FIGHT FOR LOVE

FIGHT FOR LOVE
Part. 39



Malam harinya di rumah.


Dibuat kaget saat lampu tiba-tiba padam, aku orang yang takut akan gelap. Kalau gelap imajinasiku seakan bekerja dan membayangkan hal-hal menyeramkan. Itu sangatlah merepotkan.


"Maa...," teriakku dari kamar.


Tidak ada sahutan dari Mama. "Pa..., Papa..., lampunya kok padam?" Aku mencoba memanggil Papa, siapa tahu saja Papa dengar.


Lagi-lagi tidak ada jawaban dan itu membuatku sangat kecewa. Aku semakin takut, aku hanya bisa meringkuk di atas tempat tidur seraya memeluk lutut ketakutan. Selimut kutarik hingga dada, kututup mataku agar tidak melihat hal-hal aneh.


Kemana si mereka? Masa iya tidak ada seorang pun yang dengar aku teriak. Ini bakal lama gak ya padamnya? Duh, kok tengkukku berasa dingin dan merinding ya?


"Bibi..., tolong nyalakan lampunya, Bi."


Aku sudah setengah pasrah dalam keadaan gelap. Ingin berlari keluar, namun takut duluan. Kamar gelap gulita, tak ada penerangan cahaya sedikitpun.


Aha, handphone! Ya Handphone bisa menolong di saat saat seperti ini. Aku meraba-raba kasur untuk mencari di mana kuletakkan handphone tersebut.


"Ah, ini dia." Pekikku bahagia.


Aku mencoba menghidupkan ponselnya.


"Lah, lah, kok gak nyala? Duh..., gimana ini? Jangan-jangan lowbat lagi, lengkap sudah penderitaanku." Aku berbicara sendiri di tengah kegelapan.


Bodohnya aku, tadi lupa isi baterai. Kenapa harus kayak gini si? Kayaknya kompak banget bikin aku menderita. Lampu padam, manggil orang gak ada yang nyahut, ponsel mati. Arhhhh, sebel!


"Mama..., Papa...?" Aku mendengar langkah kaki. Kupikir itu Mama atau Papa.


Namun lama kelamaan, langkah kaki itu menghilang. "Kok bisa hilang? Tadi kan jelas banget, itu suara langkah kaki? Duh, semakin merinding ini. Tolong dong...!"


Aku berusaha memberanikan diri untuk membuka pintu, tapi baru saja ingin turun dari tempat tidur, langkah kaki itu kian dekat. Nyaliku ciut lagi. Aku membungkus seluruh tubuhku dengan selimut. Sudah ketakutan.


Anggaplah ini lebbay, tapi tolong, aku serius benar-benar takut gelap. Jantungku berdebar lebih cepat, denyutnya sudah tak beraturan. Aku keringat dingin dan hanya bisa berdoa dalam hati, agar tidak ada apapun di luar sana.


Ceklek!


Pintu kamar dibuka, aku mulai bertambah parno.


"Apa..., itu... Mama?" Jawabku tebata-bata.


Perlahan aku melihat cahaya seperti dari sebuah lilin. Dan..., tadaaaa...!!!


Happy birthday to you...


Happy birthday to you...


Happy birthday..., happy birthday...,


Happy birthday..., to... you...


Sial aku dikerjai...


Aku mengenal satu persatu suara itu. Suara Mama, Papa, Dena, Danu, Revo, dan ah, dua orang lagi seperti..., kok kayak suara Mama dan Papa Revo ya? Astaga, mereka sudah bersekongkol rupanya.


Pelan-pelan aku menurunka selimut yang sejak tadi menutupi tubuhku. Lampu menyala lagi dan saat itu kulihat wajah-wajah mereka yang rupanya sangat puas melihatku ketakutan dan rambut acak-acakan.


*Hiks...


Hiks...


Hiks*...


Aku menangis di depan mereka, entah karena bahagia dapat kejutan atau sebenarnya aku sudah sangat takut dan aku menyalurkannya lewat air mataku.


Mereka semua mendekat ke tempat tidur, duduk di kasurku. Mungkin juga mereka memperhatikan wajah sembabku yang baru saja menangis.


"Kalian jahat..."


Hanya kalimat itu yang keluar dari bibirku, kemudian menunduk dan menangis lagi.


"Eh, Zi tidak boleh begitu. Mereka hanya mau memberi kejutan." Mama mendekat dan memberiku pelukannya.


"Tapi kan Mama tahu, aku tidak suka gelap. Aku takut gelap."


"Iyah sayang, maafin Mama. Mama yang salah. Sudah ayo lihat tuh, mereka senang ingin merayakan ulang tahun kamu."


"Terimakasih kalian sudah datang...!" Ucapku kemudian.


Dena maju dan hendak memelukku dan memberi selamat.


"Eit..., Dena mau ngapain?" Tahan Revo.


"Kenapa si Vo, berisik tahu. Aku cuma mau ngasih selamat ke Zi. Apa itu juga tidak boleh?"


"Ya sudah boleh, tapi jangan peluk!"


Apa si, Yang. Ganggu deh!


Mama dan Papa juga orang tua Revo hanya bisa geleng-geleng kepala.


Dena memelukku, sontak membuat Revo seketika berteriak.


