Disaster Love

Disaster Love
MASALAH II 04



Calista sedang berjalan menuju perpustakaan universitasnya, tatapannya menuju ke smartphone yg tersambung dengan headset bluetooth. Tampak di layar smartphone wajah laki-laki tampan yg sedang berkutat dengan laptopnya. Calista sedang video call dengan Aaron. Di sela kesibukan mereka sering berhubungan lewat chat atau video call, untuk sekedar melepas rindu.


Calista terlalu fokus pada Aaron hingga tidak sengaja bertabrakan dengan seorang laki-laki. Buku dan smartphonenya terjatuh. Calista meminta maaf sambil memungut barangnya. Laki-laki itu juga melakukan hal yang sama.


Hingga Calista berdiri dan menatap laki-laki itu. Perawakannya tinggi, mata biru, rambut diwarnai putih, dan tatapannya dingin. Calista merasa aneh, tidak biasanya orang asing menatapnya seperti itu. Calista meminta maaf sekali lagi dan segera pergi.


"Cal? Babe? are you okay?" panggilan video itu masih tersambung dengan Aaron.


"Yeah, I'm okay. But he scares me" jawab Calista sambil menoleh ke belakang.


"Who is he?" tanya Aaron.


Calista bergidik melihat laki-laki tadi masih memandangnya, dengan tatapan aneh, sangat dingin dan menakutkan. Calista hingga tidak mendengar pertanyaan Aaron.


"Calista Maylafaisha, listen to me" Calista sedikit tersentak mendengar kata Aaron.


"I don't know, forget about him" jawab Calista sambil melangkah.


Calista hampir sampai di perpustakaan, dan mereka memutuskan untuk mengakhiri panggilan itu karena Aaron terus saja bertanya tentang laki-laki misterius itu.


Calista memasuki ruangan yang sangat luas, besar, dan sunyi. Ribuan bahkan jutaan buku mungkin ada disana, mahasiswa hingga dosen berlalu lalang. Mata Calista berbinar menatap buku-buku di depannya. Ia menyusuri satu per satu lorong sambil tersenyum. Calista sangat menyukai buku dan musik. Terutama buku horror.


Calista sampai pada salah satu lorong khusus buku novel. Ia menemukan novel romance tentang psychopath. Calista membacanya sekilas, disana diceritakan pemeran lelaki adalah psychopath. Namun kelainan itu disembunyakan oleh rupa yg tampan dan dingin. Calista teringat laki-laki yang bertabrakan dengannya tadi. Wajahnya tampan dan dingin, tatapannya juga menyeramkan. Calista menggelengkan kepala.


Di cerita itu juga menceritakan bahwa seorang psychopath juga kadang dapat menyamar sebagai laki-laki yang baik pada awalnya. Calista mulai membandingkan Aaron dengan laki-laki misterius tadi. Apa mungkin Aaron seorang psycho?


Calista tertawa dengan pikirannya sendiri. Tidak mungkin Aaron adalah seorang psycho. Kekasihnya selalu menjaga dan tidak pernah menyakitinya sedikitpun. Selama 7 bulan berpacaran tidak pernah sekalipun Aaron menyakitinya, bahkan Aaron yg selalu melindunginya.


Calista kembali membuka halaman demi halaman, begitu menghayati cerita sambil berdiri. Ketika akan berbalik mencari tempat duduk, Calista terkejut bukan main. Jantung nya berdebar kencang, Ia mundur sampai menabrak rak buku di belakangnya. Lorong itu sempit, hanya cukup untuk 2 orang. Calista memelototkan matanya, laki-laki misterius yg menabraknya tadi telah berada di depannya sekarang.


Dengan tatapan sama, dingin dan menakutkan. Laki-laki itu mendekat sambil tersenyum. Calista berani bersumpah senyum itu tampak sangat menakutkan. Calista hampir berteriak, tetapi sial mulutnya lebih dulu dibungkam dengan tangan oleh laki-laki itu.


Lebih sialnya, lorong itu berada di pojok perpustakaan dan jarang orang berlalu lalang disana karena tempatnya cukup jauh disudut.


Calista meronta mencoba melepaskan bibirnya yang dibungkam. Ia juga mencoba menginjak kaki laki-laki itu, namun semua usahanya sia-sia. Tenaga Calista kalah jauh.


Laki-laki itu membawa Calista lebih ke sudut. Calista menangis, apa yang akan laki-laki ini lakukan? apakah akan ada yg menyelamatkan dirinya? dalam hati Calista memanggil nam Aaron, Ia berharap Tuhan menjawab doanya.


