
- Pengumuman Kelulusan -
Jika ada momen paling mengharu biru dalam hidupku, mungkin salah satunya adalah hari ini. Hari di mana pengumuman kelulusan diumumkan. Sebelum pengumuman, ada apel pagi yang membuat semua murid hening cipta. Kepala sekolah menyampaikan pidatonya dengan penuh perasaan.
*Hari ini adalah penentuan kalian, layak atau tidak kalian melanjutkan ke perguruan tinggi. Bukti dari semua usaha kalian dalam proses belajar selama tiga tahun ini. Bapak sangat bangga pada kalian, generasi emas penerus bangsa. Melanjutkan perjuangan para leluhur yang telah merelakan jiwa dan raganya untuk bangsa ini.
Olehnya itu, pada hari ini, izinkanlah Bapak menyampaikan permohonan maaf, jika sekiranya selama berada di dalam pengawasan dan bimbingan bapak selaku kepala sekolah, bapak kurang amanah atau tidak menjalankan tugas sebagaimana mestinya. Juga maafkanlah guru-guru kalian, jika dalam masa mendidik, terdapat kesalahan dalam sikap dan tutur kata mereka.
Semoga, ke depannya masa depan kalian semakin cemerlang. Membuat bangga almamater kalian dengan segudang prestasi. Selanjutnya, pengumuman kelulusan biar diambil alih oleh bagian kurikulum serta kesiswaan.
Sekali lagi, selamat buat kalian semua. Lanjutkanlah semangat dan cita-cita kalian. Semoga menjadi orang yang sukses dan berguna bagi Nusa dan bangsa*.
Riuh tepuk tangan menutup pidato Bapak Kepala Sekolah. Lalu tibalah masa mendebarkan itu. Pengumuman ditempel di papan pengumuman, para siswa diminta untuk melihat langsung nama-nama mereka.
Aku, Dena, Danu, dan juga Revo, masih berdiri di tempat semula. Belum berani untuk berdesakan dan mencari nama. Tanganku mulai berkeringat dingin, seolah kekhawatiranku makin bertambah saja. Aku memegang tangan Dena, dia menoleh ke arahku dan aku hanya tersenyum ke arah dia.
"Tangan kamu dingin sekali, Zi."
"Iyah, aku deg degan, De."
"Yang, tenanglah! Dena, tolong kondisikan tangannya." Revo protes lagi. Padahal dalam masa seperti ini, masih sempat dia bicara seperti itu. Haha. Tapi kok kedengarannya lucu dan menggelitik.
Sudah lama aku tak mendengar Revo protes seperti itu. Haha. Mendengar ucapan Revo barusan, Dena serta merta melepas genggamannya dari tanganku. Lalu hal mengejutkan terjadi.
Danu meraih tangan Dena dan memasukkan kelima jarinya ke ruas jari Dena. Saling bergenggaman. Ah, so sweet sekali.
"Tidak usah pamer." Ucap Revo tak senang. Wajahnya menunjukkan betapa dia juga ingin melakukan hal yang sama.
Danu hanya tertawa dan semakin mengeratkan genggaman lalu menunjukkan di depan Revo. Haha.
"Kamu pikir aku tidak bisa melakukannya? Aku juga bisa." Lanjut Revo seolah menantang.
Apaan si, Yang. Biarin aja kenapa si. Toh mereka pacaran. Kita kan masih dalam masa hukuman.
"Tidak ada yang ngelarang kamu melakukan hal yang sama kok." Danu mulai memancing lagi.
Dena senyum-senyum sendiri di tempatnya.
"Zi, kayaknya ada yang terbakar ni. Kamu gak mau mendinginkan mesin dia?" Celetuk Dena.
Aku menyenggol lengan Dena yang sudah bicara sembarangan. Jangan sampai Revo kepancing, bisa bahaya.
Aku pun mempunyai cara lain, membuat mereka tidak ledek-ledekan lagi.
Melihat teman-teman semua berbahagia dengan hasil pengumuman kelulusan. Aku juga ikut penasaran. Aku menarik Dena untuk segera ke papan pengumuman.
Aku mencari-cari namaku.
"Aaak, ketemu. Yess! Lulus!" Aku tak sengaja karena saking gembiranya, aku memeluk Dena.
Tentu saja hal itu semakin memancing amarah Revo. Haha.
"Yang..., ishh! Memangnya harus pelukan segala ya?" Ya Tuhan dia protes lagi.
"Iya, maaf. Yang, kita semua lulus! Aaaaakk..., senang sekali rasanya."
