat kalau Romi si badan besar itu berdiri di sana.
"Aww..., kan nabrak!" Pekikku.
"Apa-apaan si, jalan tuh pakai mata. Kamu gak punya mata ya?" Dih dia malah nyolot.
"Nih, mataku!" Ucapku seraya melotot ke arah Romi dan memeletkan lidah.
"Dasar, anak kecil!"
Hish, untung saja moodku sedang bagus. Kalau tidak, sudah kuladeni berantem dia. Ah, iya, aku mau telpon Revo dulu.
Sedang Menelepon...
"Yang, jadi gimana?" Belum juga ngomong Revo sudah nanya duluan. Bikin aku kaget saja.
"Mama setuju. Sekarang dia lagi telepon Mama, Yang."
"Yes...!" Dia girang banget. Padahal aku aja deg degan gimana nanti ya?
"Iyah, kamu siapin kata-kata yang bagus, Yang. Hehe."
"Tenang saja, Yang. Sudah kusiapkan kalimat terbaik untuk meluluhkan hati orang tua kita. Doakan ya." Entah kenapa kalimat Revo barusan seperti hujan yang turun di pagi hari. Dingin namun menenangkan.
"Baiklah! Kutunggu nanti malam, Yang."
"Bye."
Telpon terputus. Aku tidak pernah sesenang ini sebelumnya. Seperti jatuh cinta lagi, kepada orang yang sama.
Aku keluar kamar dengan perasaan berbunga. Tapi lagi-lagi dikejutkan dengan kehadiran Romi yang tiba-tiba sudah berdiri di samping pintu kamarku. Santai sekali dia nyender di dinding tembok kamarku. Ckckck.
"Senang banget kayaknya." Tegurnya
"Nuduh aja kerjanya. Sini, temani aku cari eskrim."
"Dih...! Ogah..., cari aja sendiri. Aku mau tidur." Ucapku seraya mau masuk kamar lagi.
"Kuadukan Mama, mau?"
"Tunggu...! Sejak kapan mamaku, jadi Mama kamu?"
"Kenapa? Kamu keberatan? Mama kamu aja gak. Ayo buruan, kamu ganti baju sana, sebelum aku adukan ke Mama dan Papa."
"Berisik!" Aku pun masuk kamar dengan menghempas daun pintu sedikit kasar.
Apa si maunya tuh orang. Seenaknya saja manggil Mama dan Papa. Belum lagi dia blagu banget, sok mau aduin ke Mama. Gerah.
Beberapa menit kemudian, aku pun keluar kamar. Dia masih berdiri di sana sambil ngemil kerupuk. Ughhh..., ngeselin!
"Naik apa?" Tanyanya.
"Sepeda. Ambil sana di garasi sepedanya!"
"Ha? Naik sepeda? Gila kamu ya?"
"Kamu tuh yang gila. Cepetan ambil sepedanya, sebelum aku berubah pikiran. Eksrimnya ada di ujung jalan ini, jalan masuk komplek."
"Cerewet, tunggu sebentar!"
Kita berdua pun sepedaan ke toko eskrim di ujung jalan komplek ini. Demi apa aku sepedaan sama orang sombong kyak dia. Huh. Awas aja ngeselin.
Aku sengaja mempercepat laju sepedaku, eh ternyata dia bisa lebih cepat dariku. Kita pun kejar-kejaran sampai tidak sadar kalau toko eskrimnya sudah di depan mata.
Akhirnya kita masuk ke dalam, memesan eskrim. Kupikir setelah beli eskrim langsung pulang, eh tahunya malah disuruh tinggal buat makan eskrim itu di sana.
"Tidak ada dalam perjanjian, kalau aku harus temani kamu makan Eksrim ya. Ayo pulang!" Protesku. Bukannya mau, dia malah duduk sambil makan eskrimnya.
Aku yang hendak berdiri dan pergi, tiba-tiba dikejutkan oleh seseorang.
Cekrek!
Suara kamera mengambil sebuah gambar. Well! Dan siapa dia? Siapa lagi kalau bukan Yuna si ratu lebah. Aku geram karena dia mengambil gambarku diam-diam.
"Kartu AS-mu ada padaku." Ucapnya licik dengan nada mengejek.
"Maksud kamu apa?" Tanyaku yang langsung emosi.
"Baru juga putus seminggu, kamu sudah ada gandengan baru, Zi. Kalau Revo tahu, kira-kira respon dia seperti apa ya? Ah, kirim gambarnya ah."
Sialan! Menyebalkan sekali.
"Terserah, kirim saja sana. Malas aku meladeni ratu lebah kayak kamu. Romi, aku pulang."
Romi juga kenapa bisa diam saja di tempatnya menikmati eskrim. Padahal kan dia bisa menjelaskan, atau paling tidak membelaku saat Yuna menyebalkan itu muncul begitu saja.
Aku mengambil sepeda dan mengayuhnya pulang. Romi entah masih di sana atau belum. Aku cuma ingin pulang dan membenamkan diri di bawah bantal.
Arhhhh..., kenapa semua masalah bisa berurutan begini si. Pusing menghadapinya satu persatu. Haissh.