
Setelah mendengar suara wanita saat dirinya berbicara dengan Aaron, ia begitu terpukul. Calista tidak mungkin salah dengar. Hatinya seperti diremas kuat-kuat, sakit sekali.
Sambungan telepon sudah diputus oleh Aaron. Calista masih termenung dengan pikiran kalutnya. Ia tidak bisa tidur, Aaron selalu melintas di pikirannya. Suara wanita itu juga mengiang di telinganya. Beberapa menit kemudian smartphonenya kembali menyala, tanda ada pesan masuk.
Calista membuka aplikasi perpesanan itu. Pengirimnya nomor tidak dikenali, dengan ragu ia membuka pesan itu. Isinya pesan suara. Tangan Calista bergetar untuk menekan tombol play, perasaannya mulai tidak enak.
KLIK!
"*Aku mencintaimu, Alexandra."
*DEG
"Lalu bagaimana dengan istrimu? Apa kau tidak mencintainya?"
"Aku tidak pernah mencintainya. Aku akan segera menceraikannya**."
PRAKK
Smartphone itu jatuh dari pegangan Calista. Tangannya membungkam mulutnya yang sudah ingin menangis dan berteriak histeris. Air mata Calista tumpah. Tangisnya semakin menjadi, nafasnya tersenggal. Dadanya sangat sesak kali ini. Belati yang menusuk hatinya kini semakin ditekan kedalam, lalu tanpa aba-aba dicabut kasar. Sakit!
Calista menangis histeris, tangis yang memilukan dan penuh dengan rasa sakit. Ia sudah tidak bisa menahannya lagi. Calista mengeluarkan semuanya, tangannya sudah tidak membungkam mulutnya lagi.
"Kenapa kau melakukannya, Aaron? Kenapa?!! Sakit!!" lirih Calista di sela tangisannya.
Calista meremas seprai. "Aaaaaaaaa...... hiks...hiks..." Calista berteriak sekuat tenaga, kedua tangannya meremas seprai sangat kuat seolah menyalurkan sedikit rasa sakit yang ia rasakan saat ini.
Pesan suara itu berisi percakapan dua orang, pria dan wanita. Dan Calista sangat mengenal suara pria itu. Suara Aaron.
James dan Jane panik mendengar teriakan Calista. Mereka yang sempat tidur dengan tergesa menghampiri Calista yang menangis tersedu-sedu. Jane memeluk Calista.
"Sayang, tenanglah. Apa yang terjadi, huh? Calista tenanglah." hati Jane terasa tersayat mendengar tangisan Calista.
Calista menangis lagi dan lagi, tangisannya semakin terdengar pilu. Bahkan ia sekarang memukul-mukul dadanya sendiri di pelukan Jane. Ia tidak bisa menghentikan tangisnya, sementara dadanya makin sesak menahan rasa sakit hatinya.
Sementara James, percayalah pria itu tidak lebih baik dari Jane. Ia sama hancurnya melihat Calista dengan keadaan seperti itu.
"Sayang, kumohon kendalikan dirimu." lirih Jane.
"Caly, hentikan!! eergghh..." James menjambak rambutnya kasar.
Malam makin larut, dan tangis Calista juga tak kian berhenti. James mengambil alih Calista dari pelukan Jane. Didada bidang James, Calista menangis.
"Ja...mes"
"Sstttt, kumohon hentikan tangismu. Kau membuat kami hampir mati, Caly."
"James, ak-aku ingin pulang."
James memandang Calista heran. Wanita itu bahkan masih sesenggukan.
"Antar..kan aku pulang" Calista menatap mata James yang penuh tanda tanya.
"Tapi, kau...."
"Aku mau pulang. Ku mohon..." kedua mata indah itu berbinar memancarkan rasa sakit yang teramat sangat.
James menelan salivanya. Ia mengangguk ragu. James tidak tau, apakah pilihannya saat ini sudah benar atau malah sebaliknya. Yang jelas, kedua mata Calista seakan enggan untuk ditolak. Hatinya juga mengatakan demikian, ia yakin Calista memiliki alasan untuk segala tindakannya.
*****
Aaron bangkit dari tempat tidur sembari melonggarkan dasinya. Ia kembali melirik wanita yang terbaring itu, senyum smirk-nya terbit. Aaron berjalan mendekati meja bar di ruangan itu. Beberapa lembar kertas yang membuatnya mempertaruhkan semuanya malam ini. Ia nekat membohongi istri, bahkan dirinya hanya untuk kertas ini. Tapi Aaron tidak menyesal, rencananya telah berhasil.