Aku lompat-lompa kegirangan bersama Dena. Merayakan kelulusan meski terlihat norak. Haha.
"Se..., se..., se..., lamat atas kelulusannya." Ucap seseorang yang tiba-tiba menghampiriku.
Seorang cowok yang juga kutahu siswa di sini, sedang berdiri di sampingku seraya sesekali memperbaiki kacamatanya yang kerap kedodoran.
Aku berbalik ke arah dia. Tatapan Revo, sudah jangan ditanya lagi. Matanya sudah mengajak untuk berkelahi. Hehe.
"Ah, iya. Makasih ya. Kamu juga lulus kan?" Jawabku seramah mungkin.
"Ii..., iya, ak..., akkku juga lulus." Jawabnya makin gagap. Dia melihat ke arah Revo, semakin gagap. Duh, aku jadi kasihan.
"Salamat ya."
Cowok itu mengangguk dan menyebutkan namanya. "Aak-- Aaakku-- Bima."
Hahaha, nyali cowok ini besar juga. Dia ngajak kenalan. Lihat wajah Revo sudah seperti tomat busuk. Kemerahan karena ingin sekali marah tapi ditahan.
"Ba-- Bai--k lah..., ak-- aakkuu perr-- gi du--lu."
Cowok itu pergi, seketika tawa Dena dan Danu meledak. Sampai beberapa siswa melirik ke arah kami.
"Buahaahahah...," Tawa Danu paling besar dan lebar. Dia bahkan memegangi perutnya saking lamanya dia ketawa.
"Cih! Apa yang salah si?" Revo benar-benar sudah kepancing kali ini.
"Sabar, Yang!"
"Hahaha..., gila! Baru pertama kali ini aku lihat ada yang berani kenalan sama Zi dan Revo dibuat tak berkutik. Ahahahaa...!" Lanjut Danu masih terus tertawa.
"Siapa si tuh orang? Kamu kenal, Zi?"
"Nggak. Aku cuma sekali ketemu dia. Itupun karena insiden yang tidak menyenangkan. Aku menabrak dia di koridor dan menjatuhkan buku-buku yang dibawanya. Setelah itu gak pernah ketemu dan ngobrol apa lagi."
"Berani dia mengabaikanku."
"Sudah, Yang. Orangnya juga sudah pergi."
Lalu si cewek pengganggu datang.
"Selamat ya, Revo. Kamu juga lulus kan?" Tanya Yuna si tamu tak diundang.
"Lulus."
"Oh iya, jadwal latihan hari ini jam 2 siang ya. Di tempat biasa, jangan lupa." Yuna sambil mengerling mata ke Revo. Membuatku emosi saja.
"Ok."
"Hahaha..." Tawa Dena yang meledak.
"Sekarang giliran kamu, Zi. Akakakaakk."
"Dena, ishh!"
"Kalian berdua cukup menghibur hari ini, iya gak, Yang?" Ujar Danu yang masih terus saja tertawa.
"Yang, kenapa dia tahu jadwal latihan kamu si?"
"Karena dia yang mengatur semuanya. Dia ditunjuk oleh Robby menjadi asisten yang mengurus segala jadwal, termasuk latihan dan turnamen."
"Kenapa harus dia coba?"
"Ya kan, dia ikut sama Robby Yang. Dia dipercayai mengurus semuanya."
"Aku tidak suka." Jawabku ngambek.
"Katanya dukung hobi aku, dukung apa yang kulakukan. Sekarang malah ngambek."
"Ya, kan itu artinya kamu akan sering ketemu dia, Yang. Aku tidak suka."
"Kamu lupa ya, aku ngomong apa? Di sini, cuma ada kamu. Tidak yang lain." Tuturnya seraya menunjuk dadanya.
"Cieeeh..., lagakmu, Vo." Sindir Danu.
"Gak bisa lihat orang senang si."
"Haha..., ya sudah teruskan modus kamu. Hahaha. Aku sama Dena mau duluan, kita ada sesuatu yang perlu dikerjakan."
"Oh iya, Danu bener Zi. Kita duluan ya?"
"Okelah. Hati-hati kalian."
"Kalian berdua yang mesti hati-hati, jangan sampai berantem. Haha."
***
Aku dan Revo pulang bersama, sekalian mau nunjukin ke Mama bahwa nilai kami baik-baik saja. Juga berharap masa hukuman berakhir dan kita bisa menyambung hubungan yang sempat terputus. Hiks.