
Sudah seminggu sejak aku pulang dari rumah sakit, Revo datang ke rumah tapi aku tidak dibiarkan bertemu dengannya. Bahkan orangtua Revo tidak mau ditemui oleh Mami dan Papi. Mungkin mereka meminta penjelasan atas sikap Mami dan Papi yang berubah. Aku juga masih tidak bisa terima jika hubungan aku dan Revo harus dipaksa berakhir begitu saja.
Baru kali ini aku merasakan perasaanku begitu kuat pada Revo. Kehilangan itu menyakitkan, aku sudah kehilangan senyum dia selama beberapa hari ini. Ponselku bahkan disita oleh Mami, tidak dibiarkan berkomunikasi dengan siapapun dan dalam bentuk apapun.
Aku merasa aku sedang dipenjara di rumah ini. Melihat wajah Romi kebencianku padanya semakin bertambah, semua ini gara-gara dia. Jika dia tak punya perasaan apapun padaku, mengapa dia harus menghancurkan hubungan aku dan Revo? Itu jahat namanya.
"Zi ..."
Suara Mami memanggilku dari luar kamar, aku malas untuk membukanya. Pasti hanya menceramahi saja dan nasihat-nasihat yang bahkan tidak aku butuhkan sama sekali. Apa aku berhenti saja untuk kuliah? Kurasa percuma juga kuliah jika seluruh ruang gerakku dibatasi. Tidak bisa bergaul dengan bebas seperti sebelumnya.
Ceklek.
Pintu kamarku terbuka, aku bahkan tidak menoleh ke sana. Aku tahu itu Mami, makanya aku telungkup saja seraya membayangkan kapan akan bisa bertemu Revo lagi.
"Sayang ... kamu kenapa? Wajah kamu murung terus setiap hari. Apa yang kamu pikirkan?"
"Seharusnya Mami tahu apa yang sedang kupikirkan, apa yang menggangguku dan semua tentang perubahan sikapku ini. Menurutku Mami dan Papi terlalu berlebihan mencampur adukkan masalah keluarga dengan hubunganku bersama Revo."
"Zi ... harus berapa kali lagi Mami harus jelasin ke kamu. Mami dan Papi terpaksa mengambil keputusan ini untuk mempertahankan harga diri Papi di depan direksi perusahaan. Jika Papi menolak keinginan orang tua Romi maka Papi akan kehilangan seluruh usaha yang dibangunnya selama ini. Apa kamu tega?"
"Tapi pengorbanan itu tidak sanggup untuk Zi lakukan Mi. Berapa banyak hati yang tersakiti hanya karena masalah ini. Apa Mami dan Papi sudah berbicara dengan orang tua Revo? Pernahkah Mami dan Papi berpikir bagaimana perasaan mereka?"
"Zi ... Mami sudah coba berbagai cara tapi Papi bersikeras. Kamu pikir Mami tidak membantu kamu?"
"Ma ... bisakah Mami keluar dari kamar Zi. Kepala Zi pusing, butuh istirahat."
Kulihat Mami terdiam. Dia mungkin juga kecewa dengan setiap ucapanku. Maafin aku Ma.
Tidak lama setelah kepergian Mami, Bibi datang membawa makanan.
"Non, Bibi bawakan sesuatu buat Non Zi."
"Letakkan saja di meja Bi, nanti akan Zi makan." Ucapku tanpa melihat ke arah Bibi.
"Nona tidak mau lihat dulu?"
"Tidak, Bi. Taruh saja di situ."
Aku terkejut begitu Bibi memberiku selembar amplop. "Apa ini, Bi?"
"Non ... barusan Den Revo datang ke rumah. Kemarin itu Bibi kasih nomor telepon Bibi, jadi saat mau datang ke sini, dia hubungi Bibi dulu." Bisik Bibi.
Seketika wajahku kembali bersemangat, aku mengubah posisiku dari tengkurap ke duduk sambil memangku bantal. Membuka amplop itu dan rupanya sebuah surat.
Aku membuka kertas itu dan melihat tulisan gede sekali.
ZIDA ..., PACARMU REVO MERINDUKANMU.
Sebaris kalimat sederhana tapi mampu mengubah moodku dalam sekejap. Aku senyum-senyum sendiri dan mendekap surat itu ke dada.
