
Aku baru saja diterima di salah satu Universitas Swasta, mengambil jurusan Bahasa Indonesia. Jurusannya kedengaran tidak cocok denganku, tapi aku rasa aku bisa beradaptasi. Revo mengambil jurusan olahraga, seperti hobinya dia sangat senang dengan olahraga basket.
Kita sama-sama diterima di Universitas yang sama. Aku senang karena bisa satu kampus dengannya nanti. Hanya saja, Romi sedikit menjadi beban pikiran. Dia itu anaknya berbicara apa adanya, tidak ditakar dulu atau disaring. Apa yang tidak disukainya akan disampaikan suka atau tidak suka buat yang mendengar.
Selain itu, dia sering kali menggangguku dengan dalih 'kita kan saudara'. Sebenarnya aku risih, karena aku hampir tidak pernah bersentuhan atau terlalu akrab dengan laki-laki meskipun itu keluarga inti aku sendiri.
Saat akan pulang ke rumah.
"Yuk, kita pulang sama-sama!" ajak Romi yang dengan seenak jidatnya mengalungkan tangan di leherku.
Segera kuhempas tangannya yang sedikit kurang ajar itu.
"Apaan sih." Ucapku risih.
Romi mendesis.
"Memangnya tidak boleh?"
"Jelas tidak bolehlah, kita bukan muhrim yang boleh saling sentuh satu sama lain. Kamu pikir aku cewek apaan?" Sungutku dengan nada emosi.
"Ya elah, rangkul bahu doang emang apa yang salah? Kamu kan saudara aku, boleh dong."
"Kamu itu kenapa si? Tidak usah sok akrab gitu deh, kita mungkin ada hubungan keluarga ya tapi bukan berarti kamu seenaknya melakukan hal seperti tadi." Tatapku geram padanya.
Dia meloyor pergi begitu saja saat tahu Revo berjalan ke arahku.
"Ada apa, Yank?"
"Kesal tahu ih, semakin hari dia itu nyebelin banget dan semakin berani sama aku."
"Memangnya kenapa?"
"Sudah tidak usah dipikirin. Pulang yuk!"
Jawabku memilih untuk tidak menceritakan perihal itu kepada Revo. Karena jika Revo tahu, aku tidak bisa jamin dia akan menahan dirinya dari memukul Romi. Revo itu emosinya cepat kepancing, aku tahu betul bagaimana watak di sifat dia.
Kita berdua berjalan beriringan menuju parkiran. Refleks mataku tak sengaja melihat sosok Yuna, dia tengah berbicara dengan sepupunya yang juga bagian dari Club Basket yang dimasuki Revo waktu itu.
"Yuna daftar diterima di sini juga?" tanyaku pada Revo yang saat itu sudah menaiki motornya.
"Iya, memangnya kenapa?"
"Tidak si, aku baru tahu." jawabku kemudian diam dan langsung naik ke jok belakang.
Hmm ... Kalau Yuna di sini, itu artinya dia akan semakin sering bertemu Revo juga dong? Dunia kok sempit banget si, kenapa juga dia harus ngintilin Revo sampai ke kampus ini coba.
Motor Revo melaju kencang di jalan kota, beradu kecepatan dengan beberapa kendaraan lain. Rambutku sampai melambai-lambai akibat diterpa angin kencang. Efek dari laju motor yang kurasa semakin lama semakin cepat.
Aku pun melingkarkan tanganku ke pinggang Revo. Mendekatkan kepalaku dan bersandar di punggungnya. Aku tersenyum, menikmati setiap debar dari jantungku. Tiap kali aku memeluk pinggang Revo, aku selalu malu-malu tapi juga merasakan kehangatan dan kenyamanan.
Aku merasakan ada yang hangat menelungkup punggung tanganku. Aku semakin terdiam dibuatnya, tangan Revo memegang tanganku dan tangannya yang satu mengemudi motor. Perlahan kecepatan motor itu pun menjadi lambat, aku mengangkat kepalaku, rupanya sudah mendekati komplek perumahanku.
Revo segera menarik tangannya, begitu juga aku yang menarik tanganku dari pinggang Revo. Dia menatapku lewat kaca spion, dia tersenyum. Manis sekali. Motor Revo kemudian berbelok masuk ke parkiran kedai Eksrim yang sering kita kunjungi berdua.
