FIGHT FOR LOVE

FIGHT FOR LOVE
Part. 41



Baru juga putus sehari rasanya sudah sepi begini. Revo menjiwai banget lagi, dia gak keluar kelas. Aku ngintip dia sibuk banget belajarnya. Dalam hati kecilku, sebenarnya aku senang lihat dia giat belajar. Artinya dia benar serius untuk memperjuangkan hubungan ini. Kalau begitu, aku juga harus serius. Nilai bagus sama dengan balikan.


__________


**Drrtt...


Drrtt...


Drrtt**...


Aku sedang sibuk belajar saat Hp-ku tiba-tiba bergetar. Besok adalah ujian hari kedua pelajaran Bahasa Inggris. Sejenak kututup buku kiat menaklukkan ujian nasional.


Mengecek hape yang tadi bergetar.


--


Yank, rindu...


--


Isi dari pesan singkat yang baru saja masuk. Balas tidak? Ah, bingung. Kalau balas, nanti dikira aku gak serius menjalani masa hukuman. Dibalas, nanti malah ketahuan sama orang tua kalau aku dan Revo masih suka balas-balasan pesan. Huh.


Ribet amat yak!


Akhirnya kupilih untu menonaktifkan hape. Lalu lanjut lagi belajar. Semoga kali ini perjuanganku dan Revo tidak sia-sia.


***


Keesokan harinya di sekolah.


Aku melihat pemandangan yang membuat sakit mata. Revo ngobrol dengan Yuna. Aku melewati mereka begitu saja di parkiran. Mataku menatap kesal ke arah Revo. Yuna si senang, dia malah tersenyum sinis tapi penuh kemenangan.


Langkahku semakin cepat ke kelas dan---


BRUGGGH...


Aku bertabrakan dengan seorang murid yang tampak asing. Berkacamata tebal dan dia kelihatannya sangat grogi. Buku tebal yang dia bawa terjatuh ke lantai. Sejujurnya aku merasa bersalah juga si.


"Ma..., Maaf...!" Ucapnya seraya menundukkan kepala dua kali.


"Heh, tak perlu seperti itu. Aku yang salah. Aku yang buru-buru tadi dan tidak lihat jalan. Maaf ya, ini buku kamu." Jawabku seraya menyodorkan buku yang sudah kuambil tadi.


"Te..., teri..., ma ka..., kasih...!" Jawabnya terbata dan itu parah menurutku. Apa dia sangat grogi?


Sesaat kemudian, Revo lewat dan dia sempat melirik ke arahku. Namun kemudian dia langsung pergi lagi. Kurasa dia sudah salah paham. Dia pasti salah mengerti lagi. Terus apa bedanya dia ngobrol sama Yuna tadi?


Hiss, ngapain cemburu coba?


"Zi, ada apa?" Dena baru saja datang dan melihatku di depan kelas sedang memasang wajah masam.


"Tidak ada apa-apa, tadi hanya aku menabrak cowok ini. Bukunya jatuh."


"Maaf, ak..., aku..., pergi dulu." Jawab cowok itu cepat dan pergi begitu saja.


"Siapa dia?" Dena tanya.


"Gak tahu. Gak sempat tanya nama dia tadi."


"Ya sudah, masuk yuk!"


***


Ujian hari ini berlangsung lancar. Tak ada kesulitan yang berarti. Namun aku masih kesal pada Revo. Habis ujian tadi dia malah langsung pulang. Menyapa aku pun tidak. Putus kan bukan berarti gak sapaan lagi?


"Kenapa dia?" Tanya Dena saat hendak pulang.


"Gak tahu."


"Dia sebal sama kamu katanya, Zi." Jawab Danu.


"Sebal kenapa? Bukannya tadi pagi dia yang bikin mataku sakit?"


"Kok bisa?" Dena sampai penasaran saat kubilang bikin mataku sakit. Haha.


"Dia tadi pagi di parkiran ngobrol sama Yuna. Siapa yang gak sakit mata lihatnya."


"Oh, jadi ceritanya kamu cemburu nih? Hahaha...," ledek Danu.


"Iyalah. Masa aku harus senang melihat pacar sendiri ngobrol sedekat itu sama orang lain? Apalagi itu Yuna. Hiss."


"Apa? Gak salah denger, Zi?" Goda Danu lagi.


"Iya, maaf. Mantan pacar. Tapi kan, kumasih sayang dia..., huhu...!"


"Haha..., wajah kamu jelek tahu kayak gitu."


"Sayang, sudah! Jangan bikin Zi bete terus."


"Iya Maaf sayang. Zi, mau tahu tidak kenapa Revo sebel sama kamu? Semalam dia cerita ke aku."


