
Hari-hari berikutnya Aaron memperlakukan Calista dengan dingin, bahkan para pelayan di mansion itupun melakukan hal yg sama. Calista tidak mengerti akan kesalahannya, mungkin Aaron yang menyuruh pelayan agar tidak berbicara dengannya.
Para pelayan yang awalnya dekat dengan Calista kini hanya bersikap formal. Kecuali Sarah. Diam-diam Sarah berkomunikasi dengan Calista saat Aaron sedang tidak di mansion. Sarah iba melihat Calista. Sarah sering melihat Calista menangis dalam diam. Wanita itu pasti terpukul, suaminya memperlakukan dirinya dengan buruk.
Sarah sempat mendiamkan Calista atas perintah dari Aaron. Tetapi ketika memergoki Calista yg menangis di kamar mandi di dalam kamarnya, hati Sarah terenyuh. Mendengar tangisan Calista yang menyayat hati, membuat hatinya ikut sakit.
Calista berbeda kamar dengan Aaron. Kamar Calista berada di lantai 1, sedangkan Aaron di lantai 2. Calista melakukan tugasnya sebagai istri Aaron dengan membuatkan sarapan, tetapi itu semua percuma. Aaron sama sekali tidak melirik masakannya. Bahkan lebih parahnya, ketika Calista mencoba menuangkan masakannya ke piring Aaron, pria itu melempar masakan beserta piringnya hingga pecah.
Seperti piring itu, harapan Calista juga ikut pecah dan hancur. Terasa sesuatu yang tajam menggores hatinya hingga terasa perih. Alhasil Aaron pergi ke kantor tanpa sarapan. Aaron mengumpat kasar pada makanan itu, Ia meninggalkan mansion dengan perasaan marah.
Setetes air mata Calista meluruh begitu saja. Sarah mengambil alih membereskan kekacauan itu, awalnya Calista menolak tetapi Sarah memaksanya. Di mansion yang luas itu hanya Sarah yang memperlakukan dirinya dengan baik, hanya Sarah yang masih peduli padanya. Sarah bagaikan ibu bagi Calista di rumah itu. Calista rindu ibunya, Calista juga rindu Jane.
Calista sedang menunggu kepulangan Aaron. Suaminya akan pulang jam 5 sore. Namun pukul 7 malam Aaron tidak kunjung tiba. Makan malam bahkan sudah siap. Calista was-was menunggu kedatangan Aaron.
Calista menengok jam tangannya. Sudah pukul 9.47. Ini sudah larut malam. Calista bahkan sudah menelpon ke kantor, tetapi pihak kantor mengatakan Aaron sudah pulang pada pukul 7.
Calista mondar-mandir di ruang tamu, ia sangat mengkhawatirkan Aaron. Semoga saja tidak terjadi sesuatu dengan suaminya. Calista mencoba menghubungi Aaron namun ponsel Aaron selalu sibuk, tidak dapat dihubungi.
"Tidak ada gunanya mondar-mandir. Lebih baik nona menunggu Aaron sambil duduk" kata Sarah yg datang membawa minum.
"Bibi benar, aku terlalu mengkhawatirkan Aaron" jawab Calista sambil mendaratkan bokongnya di sofa.
Calista memijit kepalanya sambil memejamkan mata. Kepalanya sedikit berat dan pusing.
"Biar aku yg melakukannya nona, dan minumlah dulu" Sarah mengambil alih memijit kepala Calista.
"Bibi aku sudah bilang jangan panggil aku nona, panggil saja Calista. Dan terimakasih telah memijit kepalaku, bibi memang ahlinya." Calista nampak menikmati pijitan Sarah di kepalanya. Sampai tanpa sadar Ia tertidur di sofa ruang tamu.
Calista terbangun karena hampir terjatuh dari sofa. Bersamaan dengan itu, suara mobil terdengar.
"Aaron?"
Calista segera bangun dan menuju ke pintu. Saat membuka pintu Calista begitu terkejut melihat Aaron. Pria itu mabuk berat, wajah Aaron memerah dan pria itu meracau tidak jelas. Calista seketika meraih tubuh besar Aaron yang hampir terjatuh. Pria itu bahkan tidak berjalan dengan benar.
Calista memapah Aaron susah payah. Aaron sangat berat. Calista membawa Aaron untuk duduk di sofa.
Aaron hampir saja tertidur disana. Calista kembali mengangkat Aaron dan memapahnya hingga ke kamar Aaron.
"Permainan akan segera dimulai, hahahaha" Aaron meracau tidak jelas di telinga Calista. Bau alkohol sangat kuat dan hampir membuat Calista mual.
"kau akan.... hahahaha" Aaron kembali meracau dan tertawa tidak jelas.
"Ayo Aaron, sedikit lagi" ucap Calista. Ia memapah Aaron sekuat tenaga menaiki tangga.
Aaron melirik orang yg memapahnya. Setengah sadar Ia menyadari itu Calista.
"Lepaskan, kau..." Aaron berontak dan melepas Calista dari tubuhnya. Aaron menjauhkan Calista dan mencoba berjalan menaiki tangga.
