
Kelas sedang ramai pagi ini, eh bukan hanya di kelasku. Tapi juga mungkin di seluruh sudut sekolahan ini. Tersebar sebuah video seorang siswi bersama pasangannya di media sosial. Sedang melakukan hal tak senonoh. Berita itu beredar begitu cepat. Aku sampai ngeri membayangkan, bagaimana reaksi siswi tersebut.
Belum terkonfirmasi kebenaran apakah dia benar siswi di sini atau dari sekolah lain. Hanya banyak yang meyakini bahwa siswi itu dari sekolah ini karena melihat logo sekolah di seragamnya.
Ishh lagian ngapain si begituan pakai seragam sekolah dan di videoin? Otaknya jalan-jalan apa ya sampai gak bisa bedain mana yang boleh dilakukan mana yang tidak.
Aku merinding mendengar semua cerita dari teman-teman. Mulut ke mulut entah sudah ke berapa mulut. Dan apakah sesuai cerita di awal atau malah sudah dapat banyak bumbu-bumbu nyinyir di dalamnya. Entahlah!
Semuanya semangat banget bercerita, seolah paling tahu kejadian sebenarnya. Aku cuma nyimak, tidak terlalu ambil pusing. Kabarnya videonya sudah dihapus semua dan diblokir. Ya baguslah, biar penyebarannya tidak kemana-mana walau sudah terlanjur basah.
"Kamu kenal De?"
"Nggak." Jawab Dena seraya menaikan kedua bahunya.
"Yang mana si orangnya?"
"Jangan terlalu kepo sama hal yang bukan urusan kamu Zi."
"Hhh, iya juga si."
"Kantin saja yuk!" Ajak Dena. Suasana kelas sudah tak terkendali. Ribut bagai pasar. Jengah.
"Ikut boleh?" Tiba-tiba Danu sudah berdiri saja di sampingku.
"De, ikut jangan?"
"Ikut saja. Kantin tempat umum kok. Siapapun boleh ke sana. Kenapa harus minta persetujuan aku." Jawab Dena cuek saja.
"Bentar ya, aku panggil Revo dulu."
"Cepet ya." Ucap Dena seperti tak sabaran.
Aku sengaja ninggalin mereka berdua. Biar Danu bisa leluasa bicara pada Dena. Beberapa menit kemudian, aku berjalan ke arah mereka bersama Revo.
Kita berempat berjalan menuju kantin. Semua pembahasan masih sama. Di koridor sekolah, bahkan sampai di pintu kantin masih saja bahas soal rumor yang beredar itu.
"Ternyata sudah meluas begitu ya beritanya?" Ucapku seraya duduk di bangku kantin.
Kita duduk berhadap-hadapan, aku sama Dena. Revo sama Danu. Ketiganya tampak canggung. Dena bahkan cuek bebek saja pada Danu. Revo apalagi. Dari tadi hanya sibuk mainin garpu atau sendok di meja sambil tunggu pesanan kita datang.
"Kalian ngomonglah! Masa aku terus yang duluan buka obrolan?" Protesku.
"Ngomong saja Yang."
"Dena, ayo ngomong!"
"Mesti ngomong apa? Gak ada bahan."
"Danu?"
"Sama. Aku tidak tahu harus bicara apa."
"Issh, kalian semua nyebelin."
Prankkkk!!!!
Sebuah mangkok berserakan pecah di lantai. Semua mata mengarah ke sumber kejadian. Kita semua kaget.
Aku lihat seorang cewek, sepertinya sedang marah besar.
"Kalian kenapa si? Sudah puas ngomongin temanku? Puas kalian? Puas kalian dia mati bunuh diri?"
APA??? Bunuh diri? Astaga! Jadi siapa sebenarnya siswi yang jadi bahan pembicaraan hangat itu?
Cewek itu marah-marah tak terkendali. Dia melempar semua yang ada di atas meja. Sampai kita semua panik karena takut menjadi amuk kekesalan dia. Apalagi jarak kita sangat dekat dengan cewek itu.
Aku panik juga takut, tapi entah kenapa aku malah mendekat ke arah cewek itu.
"Zi!!!" Kudengar suara Revo memanggil.
Aku terus mendekati dia yang sudah selesai mengamuk. Dia menangis sesegukan di tempatnya. Tak ada yang berani dekat kecuali aku.
"Hei, kamu kenapa?"
"..."
Tak ada jawaban, aku hanya mendengar tangis pilu yang begitu menyayat hati darinya.
Dan tiba-tiba.
Bruggg!!!
Dia mendorongku, aku hilang keseimbangan dan terjatuh di antara pecahan kaca. Arhhhh! Aku merasa sesuatu menusuk telapak tanganku.
"Zi...!"
Revo mendekat, Dena dan juga Danu. Aku mengangkat tanganku dan kulihat banyak darah mengalir.
Cewek itu entah sudah di mana. Tadi sempat kudengar dia berteriak saat petugas keamanan datang dan membawanya pergi.
Revo tak menunggu lama. Dia menggendongku. Wajahnya sangat panik. Aku juga mulai panik karena darah terus mengalir. Sepertinya pecahan kaca itu sangat dalam menusuk tapak tanganku. Aku merasakan ngilu di bagian telapak, juga nyeri bukan main.
"Zi, tolong bertahan!" Sayup kudengar suara Revo yang berlari membawaku ke arah parkiran.
"Dena, tolong buka pintu mobilmu. Kita harus bawa Zi ke rumah sakit. Aku takut dia kehilangan banyak darah."
Semua tampak panik saat terakhir kulihat wajah mereka dan semuanya menjadi gelap.
***
Terimakasih sudah mampir.... 🤗🥰
Kalau suka jangan lupa kasih like, komen dan vote yah. hehe