"Bi, apa dia sudah pulang?"
"Sudah, Non. Eh, Bibi punya ide."
"Apa, Bi?" Sambungku sangat antusias.
"Mau, Bi. Sekarang saja ya." Rengekku seperti anak kecil minta mainan.
Bibi pun mengeluarkan hape jadul miliknya. Ini nih yang namanya the power of handphone jadul. Hehe.
"Bi, ini gimana caranya telpon?"
"Cari nama Den Revo habis itu tekan tombol dial berwarna hijau ini, Non."
Aku mendengar nada dering saja, teleponnya belum diangkat Revo. Apa dia masih di jalan ya? Sampai begitu lama mengangkat telepon. Setelah dering ke tujuh, barulah teleponnya diangkat.
"Halo, Bi." Sapanya.
"Kamu selingkuh sama Bibi ya?" Setangku pura-pura kesal dan marah.
"Zi ...! Ya ampun, aku merindukanmu Yang."
"Aku juga. Huhu ... Yang, kamu apa kabar?"
"Baik. Kamu juga baik kan? Kamu masih ingat pesanku kan? Jangan memakai pakaian terbuka selama di rumah. Aku tidak mau tubuhmu dinikmati secara gratis oleh cowok yang senangnya cuma berlindung di balik topeng orang tua."
"Yang ... jangan bahas itu yuk! Aku cuma mau bahas yang lain saja. Agar kerinduanku ini sedikit terobati."
"Sayang, kamu benar dijodohkan ya?"
"Kamu gak akan ninggalin aku kan? Kamu akan berusaha untuk mempertahankan hubungan kita bukan?"
"Sudah, jangan bahas itu dulu. Kamu tahu seberapa besar aku sayang padamu, Zi. Tidak mudah bagiku menerima, tapi bukan berarti aku menyerah darimu. Kita akan berjuang bersama-sama."
"Sayang, aku takut."
"Jangan takut, aku akan selalu ada untukmu."
Tuut ... tuut ... Tut ...
telponnya tiba-tiba terputus. "Yah ... Bi, hapenya mati. Gimana dong? Kan belum selesai kangen-kangenan."
"Maaf Non, iya Bibi lupa buat charger dulu."
"Yah ... Bibi. Ya sudah lain kali dicharger dulu sampai penuh ya? Kan jadi gantung gini, Bi."
Bibi cuma nyengir agak merasa bersalah, tapi kan mau gimana lagi karena baterainya habis.
Aku sedikit lega sekarang, bisa mendengarkan suara Revo saja bahkan bisa membuat suasana hatiku lebih baik.
Bibi keluar dari kamar aku jadi tidak tahu karena kepalaku sudah sibuk memikirkan Revo lagi. Baru seminggu saja rasanya sudah setahun tidak bertemu dengan Revo. Aku akhirnya bisa kangen juga ya sama dia. Padahal, dulu-dulu itu hanya Revo yang sering bilang kangen. Aku lebih ke B aja, walau rindu gengsi buat bilang. Hehe.
Sekarang kebiasaan-kebiasaan yang sering dilakukan Revo menjadi sangat kurindukan. Semacam betapa marahnya dia ketika aku ngobrol dengan Dena dan terlihat lebih bahagia dibanding saat bersamanya. Dia akan protes sampai aku yang tidak enak pada Dena. Atau semisal di sekolah, aku duluan tiba di kantin dan kebetulan duduk dengan siswa lain berbaur dengan mereka. Revo pasti memasang mata waspada dan siapapun yang dekat denganku akan segera minggir dan menjauh dariku.
Dia itu unik menurutku, dia memang posesif, tapi bukan ke hal-hal kekerasan, memaksakan diri tapi lebih ke posesif yang nyebelin tapi juga bikin senyum senyum sendiri jika ingat semua momen itu. Nah, persis seperti sekarang, ketika aku mengenangnya saja aku bisa tersenyum lebih banyak dari biasanya.
Hah ... membayangkan aku dipisahkan dengan Revo oleh orang tua sendiri kok rasanya sesak ya. Aku tidak mau memikirkannya karena hanya akan buat sakit hati saja.
Ma ... Pa ... kuharap kalian bisa mengubah keputusan itu atau aku bisa melakukan hal yang tak pernah bisa kalian bayangkan sebelumnya.