Malam ini adalah malam terakhir Alexandra mengacaukan hidupnya. Kertas itu akan mengusir Alexandra dari hidup Aaron.
FLASHBACK
"SAYANG?"
Mata Aaron melebar, secara automatis tubuhnya berbalik mencari sumber suara. Disana hanya ada dirinya dan Alexandra. Ya, Alexandra berseru sangat keras memanggilnya "sayang".
Alexandra berjalan mendekatinya sementara Aaron melihat kembali smartphone-nya. Masih tersambung!!
Aaron segera mematikan sambungan telepon itu. Sementara Alexandra sudah bergelayut manja di lehernya. Wajah mereka bahkan begitu dekat, Aaron mengumpat dalam hati. Menjijikkan!
"Siapa yang menelpon?" suara Alexandra menjadi sangat lembut.
"Sekretarisku, dia mengabariku tentang dokumen yang lupa Aku tanda tangani." jawab Aaron setelah beberapa detik sempat terdiam.
"Malam-malam begini?" Jari-jari Alexandra menelusuri lekuk wajah Aaron dengan sangat perlahan.
Aaron menahan dirinya sekuat tenaga untuk tidak mendorong wanita ini. Ia memejamkan mata.
"Itu dokumen yang sangat penting."
"Eeemmm, sepenting apa sampai mengganggu malam kita?"
CUP
Aaron melotot ketika wanita itu mencium bibirnya. Sial, ia kecolongan!
"Sudahlah. Sekarang mari kita nikmati malam ini, aku akan memuaskanmu." ujar Alexandra yang dibuat seseksi mungkin. Kedua tangannya menelusuri wajah dan leher Aaron.
Aaron secepatnya menetralkan raut wajahnya. Permainan akan segera dimulai, ia tidak boleh membuka Alexandra curiga. Aaron segera mengambil alih permainan, ia balas menarik pinggang wanita itu cepat hingga membuat Alexandra terkesiap. Aaron mengeluarkan tersenyum, dengan cepat ekspresi Alexandra ikut berubah menjadi tersenyum menatap manik mata Aaron.
Aaron mendekatkan wajahnya dan berbisik tepat di telinga Alexandra.
"Aku akan ke kamar mandi, bersiaplah" bisiknya dalam.
Seluruh tubuh Alexandra merinding karena bisikan Aaron. Dirinya sudah meremang, tatapannya berubah sayu. Aaron kembali menatapnya dengan senyuman yang sama, lalu segera melepas pelukannya dari pinggang Alexandra. Aaron kemudian melenggang ke kamar mandi.
Jantung Alexandra marathon, ia semakin bergairah. Sesaat kemudian, ia melihat smartphone Aaron yang diletakkan di meja di sebelahnya. Rasa penasarannya muncul, Alexandra membuka smartphone yang tidak terkunci itu.
Ia tersenyum kecut. Yang dihubungi Aaron adalah istrinya, hampir saja ia dipermainkan Aaron. Emosinya memuncak, melihat daftar panggilan terakhir itu.
"Apa yang kau lakukan?" Aaron mengambil kembali ponselnya.
"Kau mau menipu ku?" Alexandra tersenyum remeh.
"Aku bisa jelaskan...."
"Tidak ada yang perlu dijelaskan! Kau menipuku, Aaron! Aku tidak akan memaafkanmu kali ini! Tunggu saja, aku akan menghancurkan perusahaan kali ini!" ujar Alexandra marah.
Aaron menangkap wanita itu ke dalam dekapannya. Ia menatap Alexandra dalam, tatapan mereka terkunci. Alexandra menatapnya marah sementara ia menatap Alexandra tenang dan dalam.
"DIAM!" Alexandra diam, Aaron ******* bibirnya. Alexandra menolak, tapi lama kelamaan dia tidak tahan dengan godaan bibir Aaron. Wanita itu akhirnya membalas lumatan Aaron.
"Kau tidak percaya padaku?" ucapan Aaron begitu dalam dan serak. Alexandra kembali jatuh dalam pesona Aaron.
"Kenapa kau menelponnya?" Aaron kembali mencium Alexandra. Wanita itu kali ini hanya diam, tidak membalas. Dan ketika Aaron melanjutkan kata-katanya, ia menatap dalam mata Aaron.
"Aku menelponnya untuk bisa bersamamu malam ini. Dia akan curiga jika aku tidak pulang dan juga tidak mengabarinya."
"aku... aku...tidak"
"Kau masih tidak percaya padaku? Apa yang harus kulakukan agar kau percaya?" Aaron mengelus rambut dan wajah Alexandra sens**l.
