Disaster Love

Disaster Love
KAMU BAIK-BAIK SAJA? 40



Calista berjalan perlahan dibantu oleh James. Perutnya yang semakin membesar membuatnya harus ekstra hati-hati. Calista duduk di sofa, ia meluruskan kaki dan bersandar mencari posisi senyaman mungkin.


James duduk di samping Calista. Tersenyum lembut pada wanita itu serta mengelus keningnya yang sedikit berkeringat.


"Thank you, Kak" ujar Calista tulus.


Senyum manis James membalas ucapan Calista. Wanita itupun kembali mencari posisi yang paling nyaman untuk beristirahat. Sejenak memejamkan mata dan mencoba menghilangkan sementara ingatannya tentang kejadian yang telah berlalu. Sekelebat demi sekelebat bayangan muncul dibenaknya ketika Calista memejamkan mata.


Guratan di kening Calista membuat James terenyuh. James tau bahwa saat ini Calista sedang berpikir keras. Setelah 2 hari di rumah sakit dan melewati masa-masa yang begitu sulit, Calista diizinkan pulang. Calista juga sudah mengetahui tentang penyakit yang dideritanya. Saat itu juga perasaannya hancur berkeping-keping. Langit terasa runtuh dan menimpa seluruh tubuhnya.


Calista membuka mata, ia mengelus lembut perutnya seraya tersenyum lembut pada calon buah hatinya.


"Apapun yang terjadi, kamu harus lahir ke dunia ini. Mom akan mempertaruhkan semuanya, termasuk nyawa Mommy." ucapan lirih nan lembut Calista.


Kata-kata Calista sukses membuat James terenyuh, entah mengapa rasa takut itu kembali menggerogoti dirinya. Rasa takut akan kehilangan seseorang yang begitu disayanginya. James sangat takut.


"Kau harus banyak beristirahat, Caly." Kepala Calista terangkat menatap senyum pilu James. Calista tau kakaknya ini begitu menyayangi dirinya.


Setelahnya James mengantar Calista beristirahat di kamar. Setelah merasa Calista lelap dalam tidurnya James melenggang pergi. Di rumah itu tidak terlihat Aaron ataupun Areon, hanya beberapa pelayan dan petugas keamanan saja yang ada. James pergi, dengan tatapan mematikan dan tangan mengepal. Tidak ada yang tau apa yang akan pria itu lakukan.


*****


Sarah, pelayan di mansion Aaron tengah berdiri di dekat tempat tidur Calista. Wanita paruh baya itu meletakkan nampan berisi makanan di atas nakas. Ia menatap lembut majikannya yang sedang terlelap hingga melewatkan waktu makannya. Dua hari ini mansion sangat sepi, semua majikannya tidak ada dan pergi entah kemana. Hari ini Calista datang dibantu James dengan wajah pucat, hal itu membuat Sarah bertanya-tanya tentang apa yang dialami majikannya ini selama dua hari belakangan.


Sarah hanya memendam rasa ingin taunya itu. Biarlah nanti Calista sendiri yang mengatakannya sendiri. Ia hanya seorang pelayan di mansion ini, ia sama sekali tidak berhak untuk mencampuri urusan majikannya.


Dengan ragu Sarah membangunkan Calista. Majikannya itu sudah tidur terlalu lama, lima jam dan bahkan melewatkan waktu makan. Itu membuat Sarah khawatir terjadi sesuatu dengan majikannya.


"Non Calista, bangun. Anda harus makan." Namun yang diajak bicara tak kunjung merespon.


Hingga akhirnya Sarah menggoyangkan sedikit tubuh Calista untuk membangunkannya.


Sarah bernafas lega ketika majikannya itu akhirnya membuka matanya. Wajah Calista nampak pucat, ia juga mengerjapkan matanya beberapa kali untuk menyesuaikan penglihatannya.


"Non, baik-baik saja?"


Sarah membantu untuk mendudukkan Calista. Wanita hamil itu menyandarkan badannya di tempat tidur. Sarah tersenyum sambil mengambil makanan yang ia bawa tadi.


"Aarrgh, isshhh" Calista meringis memegangi kepalanya. Hal itu membuat Sarah khawatir, dan meletakkan makanannya kembali.


"Non, kenapa? Bibi panggil dokter." Calista terus memegangi kepalanya yang berdenyut sakit. Sarah makin panik, ia menelpon dokter dengan tangan gemetaran.


"Aarrghh,, Bi.... sa..kit..." ringis Calista. Ia sudah tidak tahan dengan rasa sakit yang menyerang kepalanya. Sangat sakit dan tidak tertahankan.


"Sabar, Non, dokter segera datang." Sarah makin panik ketika darah mengalir dari hidung Calista.


"Non, darah, Non..." Dengan air mata yang mulai bercucuran, Sarah mengambil tisu dan segera mengelap darah yang keluar dari hidung Calista. Dalam hati Sarah merapalkan berbagai macam doa untuk keselamatan majikannya ini.


Dokter menghembuskan nafas kasar setelah memeriksa Calista. Sementara Calista masih tidak sadarkan diri dan tertidur setelah diberikan obat oleh dokter itu.


"Penyakitnya sudah semakin parah, sudah menjalar ke beberapa organ-organ di tubuhnya."


"Penyakit? penyakit apa yang dokter maksud?"


Sarah menutup mulutnya setelah dokter menjelaskan tentang penyakit Calista. Sarah terkejut bukan main, jantungnya berdetak cepat, walaupun Sarah hanya pembantu tetapi Sarah menyayangi Calista seperti anaknya sendiri. Ia benar-benar tidak tega melihat Calista kesakitan seperti tadi.


