
Aaron menutup MacBook nya, jujur saja ia sangat lelah. Matanya sudah sangat panas, tubuhnya kaku. Aaron memijat kepalanya, tawa Calista bersama James masih terngiang di kepalanya. Aaron bangkit lalu merebahkan diri di tempat tidur. Ia mencoba memejamkan mata namun selalu gagal. Calista kembali membayangi pikirannya.
Calista bersama James
Aaron tiba-tiba saja bangun dan duduk. Di ruangan itu hanya ada Calista dan James, sedangkan ia meninggalkan istrinya itu berdua saja dengan pria lain. Aaron menggeram kedal akibat kebodohannya. Ia mencari smartphone untuk menelpon istrinya. Ia menemukannya, tetapi smartphone itu mati.
"Arrgghh! Tidak berguna!" Aaron berteriak dan melempar benda pipih itu.
Aaron bangkit lalu berjalan mondar mandir. Beberapa saat kemudian ia mengambil benda pipih yang baru saja dilemparnya hingga layarnya pecah. Aaron menghubungkan ke charger, smartphone itu hidup beberapa saat kemudian.
dua panggilan tak terjawab....
Aaron melotot melihat pemberitahuan di layar smartphonenya. Ia sama sekali tidak tau jika Calista menghubunginya. Aaron segera menelpon Calista, tetapi yang terjadi malah operator yang menjawab panggilannya. Telpon istrinya itu mati. Aaron semakin geram, setelah lima kali ia mencoba memanggil hasilnya tetap sama. Akhirnya Aaron memutuskan untuk ke rumah sakit untuk memastikan keadaan Calista, karena pikirannya sudah dipenuhi pikiran-pikiran buruk tentang Calista dan James.
Walaupun dini hari, jalanan di LA tidak pernah sepi. Kota itu selalu sibuk setiap saat, tidak mengenal waktu. Aaron melajukan mobilnya dengan sambil terus melirik ponsel, ada seseorang yang selalu ia nantikan kabarnya.
Saat Aaron berjalan di lorong keadaan begitu sepi dan lengang. Tidak seperti keadaan tadi sore, saat hampir semua wanita melirik ke arahnya.
Aaron sampai dj depan ruangan Calista, ia membuka pintu perlahan. Ternyata di dalam sangat gelap, sepertinya semua orang telah tidur. Aaron melangkah pelan-pelan mendekati istrinya, wanita hamil itu berbaring memunggunginya sehingga Aaron tidak tau apakah Calista sudah tidur atau belum.
Jujur saja perasaan Aaron kini menghangat ketika melihat wajah damai istrinya yang sudah tertidur dengan lelap. Aaron sudah berada tepat di depan Calista, walau keadaan ruangan yg gelap Aaron masih bisa memandang wajah cantik istrinya. Wajah itu sangat cantik, Aaron tidak dapat mengalihkan pandangan dari wajah Calista terutama bibir mungil nan manis itu. Aaron tidak pernah menyangka rasanya akan begitu manis dan memabukkan, bahkan jauh lebih memabukkan dari alkohol yang sering dia minum.
Aaron mengelus rambut istrinya, menyingkirkan anak rambut yang berada di wajahnya. Calista nampak sama sekali tidak terganggu oleh aktivitas Aaron. Ia terlelap setelah tadi menelan rasa kecewanya bulat-bulat.
"Cantik" Batin Aaron seraya tersenyum memandang wajah Calista.
Aaron mendekati wajah cantik itu. Aaron menempelkan bibirnya di bibir Calista lembut. Ia mengecupnya cukup lama dan penuh perasaan. Ia takut membangunkan wanita yang sedang terlelap ini. Aaron memandangnya lagi, cukup lama sebelum akhirnya mencium bibir tipis itu sekilas untuk yang kedua kalinya malam ini.
Ternyata aktivitas Aaron diketahui oleh James. Sedari tadi James tau jika ada seseorang yang masuk ke ruangan ini, dan mungkin Aaron tidak menyadari dirinya yang tengah berbaring di sofa. James awalnya mengira Aaron adalah penjahat karena keadaan kamar yang gelap, tetapi setelah menyadari itu adalah Aaron, Ia hanya diam saja dan memantau. Semua gerak gerik Aaron dapat dilihat James dengan jelas, dan ketika Aaron mencium Calista hatinya kembali berdenyut sakit. Bagaikan ditusuk jarum perlahan-lahan namun dalam. Jujur saja James masih menyimpan perasaan pada Calista, itulah mengapa hatinya sakit melihat kejadian itu.
Namun James hanya bungkam. Tangannya terkepal dan rasanya sangat kesal, tetapi apa yang bisa ia lakukan? Aaron adalah suami sah Calista, Dia berhak atas Calista.
Keesokan harinya Calista membuka mata, Ia menyadari seseorang tertidur sambil duduk di sebelah brankarnya. Itu Aaron, suaminya.
"Kapan pria itu datang?" batin Calista.
Tangan Calista terulur untuk menyentuh wajah suaminya. Aaron tertidur dalam posisi duduk, pria itu berdiri tegak dengan tangan dilipat depan dada.