"Apa? Cowok-cowok ngerumpi? Astaga, Yang!" Dena agaknya terkejut haha.


Aku apalagi, Revo kan bukan tipe cowok yang suka ember tentang apa yang dirasakannya. Kenapa sekarang jadi tiba-tiba curhat sama Danu.


"Ngomong apa dia Dan?"


"Dia sebal, katanya kamu nyuekin dia. Pesan dia tidak kamu balas."


"Astaga..., jadi karena itu. Iya, semalam emang dia ngirim pesan. Tapi aku diamkan saja soalnya lagi belajar. Mana tahu kalau dia bakal marah karena itu."


"Coba cek hape kamu deh, Zi. Jangan-jangan dia kirim spam banyak banget lagi. Haha." Dena seperti mengingat kejadian waktu itu, karena chat dia lama tak dibalas, akhirnya dia malah spam.


"Ah iya, sebentar aku hidupkan ponsel dulu."


"Kenapa, Zi?"


"Sepertinya tebakan kamu benar, De."


"Haha, apa kataku. Dia itu kayak gitu kalau dicuekin. Coba buka Zi, kalau hapenya sudah berhenti bergetar."


Aku pun menunggu beberapa saat sampai hape tersebut berhenti bergetar. Aku mulai membuka satu persatu pesan itu dan membacanya dengan suara agak keras biar didengar Dena dan Danu.


[ **Yang..., aku rindu.]


[ Yang..., aku rindu.]


[ Yang..., aku rindu.]


[ Yang..., aku rindu**.]


[ Yang..., aku rindu.]


"Pesannya gitu terus, Zi?"


"Iyah, ada kali dua puluh kali terkirim dengan pesan yang sama. Bentar bentar, aku buka yang lainnya."


[ **Kenapa diam? ]


[ Kamu tidak rindu aku? ]


[ Ayo, jawab dong sayang. ]


[ Aku tidak bisa belajar jika kamu cuekin ]


[ Yang, Sayang... ]


[ Kamu tidur ya? ]


[ Yang, maafkan aku jika nanti nilaiku jelek. ]


[ Yang, kamu baca pesan ini, aku mungkin tak akan belajar lagi** ]


"Astaga, pakai ngancam lagi. Issh, kan dia gitu ih."


"Haha, Zi. Makanya kamu si, harusnya kamu balas dulu baru hape kamu matiin." Jawab Danu.


Aku pun langsung menghubungi nomor Revo.


Sedang memanggil...


.


.


.


.


Tidak dijawab.


"Anak ini kemana coba?" Geregetan aku dibuatnya.


Kutelpon lagi dan...


"Halo...!"


"Kamu marah ya?" Ucapku.


"Ini siapa ya?"


"Lah! Ini kamu kan, Yang?"


"Yang? Yang siapa? Kamu salah orang."


**Klik.


Telpon terputus**.


Apa-apaan sih. Kok dimatiin.


"Kenapa, Zi?"


"Telponnya dimatiin. Terus aku panggil Yang, dia malah gak ngeh. Apa dia masih marah dan berniat ngerjain aku ya?"


"Serius? Coba telpon lagi, Zi."


"Tidak usah. Itu hapenya sudah tidak sama Revo lagi." Jawab Danu dibalik kemudi.


"Ha? Kok bisa?" Aku kaget mendengar ucapan Danu. Terus kalau bukan dia siapa dong yang jawab tadi? Tapi suaranya emang aneh si, bukan suara Revo. Mirip suara anak Ibu kantin yang masih SMP suka bantu jualan di kantin.


"Hapenya dikasih anak Ibu kantin tadi pagi. Haha..., pacar kamu itu gila, Zi."


"Kenapa dikasih, Yang?" Tanya Dena.


"Katanya percuma punya hape, kalau dia kirim pesan tidak dibalas. Alasannya gak masuk akal kan? Sama. Aku juga gak percaya ngasih ponselnya dengan ridho begitu. Haha. Makanya kubilang pacar Zi itu aneh bin ajaib. Haha."


"Ya ampun, anak itu makan apa coba? Sampai segitunya." Aku lemas sendiri mendengar kenyataan yang baru saja dikatakan Danu.


Hmm, apa yang harus kulakukan sekarang? Haruskah aku ke rumah dia? Tapi kan kita lagi masa hukuman. Gak enak sama Mama dan Papa Revo. Bete jadinya ah. Salahku sendiri, kenapa semalam aku tidak balas saja pesan dia. Hah!!!


Pacarku gini amat si, Posesif dan aneh. Besok-besok mungkin bukan hanya hape yang dikasih cuma-cuma sama dia. Tapi motor dia juga jadi korban. Ckckck.


***