"Ah, Dena! Kan sudah kubilang jangan peluk!"


Bukannya melepas pelukan, Dena semakin mengeratkan pelukannya dan berbisik. "Biarin saja, aku mau lihat wajah jelek Revo. Haha..."


"Maaf, terlanjur."


Akhirnya Dena melepas pelukannya. Wajah Revo sudah cemberut, alisnya keriting. Haha.


Setelah semua sudah memberi ucapan selamat, kita semua turun ke lantai bawah untuk makan malam.


Obrolan berlangsung di meja makan hingga selesai masih saja berlanjut. Ada dua kelompok. Mama dan Papa bersama orang tua Revo, sementara aku, Revo, Dena dan Danu juga berempat.


Membicarakan banyak hal dan suasana malam itu benar-benar syahdu. Rasanya aku bahagia banget. Sampai kemudian aku teringat sesuatu. Kejadian tadi pagi di cafe.


Aku berencana memberitahu mereka sekarang, mumpung semuanya berkumpul.


"Ma, Pa, Om, Tante, Zi mau bicara sebentar. Revo, sini!"


Akhirnya kita berkumpul di ruang keluarga. Mereka tampak penasaran karena aku memanggil Revo untuk duduk di sampingku.


"Kamu yang jelasin, Yang!" Ujarku setengah berbisik ke Revo.


"Kamu saja, Yang." Balasnya juga dengan berbisik.


"Revo, Zi, ada apa?" Suara Om Ramos terdengar lantang.


"Pa..., ah Papa buat kaget saja." Revo menimpali.


"Apanya yang bikin kaget? Papa biasa saja tadi ngomongnya. Ada apa dengan kalian?"


"Mmm, itu..., anu..., Pa."


"Anu, anu..., bicara yang jelas Revo."


"Vo...!" Panggil Mamanya.


Ah suasana kok jadi tegang begini si. Revo tadi bilangnya gampang, apaan sekarang nyalinya malah ciut. Dasar!


"Revo, sayang ayo cerita." Suara Mama terdengar lembut.


"Aku mencium pipi, Zi!" Jawabnya cepat.


Semua orang kaget dan saling pandang. Tak terkecuali Dena dan Danu.


Huh, awas saja kalau kita sampai dapat hukuman. Aku tidak mau bicara sama kamu dulu, Vo.


"Sudah lupa perjanjiannya Revo?" Suara Om Ramos ini bikin nyali ciut. Sekali bersuara, kedengarannya seperti menindas.


"Ingat, Pa. Tapi Revo benar-benar tidak sengaja. Tadi itu refleks Pa, soalnya Zi menggemaskan."


"Ha! Apa? Menggemaskan. Kamu ini masih kecil sudah berani cium anak orang. Mau jadi apa kamu?"


Suasana tiba-tiba menjadi horor, lebih horor saat tadi aku ketakutan karena gelap.


"Zi, apa itu benar sayang?" Tanya Papa memastikan.


Aku mengangguk lemah. Sudahlah, pasrah saja.


"Revo, Zi, kalian sudah melanggar peraturan paling fatal yang sudah kita sepakati. Kalian tahu konsekuensinya apa?"


Aku lagi-lagi hanya bisa mengangguk pelan. Tidak berani mengangkat kepala demi melihat wajah para orang tua yang sedang marah.


Revo malah terkejut dan seolah menantang.


"Jangan dong, Pa, Ma. Om, Tante, jangan ya?"


"Sesuai pelanggaran yang kalian lakukan, maka itulah hukumannya."


"Tapi aku tidak mau putus, Pa."


"Makanya jadi laki-laki harus tanggung jawab, harus bisa bedakan mana yang boleh dan mana yang tidak boleh dilakukan. Kalian itu baru pacaran kurang lebih 2 tahun. Papa kecewa sama kamu, Revo."


Tamatlah riwayatku dan Revo. Jika sudah seperti ini, maka tidak ada lagi yang bisa dilakukan kecuali pasrah menerima hukuman.


"Kalian putus. Sesuai perjanjian kalian di dalam kertas yang sudah kita sepakati bersama. Maafkan Papa, Zi. Semua orang tua ingin anaknya menjadi yang terbaik dan lebih baik lagi. Jika hal seperti ini saja, kamu sudah melanggar, Papa tidak menjamin ke depannya kamu mematuhi aturan atau melanggar lagi."


"Pa..., Om..., Ma, Tante..." Revo sudah bertampang memelas. Aku sudah tak tahu harus bilang apa. Ini momen ulang tahun yang takkan pernah terlupakan barangkali.


Putus dari pacar saat perayaan ulang tahunmu? Itu jelas-jelas menyakitkan. Huh, aku hanya bisa terdiam. Mau bicara, aku takut salah mengeluarkan kata-kata.


"Kalian berdua tidak boleh berangkat bersama lagi. Jika kalian memiliki hasil ujian yang bagus, mungkin kami para orang tua bisa mempertimbangkan lagi hubungan kalian."


Lagi-lagi suara Om Ramos seperti mengintimidasi dan mengancam. Kedengarannya sangat menakutkan. Kita berdua hanya bisa mengangguk lesu. Acara ulang tahun berakhir sedih begini.


***