"Katakan kau mencintaiku." Aaron mengernyit dengan permintaan Alexandra.
"Hanya itu?" Alexandra mengangguk. Saat itu juga Aaron tidak sadar jika Alexandra merekam suaranya. Diam-diam Alexandra merekam menggunakan smartphonenya sendiri.
"Aku mencintaimu, Alexandra."
"Lalu bagaimana dengan istrimu? Apa kau tidak mencintainya?"
"Aku tidak pernah mencintainya. Aku akan segera menceraikannya." Alexandra tersenyum setelah Aaron mengucapkannya. Ia segera mematikan rekaman itu diam-diam.
"Kau puas? Kau masih meragukanku?"
"Tidak sama sekali. Sekarang tidak ada seorang pun yang bisa mengganggu kita." kata Alexandra.
"Benar sekali. Tidak seorang pun." Aaron tersenyum. Untung saja ia berhasil meyakinkan wanita ini.
Setelah itu, Aaron membuat Alexandra mabuk. Dan saat kesadaran Alexandra hampir hilang, Aaron membuat Alexandra menandatangani berkas pelimpahan kepemilikam saham perusahaan.
Saham perusahaan yang pernah direbut oleh Alexandra darinya. Sekarang ia mengambil kembali perusahaannya. Berkas itu berisi hal-hal penting menyangkut perusahaannya. Aaron tersenyum senang. Rencananya berhasil.
Wanita itu sudah tidak sadarkan diri di tempat tidur. Hampir saja Alexandra memperkosanya, Aaron juga seorang pria apalagi sudah sangat lama dirinya tidak menyalurkan hasratnya pada wanita. Selama hamil Aaron tidak menyetubuhi Calista. Bukan karena ia tidak mau, melainkan ia takut Calista masih trauma dengan masa lalunya. Aaron juga takut bayi di kandungan Calista akan kenapa-kenapa jika ia berhubung badan dengan Calista. Selama berbulan-bulan ia sekuat tenaga menahan hasratnya melihat Calista yang semakin seksi saat hamil.
Tadi Alexandra tanpa malu menyentuh dan merangsang area sensitifnya. Hal itu membuat libidonya bangkit, bukan karena ia tertarik dengan Alexandra. Sama sekali bukan. Aaron bahkan jijik dengan wanita itu, hanya saja wanita itu sangat licik. Hampir saja tadi ia terjebak.
FLASHBACK END.
Aaron mengambil kertas itu dan berjalan meninggalkan tempat terkutuk itu. Ia harus kembali ke rumahnya. Aaron sudah sangat merindukan Calista, ia juga perlu menidurkan adiknya yang bangun akibat wanita ular itu.
Aaron sampai di mansion dini hari. Keadaan mansion sangat gelap. Ia menuju ke kamarnya dengan tergesa. Aaron membuka pintu kamar perlahan. Seseorang berbaring di tempat tidur membelakanginya. Siapa lagi kalau bukan Calista.
Aaron tersenyum, hatinya menghangat. Ingin sekali Aaron memeluknya seraya mengistirahatkan tubuhnya. Sebelum itu, Aaron berjalan perlahan menuju kamar mandi. Ia perlu membersihkan diri saat ini dan juga menidurkan adiknya.
Setengah jam kemudian Aaron keluar dari kamar mandi. Ia melangkah menuju tempat tidur, tanpa basa basi ia memeluk Calista. Menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Calista.
"Aku mencintaimu, Calista." bisiknya sembari tersenyum. Aaron tau Calista mungkin tidak mendengar ucapannya. Ia tidak peduli, yang jelas perasaan sudah tidak dapat dibendung lagi. Ia benar-benar sudah mencintai istrinya itu.
Air mata Calista meluncur bebas. Pernyataan Aaron menyayat hatinya. Sekuat tenaga ia menahan agar tidak menangis.
"Sampai kapan kau akan berbohong, Aaron? Kenapa kau memberiku rasa sakit yang teramat sangat ini, kenapa?" batin Calista.
Keesokan harinya.....
Aaron terbangun karena cahaya yang menyinari wajahnya. Saat membuka mata ia melihat Calista yang berdiri di dekat balkon. Aaron tersenyum, hari ini ia akan mengatakan semuanya pada Calista. Tentang Alexandra dan juga perasaannya. Aaron bangun dari tempat tidur. Ia memeluk Calista dari belakang dengan erat.