"Apa dia tertidur seperti itu dari semalam?" batin Calista lagi. Ia sungguh mengkhawatirkan Aaron tetapi ia juga tidak tega membangunkan Aaron yang jika tertidur wajahnya jauh lebih tampan.
Calista memandang wajah Aaron, pahatan wajahnya sangat sempurna dengan rahang tegas, hidung mancung dan juga bibir yang tipis dan melengkung indah. Mata dan juga alisnya hampir sempurna, Aaron adalah ciptaan Tuhan yang sangat indah. Diam-diam di dalam hati Calista selalu bersyukur telah dipertemukan dengan Aaron, walaupun masalah tidak pernah berhenti menimpa mereka tetapi Calista tetap bersyukur. Ia sangat mencintai suaminya.
Calista menelusuri rahang Aaron yang tegas dengan tangannya, hal itu membuat sang empu terbangun dan menggenggam erat tangan Calista. Calista terkejut, itu sebagai perlindungan dirinya terhadap musuh. Aaron mengira tangan itu adalah milik orang lain, ketika ia sadar ternyata Calista lah yang memiliki tangan itu. Aaron tersenyum pada Calista.
"Kapan kau bangun?" Calista menjawab pertanyaan Aaron dengan anggukan. Calista tersenyum lembut lalu mengelus wajah Aaron lembut. Aaron menikmati elusan itu, ia bahkan memejamkan mata.
"Kenapa kau bisa berada disini? Kapan kau datang?"
"Kemarin malam, saat kau tertidur." Calista hanya tersenyum. Pandangan mereka kini terkunci satu sama lain.
"Good morning baby. Ini Dad, jangan menyusahkan Mommy yaa... Sehat terus di dalam perut Mommy" kata Aaron seolah berinteraksi dengan bayi di dalam perut istrinya.
Pintu tiba-tiba terbuka dan masuklah James. Calista dengan cepat menghapus air matanya dan Aaron menoleh ke arah pintu masuk. Pandangannya berubah tajam pada James.
James menghentikan langkahnya ketika menyadari pandangan Aaron. Ia sama sekali tidak terpengaruh dengan tatapan suami dari adiknya itu.
"Sarapan" ucap James sambil melanjutkan langkahnya mendekati Calista.
"Kakak tau aku sudah lapar?"
"Aku tau semua hal yang kau rasakan dan pikirkan." Ucapan James membuat dada Aaron serasa mendidih. Apalagi Calista tertawa mendengar ucapan itu, Aaron sangat kesal. Emosinya kembali bercampur aduk setelah tadi membaik. James selalu dapat dengan mudah membuatnya kesal.
James membuka makanan itu, sedangkan Calista dengan senang hati menerima makanan yang dibawakan James. Pria itu juga sama sekali tidak peduli dengan adanya Aaron di tempat itu, malahan James menawarkan untuk menyuapi Calista.
"Buka mulutmu" Calista menatap Aaron sekilas, dilihatnya wajah Aaron yang sudah kembali berubah tegang.
"Aku bisa makan sendiri kak" tolak halus Calista. James menolak memberikan makanan itu pada Calista, ia bersikeras ingin menyuapi adiknya.
"Aku yang akan menyuapi istriku" akhirnya Aaron membuka mulut. Ia geram pada tingkah James.
Mereka adu tatap, antara James dan Aaron sama-sama memiliki tatapan yang mengerikan. Calista yang berada di tengah-tengah antara James dan Aaron bergidik, akan sangat menyeramkan jika kedua pria ini sampai berkelahi. Calista tidak mau itu sampau terjadi. Pada akhirnya saat Aaron dan James masih beradu tatapan, Calista mengambil makanan yang dipegang James.
"Aku akan makan sendiri, kalian tidak perlu menyuapiku" Kedua pria itu menatap Calista, sedangkan Calista pura-pura tidak peduli dengan tatapan mereka. Ia hanya fokus pada makanan itu.
Aaron mengambil alih makanan itu dari Calista dan menyuapi istrinya. Ketika Calista ingin menolak, pria itu malah menatapnya tajam.
"Tidak ada bantahan!" Ucap Aaron tegas. Calista akhirnya pasrah, melihat itu James tersenyum sinis lalu duduk di sofa. Ia membuka beberapa surat kabar sambil mencoba mengabaikan Calista dan James.
"Hari ini Calista diizinkan pulang" ujar James dengan pandangan terfokus pada surat kabar.
Aaron tersenyum pada Calista, tanpa merespon ucapan James.
"Aku akan mengantarkanmu pulang" kata Aaron lembut. Calista terlena dengan senyuman teduh dan ucapan lembut Aaron. Secara automatis bibirnya melengkung membentuk senyuman manis.
Aaron telah berjanji pada Calista. Semoga saja pria itu tidak mengkhianati ucapannya lagi. Semoga saja....
**To be continue......
Note:
Hai, Hai! Ini adalah up prtma dari 5 chapter yg sudah author janjikan. Waktu 24 jam terhitung dari chapter ini terpublish yaa 😂😂
Hehehe, semngatin author dong biar 5 chapter dlm 24 jam bisa terwujud. Karena author mau nepatin janji 30 likes kemarin, terimakasih bagi yang sudah like, comment dan vote 🙏
See You** ;)