FIGHT FOR LOVE

FIGHT FOR LOVE
Episode 52



Tingkah Aneh Romi


Belakangan ini, Romi itu bertingkah aneh terus. Selalu mengawasi aku saat santai di ruang tamu dan sambil nonton, dia ikut nonton juga. Mengambil cemilan yang sedang kumakan, atau mengganti Chanel yang sedang kutonton.


"Apaan si Romi, itu kan aku duluan yang duduk di sini. Aku juga yang duluan nyalain TV dan nonton. Kenapa kamu ganggu orang terus kerjanya."


"Siapa yang ganggu, orang aku juga mau nonton."


Aku mendengus kesal, tidak bisa dibiarkan. Semakin hari dia semakin melunjak. Mama dan Papa mana keluar kota lagi, aku tidak bisa mengadu apapun.


Akhirnya karena tak mau berebut remote TV aku memutuskan ke kamar. Sambil menatapnya kesal dengan kesumat yang tak pernah bisa padam. Sejak dia ada di rumah ini, aku hampir tak punya waktu sendiri. Selalu saja diganggu oleh dia, dan bukan cuma sekali dua kali sehari.


Aku melemparkan tubuhku ke atas kasur, mengambil ponsel dan menelepon Mama.


"Ma, Mama sama Papa sampai kapan di luar kota?"


"Seminggu lagi kayaknya sayang, kamu baik-baik saja kan di rumah?"


"Baik si, cuma lagi kesal sama Romi. Dia menguasai apapun yang kusentuh di rumah ini. Seolah bukan dia yang numpang tapi aku."


"Sayang jangan bilang gitu ih, dia itu saudara kamu juga. Jadi harus berbagi apapun yang ada di rumah."


 


"Tapi ya gak harus kayak gitu juga, Ma. Aku nonton TV dia datang mengganti Chanel yang kutonton, memakan makanan yang sedang kumakan tanpa permisi. Kan bisa aja gitu mah, permisi atau apa kek yang lebih sopan. Itu kenapa si harus dititipin ke kita, Ma?"


"Sayang, sabar ya. Nanti juga kamu akan terbiasa dengan kehadiran dia di rumah kita. Jadi tolong bantu Mami untuk tetap membuat dia nyaman di rumah kita. Okey? Teleponnya Mami tutup ya."


Tuts!


Sambungan terputus padahal aku belum selesai bicara. Mama itu kenapa si? Hhh.


***


 


Revo datang ke rumah, kebetulan sekali karena aku juga lagi suntuk. Di kamar terus bikin aku bosan, bahkan game di hape pun sudah kumainkan semua. Aku malas keluar kamar, kecuali untuk ambil minum atau makan. Aku malas bertemu Romi, lebih tepatnya aku sengaja menghindarinya.


"Kok sepi?" tanya Revo yang baru masuk.


"Mami sama Papi keluar kota, seminggu lagi pulang."


"Oyah, Dena sama Danu lanjut kemana? Sudah lama tidak dengar kabar mereka lagi."


"Vo, ngobrol di taman belakang aja yuk."


"Baiklah."


"Iya Dena sama Danu kuliahnya di luar negeri, orang tua Dena pindah ke negeri kanguru. Danu sampai ikut ke Australia hanya untuk mengejar cinta Dena. So sweet gak si?"


"Aku juga ngejar kamu sampai kampus yang sama kok. Hehe."


"Kebetulan sekali kamu di sini, Yang. Aku tuh takut banget keluar kamar, habisnya Romi itu bertingkah ngelunjak dari hari ke hari. Rumah dikuasai isinya, merintah Bibi seenak udelnya, dia itu kalau tidak ada Mami sama Papi kerjaannya rusuh terus."


"Sudah bilang ke Mami sama Papi?"


"Udah, tapi mereka itu seakan gak percaya sama omongan aku. Tidak percaya kalau Romi itu seenaknya di rumah ini."


"Ngomongin gue ya?" Romi tiba-tiba muncul di ambang pintu yang terhubung ke taman belakang.


"Ngapain kamu di sini? Sana masuk ke dalam, kuasai tuh TV sendirian." Ketusku.