Mesin motor berhenti, aku turun dari motor dan menyerahkan helm padanya.
"Mampir ke sini dulu ya, tiba-tiba aku ingin sekali makan eskrim." Ucapnya.
"Iya, Yang. Sudah lama juga kita tidak mampir di sini. Duduk di meja pojokan sana yuk!" Ajakku seraya menunjuk sebuah meja di pojokan yang masih kosong.
"Kenapa?"
"Biar aku lap dulu, mana tahu ada kuman atau penyakit yang nempel di sana sebelum kita duduk di sini."
Nah, satu lagi kebiasaan Revo jadi dia itu menjaga kebersihan banget. Bukan cuma itu, dari segi berpakaian saja dia itu perfect banget soal penampilan.
Kuperhatikan dia saat me-lap meja dan kursi dengan senyum. Dia baik banget si. Ucapku dalam hati.
"Silakan duduk, Yang. Sudah bersih, lihatkan tadi tuh debunya banyak yang nempel. Nih liat tisunya sampai dekil begini."
Padahal ya, tissunya gak dekil-dekil amat si, ya tetap kotor si. Hehe.
Kita berdua memesan eskrim yang sama, karena kita berdua suka Eksrim rasa Vanilla. Sambil menunggu pesanan datang, aku mengamati sebentar wajah Revo.
"Yang, Romi sepupumu itu mau sampai kapan si tinggal di rumah kamu?"
"Katanya si sampai lulus kuliah."
"Lama berarti ya."
"Ada apa?"
"Entahlah, mungkin ini hanya rasa cemburu saja yang berlebihan atau karena aku takut ada orang lain yang mendekati kamu terlalu berlebihan. Dia kan sudah dewasa, apa tak sebaiknya dia ngekost saja ya?"
"Tahu tuh Papi sama Mami, aku juga rada risih ada dia di rumah. Perhatian Papi sama Mami sekarang banyak ke dia."
"Kamu harus tetap bisa jaga diri ya, Yang. Di rumah jangan memakai pakaian dengan kain seadanya. Pakailah baju dan celana yang lebih tertutup. Bukan apa-apa, kejahatan itu ada karena adanya kesempatan Yang. Meski dia sepupu kamu, kan tidak menutup kemungkinan syeitan bisa saja merasuki pikirannya."
Iya yang, tidak usah khawatir. Aku pasti bisa jaga diri."
Tak lama kemudian, pesanan kita berdua datang dan langsung menyantapnya dengan cepat.
Eskrimnya terasa segar sekali di tenggorokan. Aku baru saja menyendok sesendok eskrim lagi, Revo malah mengentikan tanganku. Dia menyuapiku dengan tangannya sembari tersenyum.
Setelah itu, dia menyentuh ujung bibirku.
"Hati-hati makan eskrimnya, jangan belepotan. Kamu ini makan kayak anak kecil deh, tuh kan nempel di ujung bibir kamu kayak gini."
Aku malu sekaligus merasakan Revo sangat perhatian padaku. Sehabis melap bibirku dengan tissue, dia hanya tersenyum memamerkan senyumnya yang bisa meluluhkan hati banyak cewek.
Selesai makan eskrim, kita berdua pun pulang ke rumah. Hari rasanya cepat berlalu, jam-jam bergerak mengganti pagi jadi siang, siang jadi sore. Gemuruh suara motor Revo memasuki halaman rumah. Aku turun dari motor dan membuka helm lalu kuberikan padanya.
"Tidak mau mampir dulu?"
"Nantilah, udah sore nih."
"Okeh, hati-hati ya pulangnya."
"Iya. Kamu hati-hati di rumah, Yang."
Kuantar kepergian Revo dengan seulas senyuman, aku melambaikan tangan ke arahnya sampai dia menghilang dari balik gerbang.
Hatiku menghangat, aku bahagia karena hari ini menghabiskan banyak waktu dengannya. Kurebahkan tubuhku di atas kasur, mengingat-ingat lagi momen romantis yang terjadi tadi. Bagaimana dia sangat perhatian untuk apapun yang berhubungan denganku.
Aku mencintaimu, itu sebabnya selalu kusimpan doa untuk segala kebaikanmu di masa kini dan nanti.