
"Ini adalah hari dimana semuanya berawal.
Semua akan penuh kejutan, aku yakin kau
akan menyukainya"
Aaron Gavrilo*
Pesta pernikahan dipersiapkan dengan sangat sempurna. Dekorasi dibuat sangat indah, undangan telah disebar. Ratusan tamu undangan mulai dari keluarga dekat, rekan bisnis, teman dekat, diundang.
Pesta diselenggarakan di rumah Aaron. Bagi Calista ini adalah pertama kali dirinya mengunjungi rumah Aaron. Bukan rumah, hunian itu lebih tepat disebut mansion. Sangat indah, dan luas.
Calista sudah dirias sedemikian rupa dari 2 jam yang lalu. Dari mulai pakaian, make up, hingga tatanan rambut. Dirinya tampil sangat cantik dan menawan dalam balutan pengantin.
Jane berada di ruangan yang sama dengan Calista. Sejak tadi dirinya menemani putri kesayangannya berias. Bahkan sesekali air matanya menetes melihat Calista. Putrinya akan segera menikah. Ia mengingat almarhum suaminya dan hari pernikahannya. Hari itu adalah hari yang paling membahagiakan bagi Jane.
"Done" si perias nampak sangat puas melihat maha karyanya.
"Perfect, you're so beautiful Mrs. Gavrilo. Aku yakin Mr. Gavrilo tidak akan tahan untuk tidak menerkammu ketika melihatmu di altar" si perias nampak tertawa dengan ucapan sendiri.
Calista tersenyum, pipinya bersemu merah. Ia berdiri dan melihat pantulan dirinya di cermin.
"Dia benar, putriku tampil luar biasa hari ini"
"Aku yakin Aunty jauh lebih cantik pada saat menikah dengan Uncle dulu." Balas Calista sambil memandang lekat Jane.
Jane memeluk Calista. "Jika Aaron menyakitimu, beritau aku"
"Aaron akan selalu menjagaku, dia tidak akan pernah menyakitiku" balas Calista.
"Are you ready Caly?" Pelukan mereka terlepas. James masuk tanpa mengetuk pintu. Alhasil Ia mematung dan terperangah melihat Calista.
Jane dan Calista tertawa melihat ekspresi James, bahkan si perias ikut terkikik. Jane pun mendekati James dan menjewer telinganya.
"Aawwhhh, stop it Mom"
"Kau harus mencari wanita seperti Calista. Aku tidak akan menerima jika sifatnya tidak seperti putriku" James meringis dan bernafas lega ketika Jane melepas jewerannya pada telinga James.
James mendekati Calista. Mengulurkan tangannya pada mempelai wanita di depannya. "Are you ready, Princess?"
Calista tersenyum dan menyambut uluran tangan James. Seharusnya ayah Calistalah yang berada pada posisi James sekarang, mengantarnya menuju ke altar. Tepatnya ke tangan calon suaminya. Tetapi Calista yakin, kedua orang tuanya pasti melihatnya dari surga.
James menuntun Calista menuju altar. Hatinya memang hancur, namun perlahan James mengubur perasaannya pada Calista. Ia tidak ingin Calista membenci dirinya.
Aaron ada di anak tangga terakhir, memandangnya dengan tatapan yang sulit di artikan. Jantung Calista berpacu lebih cepat. Calista menelan salivanya susah payah.
Tangan Calista kini sudah beralih tempat. Aaron seketika tersadar ketika tangan lembut itu menyentuh kulitnya. Aaron tersenyum dan membawa Calista menuju altar.
Semua pasang mata memandang iri pasangan itu. Mereka nampak sangat serasi. Cantik dan tampan.
Di altar, senyum tidak pernah luntur dari wajah Calista begitupun Aaron. Mereka nampak sangat bahagia. Sebelum janji suci diucapkan, tatapan Aaron dan Calista terkunci.
"Kau siap?"
"Aku selalu siap" jawab Calista
"Ini adalah hari dimana semuanya berawal. Semua akan penuh kejutan, aku yakin kau akan menyukainya" ungkao Aaron dalam hati.
Janji suci telah diucapkan. Mereka juga telah saling memasangkan cincin. Entah mengapa wajah Aaron berubah dingin. Ketika mereka berhadapan Calista juga merasa ada yang berbeda pada senyum Aaron.
Perasaan aneh mulai muncul di hati Calista. Aaron mendekat, Calista tau ini saatnya. Aaron mencium Calista. Namun ciuman itu berbeda, hambar bahkan Aaron sangat kasar.
"awwwhh"
Rasa anyir terasa di mulut Calista. Bibirnya terluka akibat ciuman kasar Aaron. memandang Aaron lekat, tetapi yang ditatap hanya berekspresi datar dan segera mengalihkan pandangan.
Tamu undangan bertepuk tangan. Banyak yang menangis, bahkan ada pula yang berteriak. Mungkin itu adalah salah satu teman bar-bar Aaron atau Calista.
Calista mencoba menormalkan ekspresi wajahnya. Ia mencoba menebar senyum kepada tamu undangan.
Acara dilanjutkan dengan sesi foto. Keluarga, sahabat, berlomba-lomba untuk berfoto dengan pengantin baru. Hingga tak terasa Hari menjelang sore dan tamu undangan mulai kembali ke rumahnya masing-masing.
Malam harinya adalah resepsi. Calista berganti gaun dibantu Jane, sedangkan Aaron berganti pakaian di tempat yang berbeda.
Calista nampak melamun, kejadian tadi terus berputar di kepalanya. Kenapa Aaron tiba-tiba berubah? Calista sungguh tidak mengerti, Ia harus berbicara pada suaminya nanti.
Calista tampil sangat cantik dan terkesan seksi. Gaun itu berwarna merah muda, bagian belakang terbuka serta gaun yang melekat sempurna di tubuhnya yang automatis memperlihatkan lekukan tubuh Calista.
Aaron juga tidak kalah mempesona. Senyuman mematikan itu masih sama seperti yang di altar. Calista sedikit ragu menerima uluran tangan Aaron untuk berdansa, namun Calista meneguhkan hatinya. Mereka akhirnya memulai dansa. Terlihat indah jika hanya ditonton, namun Calista yang merasakan tidak ada sama sekali rasa pada gerakan Aaron. Senyumnya juga aneh.
"Apa yang terjadi" tanya Calista di sela-sela dansa mereka.
Aaron hanya menatap Calista dingin. "Ini baru akan dimulai"
**To be continue......
Jane**
Masih cantik walaupun lupa semir rambut putihnya :)