Laki-laki itu mengeluarkan sebuah pisau dari saku celananya. Kecil namun terlihat tajam. Calista semakin ketakutan, air matanya mengalir deras.


"Jauhi dia atau kau akan berakhir tragis" bisik laki-laki itu sambil menggoreskan pisau itu di pipi Calista. Namun tidak sampai terluka.


Calista menggeleng, Ia tidak mengerti maksud laki-laki itu. Siapa yang harus dia jauhi?


"Kau dengar? Jauhi pria itu, dia setajam pisau ini. Tekan sedikit saja akan membuatmu terluka" laki-laki itu berkata sambil memainkan pisau di sekitar wajah dan leher Calista.


Laki-laki itu tersenyum. "aku akan mengawasimu"


Calista memejamkan mata, Ia terus memanggil nama Aaron dalam hati. Sampai ketika pisau itu berada di lehernya, nafas Calista tercekat. Ia sangat takut.


Ternyata umur Calista masih panjang, belum sampai pisau menggores lehernya, seseorang menarik laki-laki misterius itu hingga terkungkal ke belakang. itu Aaron.


Aaron menghajarnya hingga babak belur, wajah laki-laki misterius itu lebam dan darah keluar dari mulut juga hidungnya. Sangat mengenaskan, Aaron menduduki laki-laki itu yang terkapar di lantai.


Aaron melayangkan pukulan terakhir dan bergegas memeluk Calista yang menangis. Calista sangat ketakutan. Seluruh tubuhnya bergetar dan darah mengalir dari pipinya. Aaron menenangkan Calista, sesekali mengecup puncak kepala gadisnya. Beberapa saat kemudian orang-orang mulai berdatangan mendengar keributan itu.


Aaron mengangkat Calista, membawa Calista menjauh dari tempat itu. Pandangan orang-orang tertuju pada Aaron dan Calista. Calista yang menangis dan terluka di pipinya.


"Berhenti menangis, aku disini" bisik Aaron sambil mengecup puncak kepala gadisnya.


Aaron tersenyum. Lalu mengetatkan rahangnya, laki-laki lakna* itu akan menjadi ancaman terbesarnya.


🌼🌼🌼


Calista telah berada di apartment Airyn. Adik dari kekasihnya hari ini sedang libur jadi selagi Aaron pergi ke kantor menyelesaikan rapat mendesak, Airyn menjaga dan menenangkan Calista.


Calista bersyukur Aaron mempunyai adik yang sangat baik serta rendah hati. Dan tentunya dapat menerima Calista dengan baik.


Aaron kembali dengan membawa makanan, mereka makan bersama dalam diam. Pandangan Calista kosong, Ia sudah lebih tenang. Kejadian tadi begitu mengguncang batinnya. Untung saja luka di pipinya tidak begitu dalam. Hanya tergores kecil.


Aaron dengan telaten menyuapi Calista. Airyn hanya bisa tersenyum memandang pasangan di depannya. Mereka terlihat sangat serasi. Airyn lebih dulu menyelesaikan makannya. Ia pamit ke kamar. Aaron mengangkat wajah Calista supaya menatapnya. Pandangan mereka terkunci beberapa saat. Terlihat sedikit ketakutan pada mata cokelat Calista.


Aaron mendekat dan mencium lembut gadisnya. Menyalurkan rasa aman dan kasih sayang. Aaron mulai melumat bibir tipis itu, Calista merespon dan mulai membuka mulutnya. Ciuman mereka makin intens, Aaron meraih tengkuk Calista untuk memperdalam ciuman mereka.


Mereka sama-sama terengah ketika ciuman berakhir. Dahi mereka bersatu, dan Aaron memeluk Calista kemudian.


"I Love You Aaron" ungkap Calista.


Ia sangat mencintai laki-laki ini. Calista tidak tau apa yg terjadi pada dirinya jika nanti Aaron tidak ada. Calista makin mengeratkan pelukan mereka. Ia tidak mau kehilangan Aaron. Tidak akan


Aaron tersenyum "Love you too, Calista Maylafaisha"


"Kau milikku, dan hanya aku yang berhak atas dirimu" lanjut Aaron sembari tersenyum dibalik punggung Calista.


To be continue......



**Mata biru, rambut putih, dan dingin. Kira-kira dia siapa yaa? Dan apa maksud dari kata-katanya?


Ada kangen Aaron? ini nih**!