
Ini pertama kalinya Revo marah padaku. Sebelumnya jika pun dia kesal, dia akan selalu kembali seperti semula jika aku sudah senyum nyengir ke arahnya. Meminta pengampunan. Tapi kali ini, hal itu tidak mempan sama sekali. Artinya dia benar marah dan kecewa.
Aku ke kelasnya, dia hanya menyapa sebentar lalu balik ke lapangan bermain basket. Beberapa kali melemparkan bola itu ke ring basket dengan keras. Aku tahu dia sangat marah. Apa yang harus kulakukan?
"Revo masih marah?" Tanya Dena
"Iya..." Jawabku dengan lesu dan kepala tertekuk.
"Sabar aja, mungkin dia cuma mau kamu tahu kalau kesalahan kamu ini fatal dan harus belajar dari kesalahan itu."
"Iya. Lalu apa yang harus kulakukan De?"
"Aku tidak bisa kasih saran apa-apa. Apa yang harus kamu tahu dari aku? Aku tidak punya pengalaman soal beginian. Pacar saja tidak punya."
"Serius kamu belum pernah pacaran?"
"Sejak kapan aku bohong."
"Kalau ada yang suka kamu gimana?"
"Ya dia harus berusaha." Jawabnya cuek. "Lah, kenapa jadi bahas aku si?" Lanjutnya lagi.
"Hehe... kamu sendiri yang ngomong."
"Udah biarin aja dulu. Lagian kamu udah tahu, dia gak bisa lihat kamu disentuh orang lain. Malah pergi ke perpus sama Danu."
"Tapi kan gak gitu ceritanya De. Danu yang langsung narik kok."
"Apapun itu, intinya adalah dia gak suka kamu disentuh. Dan itu kamu tahu karena ada dalam perjanjian pacaran kamu."
"Iya si. Huh..., sampai kapan dia akan marah De?"
"Mana kutahu."
"Aku lapar."
"Kantin yuk!"
Aku dan Dena ke kantin. Kemudian secara tidak sengaja aku berbalik ke belakang dan lihat Revo sedang memegang bola berhadapan dengan seorang cewek. Cewek itu juga megang bola yang sama.
Deg!
Jantungku seperti berdentum keras. Beraninya. Aku menghentikan langkahku. De sudah agak jauh ke depan. Lalu balik lagi karena melihat aku tertinggal di belakangnya dengan tatapan bengong. Berdiri terpaku.
Ah, pemandangan ini kenapa sangat menyakitkan. Siapa si cewek itu? Beraninya mengganggu Revo-ku.
"Zi, ada apa?" Tanya Dena penasaran karena melihat mimik wajahku yang berubah drastis.
Dena melihat ke arah pandanganku karena pertanyaannya tak kugubris. Dia hanya melihat Revo yang main basket. Tidak ada yang istimewa.
"Kenapa si?" Tanyanya gak sabaran.
"Nggak. Nggak ada apa-apa. Kamu ke kantin sendirian ya. Tiba-tiba aku tidak lapar lagi."
Tanpa menunggu jawaban Dena aku sudah berlari masuk kelas.
Kenapa hatiku sakit? Padahal mereka hanya saling melihat beberapa detik. Yang bersentuhan juga cuma ujung jari mereka yang kebetulan masing-masing memegang bola. Ah, apa iya aku sedang cemburu? Gini yang dirasakan Revo saat dia melihatku ditarik begitu saja oleh Danu? Huh, jika iya, pantas dia kecewa berat sama aku.
Mataku serasa panas. Ingin menangis. Mengapa secengeng ini?
"Hei, kamu nangis? Ada apa?" Danu sudah duduk di depanku.
Cepat aku menghapus air mata yang entah kenapa tiba-tiba saja keluar tanpa diminta.
"Tidak! Siapa bilang aku nangis?"
"Aku lihat."
"Lihat apa?"
"Lihat kamu nangis. Zi, kamu masih marahan dengan Revo? Baiklah aku akan minta maaf langsung ke dia."
"Eh jangan!" Sergahku.
"Kenapa?"
"Dia mungkin masih marah. Tidak apa biarin aja dulu."
"Hapus air mata kamu."
Danu memberikan sapu tangannya untuk menghapus air mataku.
Ini pertama kali aku menitikkan air mata selama mengenal dia. Aku tidak pernah menangis untuk hal-hal yang remeh. Lalu sekarang?
Aish, kenapa aku jadi begini?
Aku menenangkan diri sejenak. Bel masuk berbunyi. Kemudian teman-teman masuk kelas. Aku izin ke toilet. Mencuci wajah yang sembab dan mata memerah.
Aku melewati kelas Revo. Aku berjalan menunduk. Tidak berani mengangkat kepala. Tiba-tiba...
Bruukkk!!!
Aku menabrak seseorang.
"Kamu mau ke mana? Sudah bel." Tanya orang itu yang tak lain adalah Revo.