Calista mencoba memegangi Aaron yang berjalan sempoyongan menaiki tangga.
"Don't touch me!" Aaron yang kesal mendorong Calista yang memeganginya.
"Aarooonn"
Calista hilang keseimbangan. Ia terpeleset dan jatuh dari tangga. Tubuhnya berguling ke bawah.
"Aawwhhh" Calista meringis kecil sambil memegang kepalanya yang terhentak di meja.
Jidatnya terbentur meja di ujung tangga. Untung saja Calista hanya terbentur pelan, Ia pun jatuh tidak terlalu tinggi.
Sarah yang mendengar keributan segera keluar menghampiri majikannya. Betapa terkejutnya Sarah melihat Calista dengan wajah penuh darah. Sarah bahkan memekik serta berlari menghampiri Calista.
Aaron menatap Calista sekilas, pandangannya buram, Ia bahkan terduduk di tangga dan tidak sadarkan diri. Aaron mabuk berat.
Calista terkejut dengan tingkah Bi Sarah yang panik. Bi Sarah bahkan hampir menangis melihat kondisinya. Calista hanya bengong melihat Bi Sarah menelpon dokter di tengah malam, kepalanya hanya sedikit perih namun tidak parah. Calista bahkan ingin tertawa melihat raut wajah pembatunya yg panik melihat kondisinya. Semua sikap Aaron padanya seakan terlupakan, sakit hati Calista sedikit terobati karena Bi Sarah.
Dokter pun datang dengan tergesa-gesa. Dokter pribadi keluarga Gavrilo itu bahkan datang dengan pakaian tidurnya. Bi Sarah menelponnya dengan panik, Ia mengira terjadi sesuatu yg gawat. Ternyata luka Calista sama sekali tidak parah, itu hanya luka kecil. Tetapi karena lukanya berada di area kepala biasanya darah akan keluar cukup banyak.
Bi Sarah malu sendiri akibat tingkah lakunya. Tadi dia benar-benar panik melihat wajah Calista yang berlumuran darah. Ia refleks menelpon dokter muda itu.
Sarah hanya bisa meminta maaf, setelah selesai mengobati luka Calista, dokter muda itu pamit pulang. Calista tersenyum kecil pada Sarah.
"Makasi banyak Bi, sudah khawatir sama Calista. Calista baik-baik aja kok" ujar Calista lembut.
"Maafin Bibi juga yaa, Bibi tadi panik liat kondisi kamu. Mending sekarang kamu istirahat, tuan juga udah di kamarnya" Sarah pamit setelah menasihati Calista.
Calista tersenyum miris mengingat Aaron. Ia teringat kejadian di tangga tadi. Untung saja luka di kepalanya tidak parah. Calista segera memejamkan matanya. Ia berharap esok hari akan lebih baik. Semoga saja.
Keesokan harinya....
Seperti biasa Calista menyiapkan sarapan untuk Aaron. Calista cemas akan keadaan Aaron tetapi Ia tidak berani memasuki kamar suaminya. Calista tidak mau suaminya itu semakin marah padanya.
Calista menunggu Aaron si meja makan. Sarapan sudah tersaji dan aromanya sangat nikmat. Sungguh Calista berharap kali ini Aaron mau memakan sarapan buatannya. Aaron terlihat telah siap dengan pakaian kantornya. Seperti biasa Ia terlihat sangat tampan, bahkan semakin tampan hari ke hari. Jantung Calista berdetak kencang ketika Aaron mendekati meja makan. Melihat suaminya yang tampak segar dan gagah membuatnya salah tingkah sendiri.
Calista juga menikmati sarapan setelah Aaron pergi. Ia membatu pelayan membereskan sisa makanannya di dapur. Calista terkejut ketika terdengar suara mobil memasuki area mansion. Calista menyudahi kegiatannya, Ia segera menuju ke pintu utama. Calista mengira ada sesuatu yang dilupakan Aaron hingga suaminya itu kembali ke rumah. Namun alangkah terkejutnya Calista ketika mendapati seorang laki-laki dengan rambut putih yang Ia kenal berada di pintu masuk.
Calista menelan salivanya susah payah. Matanya melotot mendapati pria yang mengancamnya dulu di perpustakaan universitasnya ada di depannya. Calista diam mematung dan pikirannya kembali melayang pada kejadian itu.
Laki-laki tersenyum sinis dan berjalan mendekati Calista. Calista yang masih bengong tiba-tiba tersentak ketika laki-laki itu memegang pergelangan tangannya kasar. Calista melotot dan meronta.
"Lepas, berani-beraninya kau menyentuhku!" Calista berontak dan mencoba berteriak minta tolong. Namun laki-laki itu nampak tenang bahkan tersenyum sinis.
Mendengar keributan beberapa pelayan dan penjaga berdatangan. Namun ketika melihat yang terjadi mereka hanya diam, menunduk. Mereka tidak berani menolong Calista, termasuk Sarah.