"Kulaporkan Om sama Tante loh, kalian itu berdua-duaan di sini tanpa sepengetahuan mereka." Ujarnya.


"Coba aja, aku gak takut." Tantangku.


"Kamu itu kayak anak kecil tahu gak si. Kamu tuh bentar lagi kuliah, tingkah masih bocah gini."


"Eh gue gak ngomong sama elu ya, jadi lu diam." Dia sok kalau ngomong.


"Apa lu? Berani sama gue lu?" Ucap Romi balas mendorong.


Akhirnya terjadilah mereka saling dorong satu sama lain dan aku terpaksa harus melerai keduanya sebelum terjadi pertumpahan darah.


"Apaan si? Kok kalian jadi berantem begini?"


"Pacar lu tuh, sok jagoan." Balas Romi.


"Kamu yang sok, ngomong kok gak disaring dulu. Gak belajar tata Krama kamu? Orangtuamu gak pernah ngasih tahu dan gak pernah ngajarin?"


"Apa lu bawa-bawa orang tua gue segala. Emang ada hubungannya sama lu? Awas lu ya, sekali lagi lu bawa-bawa nama orang tua gue, habis lu!" Ancamnya.


"Dasar bocah!" Ketus Revo.


"Siapa yang lu bilang bocah? Sini lu kalau berani."


"Capek aku ngeladeni bocah tengil kayak kamu. Yuk Zi, mending kita ke kedai Eksrim saja. Untuk mendinginkan suasana hati yang sudah panas."


Revo tak sadar telah menarik tanganku, Romi menatap geram dan seakan ingin menghajar Revo. Hanya saja, cukup mimpi di siang bolong jika kamu ingin menghajar Revo, Rom. Dia itu sudah mahir taekwondo, kamu bisa-bisa dihajar habis-habisan sama dia.


Baru saja sampai di kedai Eksrim, ponselku sudah berbunyi. Kulihat layar ponselku yang tertera nama Mami di sana.


"Halo, Mi."


"Kamu katanya kabur dari rumah ya? Ada apa?"


"Siapa yang bilang? Orang aku lagi di kedai Eskrim ujung gang perumahan kita kok."


"Kamu sama siapa?"


"Sama Revo, Mi. Ada apa?"


"Kamu jangan lama-lama di luar, pulang cepat!"


"Dih, Mami. Sejak kapan Mami jadi seperti ini? Apa Romi yang ngadu ke Mami terus Mami percaya gitu aja?"


"Tidak penting siapa yang bilang, secepatnya kamu pulang ke rumah."


"Iya, baik Mi." Jawabku dengan nada tak suka.


Aku berhenti menyendok eskrim ke dalam mulut.


"Ada apa?"


"Mami. Mami marah aku jajan eskrim padahal sudah kubilang lagi sama kamu. Romi malah lapornya aku kabur dari rumah. Enak dia dong kalau aku sampai kabur dari rumah sendiri. Heran."


"Sudah jangan ngedumel terus, habiskan Eksrimnya habis itu aku antar kamu pulang."


"Iyah."


"Yang ... kan udah kubilang makan itu pelan-pelan." Ucapnya sambil meraih tissue dan melap lagi bekas eskrim di bibirku.


"Maaf."


Untuk pertama kali dalam hidupku, aku sangat malas untuk pulang ke rumah. Selagi ada Romi di rumah hidupku pasti tak akan tenang seperti dulu lagi.


"Vo, aku masih mau denganmu."


"Yang, nurut kata Mami kamu. Nanti dia marah besar, kita pulang sekarang. Kita masih bisa ngobrol video call setelah aku sampai rumah. Gimana?"


"Baiklah."


Dengan malas aku berjalan keluar dari kedai itu, menunggu Revo yang sedang ambil motornya.


Perlahan mesin motor berbunyi dan aku segera naik. Motor melaju pelan, sengaja kuminta ke Revo untuk mengulur waktu.


Saat saat seperti ini, aku kok malah rindu Revo yang menggemaskan karena terlewat Posesif. Hehe