"Selamat pagi"
Senyum Aaron yang semula mengambang tiba-tiba hilang. Ia mendengar isakan Calista dan juga bahu istrinya yang bergetar. Aaron membalikkan tubuh Calista dan melihat dengan jelas kesedihan di wajah Calista.
"Ada apa? Kenapa kau menangis?" Tangisan Calista malah semakin menjadi. Aaron tambah panik, ia benar-benar bingung sekaligus khawatir dengan sikap Calista.
"Calista, berhentilah menangis. Kau membuatku khawatir." Aaron beralih memeluk Calista.
Wanita itu semakin terisak. Aaron memeluknya erat, mencium puncak kepala Calista dan mengelus punggungnya. Entah mengapa perasaa Aaron menjadi tidak enak. Wajah Calista sangat pucat, tubuhnya terlihat makin kurus.
"Aaron" Calista melepas pelukan Aaron. Ia mendongak menatap Aaron.
Ada yang tidak beres, sekarang seluruh tubuh Calista mulai bergetar. Kakinya mendadak lemas, tapi Calista bertahan sekuat tenaga.
"Aaron, Aku...." ucap Calista menggantung. Sekarang perutnya menegang dan mulai terasa keram. Calista menahannya sekuat tenaga dan kembali menatap Aaron.
Aaron menyadari ada gerak gerik Calista yang aneh. Wajahnya sangat pucat dan ia sepeti menahan sesuatu. Aaron benar-benar khawatir sekarang.
"Kau baik-baik saja?" Calista mengangguk, mengambil nafas dalam. Satu tangannya memegang perutnya yang semakin terasa keram bahkan sakit.
"Aaron, k-kau menyayangi bayi ini, kan?" Peluh Calista sudah bercucuran hanya untuk mengucapkan kalimat itu. Tenaganya habis terkuras menahan rasa sakit.
"Tentu saja aku menyayanginya. Kenapa kau bertanya seperti itu, huh?
Calista merosot, wajahnya sangat pucat. Ia menangis memegangi perutnya yang terasa benar-benar sakit saat ini.
Aaron melotot ketika melihat ada darah mengalir dari paha dalam Calista. Tanpa pikir panjang Aaron ingin mengangkat Calista, tapi ditahan wanita itu.
"Aaron, tu-tunggu... Aku baik-baik saja."
"Apa maksudmu, huh? Kau berdarah!! kita harus segera ke rumah sakit." tegas Aaron marah. Tapi lagi-lagi Calista menggeleng dan menahan Aaron seraya menangis menahan sakit perutnya yang semakin menjadi.
"A-aku mau kau berjanji padaku." Tatapan mereka terkunci.
"Apapun yang terjadi, tolong jaga anak ini. Aaakkhh"
"Apa maksudmu? kita akan merawatnya bersama-sama!" Tanpa basa basi lagi Aaron mengangkat Calista yang sudah benar-benar kesakitan. Jantung Aaron berdetak sangat cepat, adrenalinnya meningkat drastis. Aaron takut terjadi sesuatu dengan Calista dan juga calon anaknya.
"Aaron.... Berjanjilah...," dengan sisa tenaga dan kesadarannya Calista berujar. Ia benar-benar harus memastikan jika nanti ketika ia pergi Aaron akan merawat anak mereka dengan baik. Walaupun Calista tau jika Aaron tidak mencintainya, setidaknya anaknya nanti akan mendapat kasih sayang seorang ayah.
Aaron berjalan tergesa, sambil menatap Calista. Ia mengangguk sekilas, Aaron dapat melihat senyum manis Calista terbit di wajah pucat wanita itu sesaat sebelum wanita itu benar-benar tidak sadarkan diri.
"*Terimakasih, Aaron. Terimakasih sudah berjanji untuk merawatnya."
"Tuhan, untuk terakhir kalinya Aku meminta padamu. Tolong biarkan anakku lahir dengan selamat, setelah itu aku siap jika harus pergi ke tempat-Mu." doa Calista saat kesadarannya hampir terenggut sempurna darinya.
Saat itu, bersama mata Calista yang tertutup, air mata Aaron melolos dari matanya. Baru saja ia akan berbahagia bersama keluarga kecilnya, baru saja Aaron akan memulai semuanya bersama istri dan calon buah hati mereka. "Selamatkan anak dan istriku, Tuhan. Aku mohon padamu*..."
**To be continue....
Akhirnya, selesai juga chapter ini. Udah 2 hari aku buat dan baru selesai sekarang. Sumpah susah banget biar ngefeel :(
Maaf kalo chapter ini kurang ngefeel, Aku stuck.
Bantu support Aku ya, jangan lupa like, vote, dan comment.
See you**,