"Tolong aku, kumohon. Dia sudah gila" Calista mencoba melepaskan genggaman laki-laki itu.
"Kalian pergilah!" Teriak laki-laki itu.
Calista melotot tak percaya melihat para pelayan bahkan penjaga menuruti perintah laki-laki ini. Calista semakin meronta dan menatap laki-laki itu dengan tatapan membunuh, namun yang ditatap justru tertawa kencang. Laki-laki itu tertawa dan menarik Calista ke sebuah kamar di dekat tangga.
Calista mulai menangis, banyak pertanyaan yang muncul dibenaknya. Ia sangat takut, Calista berharap seseorang menyelamatkannya dari laki-laki gila ini.
Laki-laki itu menghempaskan Calista dan menutup pintu. Ia menyeringai sambali memegang sesuatu di tangannya. Wajah laki-laki itu nampak sangat menyeramkan di mata Calista. Jantung Calista berdegup kencang ketika laki-laki itu mendekat. Calista terus mundur hingga tubuhnya menabrak ranjang. Calista menggeleng semengan laki-laki itu tertawa mengejek. Ia mengeluarkan sebuah pistol dari sakunya.
Suhu tubuh Calista meningkat melihat benda laknat itu. Peluhnya menetes di sekujur tubuhnya. Bahkan air matanya sudah mengalir. Sungguh Ia sangat takut dengan benda itu, kepalanya bahkan berdenyut sakit.
"Tolooong, siapapun tolong aku" Calista berteriak sekeras mungkin. Ia bahkan sudah terisak.
Laki-laki itu mendekat dan mendekatkan pistol ke wajah Calista. Ia terkekeh melihat peluh yang sudah bercampur menjadi satu dengan air mata Calista. Laki-laki itu berjongkok dan mendekatkan wajahnya, alhasil Calista menoleh ke arah lain sambil memejamkan matanya.
"Kau takut, huh? Semuanya baru akan dimulai, nikmati saja semua yang akan terjadi. Nikmati semua rasa sakitnya." Laki-laki itu kembali tertawa setelah membisikkan kata-kata di telinga Calista.
Laki-laki itu bangkit dan memainkan pistolnya. Ia mengarahkan pistol itu tepat ke wajah Calista.
Tubuh Calista bergetar. "Jangan, kumohon jangan lakukan itu" ucap Calista sambil menggeleng. Tubuhnya sudah tersudut dengan ranjang.
Laki-laki itu mendekat satu langkah, menatap Calista tajam dan memegang pelatuk pistol. Calista memejamkan mata.
"Doorr"
"Aaaaaaa" Calista berteriak kencang.
Laki-laki itu kembali tertawa karena berhasil membodohi Calista. Ia sama sekali belum menembak Calista tetapi wanita itu sudah sangat ketakutan. Laki-laki itu kembali berjongkok di depan Calista dan menekan wajah Calista dengan satu tangannya dengan keras.
"Ini baru permulaan sayang, tetapi kau sudah seperti ini. Kau akan merasakan apa yang dulu pernah aku rasakan, bahkan lebih dari itu"
BUGH
Tepat di akhir kalimatnya, laki-laki itu terkungkal akibat ditendang seseorang. Ia meringis dan memegang pinggangnya.
Calista sangat senang Aaron menyelamatkannya. Ia ingin bangun dan memeluk Aaron, tetapi hal yang tidak diduga-duga membuatnya terkejut.
Aaron membantu laki-laki yang rambutnya dicat putih itu untuk berdiri. Aaron menepuk jantan pundak laki-laki itu. Calista bengong melihat kejadian di depannya. Nyawanya seakan melayang sesaat.
"Aa....apaa yang terjadi? kenapa kau menolongnya?" ucap Calista terbata-bata. Perasaannya tidak enak sekarang.
Kedua lelaki itu tertawa. Aaron berjongkok di depan Calista dan menghapus air mata Calista.
"Perkenalkan, dia Areon"
"Areon Maxime Gavrilo, putra terkecil keluarga Gavrilo." ucap Aaron datar sambil menatap dalam mata Calista.
Jleb
Jantung Calista terasa lepas dari tempatnya. Nyawanya seakan melayang, matanya matanya bahkan membulat sempurna mengetahui fakta yang sangat mengejutkan. Calista menggeleng, Ia menatap Aaron dan kembali menatap lelaki dengan berambut putih itu.
"Tidak, tidak mungkin kaliaann...." Calista tidak mampu melanjutkan ucapannya.
Jadi Areon adalah adik kandung Aaron? Adik kandung suaminya. Kejadian di masa lalu kembali berputar di kepalanya. Areon tertawa dan Aaron tersenyum sinis. Calista memegang kepalanya. Ia lalu tidak sadarkan diri.
**To be continue.....
Areon Maxime Gavrilo**
1767 kata 😲
Semua demi readers yang setia nunggu Disaster Love 😍😍
Next part bakalan lebih seru,, Stay Tune Guys.
Yang mau hujat silakan 😂
Aku dengan senang hati menerima 😁