"Apa yang harus kami lakukan, dok? Tanya Sarah bergetar.


"Sudah terlambat, sekarang hanya doa dan keajaiban yang mampu menyembuhkannya. Tapi ingatlah, jangan membuat dia tertekan apalagi menangis. Dia juga tidak boleh kelelahan." jelas dokter panjang lebar.


"Lalu, bagaimana dengan bayinya, dok?"


"Bayinya sehat, tapi... Aku tidak dapat memastikan apakah dia bisa bertahan sampai bayinya lahir atau tidak. Itu tergantung kondisinya." dokter itu tersenyum.


"Jaga dia baik-baik." lanjut dokter itu lalu segera pergi.


*****


Aaron berjalan gontai memasuki mansionnya. Dua hari ini begitu melelahkan, ia muak, ia ingin sekali melenyapkan wanita sialan yang menghantui kehidupan beberapa minggu ini. Ia benar-benar lelah bersandiwara, ia juga lelah berbohong kepada istrinya. Secepatnya Aaron harus menyelesaikan masalah ini, agar istrinya tidak tau dan tentunya tidak terluka, apalagi ia sedang mengandung anaknya.


Satu hal lagi yang benar-benar mengganggu hidupnya dua hari belakangan, Ia sangat merindukan Calista. Wanita itu sudah menguasai hati dan pikirannya, ia harus cepat-cepat menemui istrinya. Memikirkan Calista membuat senyum terbit di wajah Aaron. Ia menuju ke kamarnya dengan bersemangat.


"Calista?" Wanita yang dirindukan Aaron ternyata tengah berbaring di tempat tidur. Aaron tersenyum, ia ingin mendekati lalu memeluk istrinya dari belakang.


Aaron naik ke tempat tidur dan memeluk Calista yang memunggunginya, Aaron menaruh kepala di ceruk leher Calista dan menghirup aroma istrinya itu dalam-dalam.


aroma ini seakan candu baginya, semua rasa lelah Aaron sedikit terobati hanya karena aroma tubuh Calista.


Calista terbangun karena seseorang memeluknya. Ia tahu ini Aaron.


DEG


Jantungnya berdetak dan terasa sangat sakit, seakam ditikam oleh pisau yang sangat tajam. Ingatan tentang Aaron di perusahaannya dua hari lalu membuat hatinya sakit. Calista kembali meneteskan air mata. Ia ingin sekali melepaskan pelukan ini tetapi Aaron akan curiga. Dia bisa saja melihat air matanya saat ini, dan tentu saja wajah pucatnya.


Calista sedikit bergerak gelisah dan mengerang seolah-olah tidak nyaman dengan posisi itu. Aaron malah memeluknya Makin erat. Itu membuat hati Calista makin berdenyut sakit, ia tidak bisa lagi menahan isakannya. Rasanya sangat sakit, Calista ingin berteriak tetapi tidak bisa. Saat ini Ia terlalu lemah.


Aaron menyadari isakan itu, ia segera bangun dan membalikkan tubuh istrinya.


"Calista, kamu baik-baik saja?" jujur saja Aaron khawatir. ia tidak pernah sekhawatir ini mendengar wanita menangis.


Aaron makin bingung setelah melihat tangis Calista yang makin menjadi. Aaron gusar dan ingin menenangkan istrinya.


"Don't touch me!! Pergi, Aaron, pergii... hiks"


Aaron semakin bingung, ia mencoba menyentuh dan memeluk istrinya tetapi Calista malah semakin tidak tersentuh. Tangisnya makin menjadi bahkan ia melemparkan semua bantal pada Aaron. Calista terus berteriak menyuruh Aaron pergi.


Aaron yang tidak tahan dengan kondisi saat ini akhirnya mengalah dan bangkit dari tempat tidur.


"Aaarggh, apa yang terjadi?!!!? Aku mohon berhentilah menagis, Calista." Aaron frustasi dan menjambak rambutnya.


"Pergi..." teriak Calista lantang.


"Cukup!! Baiklah,, Aku pergi!!" Aaron membanting pintu sangat kasar. Ia berjalan mondar-mandir di depan pintu sambil menjambak rambutnya.


Sedetik kemudian Sarah datang, ia mendengar suara pintu tertutup sangat keras. Sarah takut terjadi sesuatu dengan Calista saat kondisinya saat ini.


Sarah meminta izin pada Aaron terlebih dahulu sebelum melihat Calista. Aaron memberikan izin, ia sudah tidak habis pikir. Seingatnya, Calista baru datang dari rumah Jane. Dan ia juga tidak menemui istrinya itu karena terlalu sibuk dua hari ini di Washington DC. Aaron tidak mengerti.


Sarah memeluk Calista yg menangis dalam keadaan kacau.


"Suruh dia pergi, Bi. Aku benci melihat wajahnya, Aku benci!!" Adu Calista seraya memeluk Sarah sangat erat.


"Tenang, Non. Dia sudah pergi, tenanglah." Hati Sarah ikut terluka melihat Calista seperti ini. Air matanya sudah mengalir.


"Berjanjilah Bibi tidak akan mengatakan apapun padanya, kumohon. Berjanjilah padaku." Sarah mengangguk ragu. Ia tidak berhak memberi tau tuannya. Ia juga terlalu berat untuk mengungkap fakta itu. Fakta menyakitkan itu.


To be continue....


Hai Semua!


Semoga jalan ceritanya gak makin aneh, yaa...


Hehe...


Aku seneng bisa nulis lagi, pkoknya doakan terus supaya Disaster Love cepet tamat yaa..


Nanti Aku balik lagi, see you