Kenapa harus ketemu dia si? Aku kan tidak mau sampai ketahuan kalau aku baru saja menangis.
"Aku mau ke toilet." Jawabku masih menunduk.
"Kenapa menunduk seperti itu? Lihat aku!"
"Tidak mau."
"Zi, lihat aku!"
"Tidak."
"Zi..."
"Tidak!" Jawabku bersikeras dan pergi meninggalkan dia.
Dan, aaakhhhh tanganku seperti ditarik.
Ternyata Dena. Aku kira Revo.
"Sakit De."
"Mau ke mana buru-buru gitu?"
"Toilet."
"Mata kamu kenapa?"
"Kelilipan."
"Sepertinya bukan kelilipan. Kamu habis Nang___
"Apa si Zi?"
"Jangan kencang-kencang. Revo dengar nanti."
Baru saja dibilangin, eh dia sudah berdiri di antara aku dan Dena.
"Mata kamu kenapa?"
"Kelilipan." Jawabku.
"Sampai bengkak begitu?"
"Iya."
"Kita ke UKS sekarang."
Revo bukan tipe cowok yang senang dibantah. Jika dia bilang A maka harus A. Pasrah sajalah. Sudah ke-gap begini juga.
"Kalian lanjutin deh, aku duluan ke kelas. Nanti kubilang guru yang masuk kalau kamu ke UKS."
"Makasih De."
Akhirnya kita berdua berjalan tanpa bicara ke ruang UKS. Diam seribu bahasa.
"Duduk!" Ucapnya saat tiba di UKS.
Aku duduk dan tidak mau menatap langsung ke matanya.
"Ada apa? Kenapa menghindari bertatapan denganku?"
"Ah tidak kok. Perasaan kamu saja."
"Kamu nangis kenapa?"
"Siapa yang nangis?"
"Jangan bohong sama aku Zi. Aku tahu kamu."
"Semuanya juga gara-gara kamu kan."
"Kenapa jadi aku?"
"Iyah. Kamu."
"Loh, aku nggak ngerti."
"Cowok emang gak peka."
"Cewek juga sama gak pekanya. Gak bisa jaga perasaan cowoknya."
"Cowok juga gitu."
"Lah kapan aku begitu?"
"Tadi. Di lapangan itu apa?"
"Tadi? Di lapangan? Emang apaan? Apa yang terjadi di lapangan? Aku cuma main basket."
"Bukan itu."
"Lalu?"
"Siap cewek itu?"
"Cewek yang mana?"
"Yang ngasih kamu bola?"
Revo berusaha mengingat-ingat. Lalu beberapa saat kemudian dia seperti mengingat sesuatu.
"Astaga Zi! Cewek itu cuma ngambil bola di luar lapangan lalu kasih ke aku. Apanya yang salah?"
"Tapi kalian lihat-lihatan terus ujung jari kalian bersentuhan." Jawabku dengan suara yang hendak menangis.
"Hissh!! Kenapa sekarang jadi kamu yang marah? Jadi kamu yang lebbay? Itu bukan apa-apa, dia bukan siapa-siapa aku."
"Tapi tetap saja."
"Kamu cemburu?"
"Nggak!" Jawabku tegas.
"Aish... bilang cemburu saja susah amat. Aku suka kalau kamu cemburu. Hehe." Ucapnya menggodaku.
"Bodo..."
"Jangan marah Yang! Harusnya aku loh yang marah sama kamu. Karena kamu mau aja dipegang sama Danu."
"Tapi itu gak sengaja."
"Tadi juga gak sengaja Yang!"
"Tapi hati aku sakit."
"Kamu pikir aku gak sakit, kamu disentuh orang lain? Aku merasa gagal jaga kamu Yang."
Ah, kenapa dia tiba-tiba ngomong seperti itu si. Bikin meleleh saja. Perasaanku menjadi lebih baik demi mendengar dia bicara sekalimat di akhir tadi.
"Maaf, soal kemarin."
"Maaf juga soal yang tadi."
"Jadi baikan nih?"
"Jangan ulangi lagi ya?"
Ucapnya begitu serius. Ah aku jadi merasa bersalah juga kalau begini.
"Iyah Yang. Lain kali lebih hati-hati."
"Bukan apa-apa Yang, aku laki-laki. Aku yang bertanggung jawab bila terjadi sesuatu sama kamu. Jadi tolong, jaga kontak fisik. Kamu sayang aku kan?"
Ululuwww...Dia manis banget si ngomong itu ke aku. Dia emang lebih dewasa dalam berpikir. Ah maaf Yang. Sikapku keliru. Walau itu terjadi Refleks.
"Baiklah. Makasih sudah mau maafin aku."
"Sama-sama. Cuci wajah kamu dan kita kembali ke kelas."
***
__________________
Halo terimakasih sudah mau membaca tulisan ini Ya. Mohon kritikannya.