Disaster Love

Disaster Love
REINCARNATION LOVE 03



Areon menatap Viollet yang sedang bermain bersama Baby Dree dengan wajah tertekuk. Alisnya sejak tadi menukik tajam. Wajah Areon angker, dengan bibir terkatup rapat memandang Viollet bersama ponakan kesayangannya. Areon sangat kesal Baby Dree mencampakannya. Areon merasa sangat dikhianati oleh perempuan asing itu. Baby Dree yang biasanya hanya akrab dengannya sekarang malah menangis saat ia gendong. Biasanya Baby Dree akan tertawa dengan kencang hanya saat bersama Areon, tapi sekarang semuanya berubah! Tawa bayi kecil itu terdengar di seluruh ruang tamu bahkan sampai ke dapur dan belakang rumah karena Viollet menggelitik perut kecilnya.


Para pelayan bahkan ikut tersenyum dan terheran-heran dengan kejadian itu. Tidak biasanya Baby Dree mudah sekali akrab dengan orang asing, jangankan orang asing dengan pelayan rumah saja Baby Dree terkadang tidak nyaman. Baby Dree akan menangis saat ia merasakan gendongan asing. Bayi tampan itu hanya akan nyaman berada di gendongan daddy-nya, paman, bibi, serta pengasuhnya.


"Ciluuukkk... baaa...." lagi-lagi Viollet dan Baby Dree mendapat pusat perhatian setelah bayi itu kembali tertawa kencang saat Viollet mengejutkannya.


"Cihh..." Areon berdecih serta memalingkan wajah. Aura gelap makin terpancar dari ekspresinya.


Viollet hanya menoleh sekejap lalu kembali fokus pada Baby Dree. "Baaaa....."


Melihat mereka makin asik tertawa dan bercanda membuat Areon makin kesal. Ia akhirnya memutuskan meninggalkan tempat itu. Areon berdiri dan berlalu menuju dapur. Kepalanya perlu didinginkan sejenak. Rasanya emosinya akan meledak saat melihat orang kesayangannya lebih nyaman dan bahagia bersama orang lain. Setidaknya Areon merasa ada yang terbakar di dalam tubuhnya. Entah apa itu, tapi rasanya panas dan tidak nyaman.


"Tuan, perlu saya ambilkan sesuatu?" tanya pelayan wanita kepada Areon yang berjalan di dekatnya.


"Tidak perlu!" jawab Areon ketus.


"Ba-baik Tuan" nyali pelayan itu ciut. Ia menyesal menawarkan bantuan kepada majikannya, walaupun itu memanglah tugasnya.


Areon berjalan ke dapur dengan mood yang makin buruk. Ia membuka kulkas dan mengambil air dingin lalu menutup pintu kulkas dengan keras. Areon meneguk air dingin itu dengan cepat tanpa memakai gelas.


"Apa-apaan itu tadi?" ujar Areon tidak habis pikir.


Ia telah dipermalukan, bahkan dihadapan banyak pelayan. Harga dirinya telah direndahkan oleh perempuan asing itu, Areon tidak terima! Lagi pula siapa dia? Areon-lah paman dari Baby Dree, bagaimana bisa Baby Dree malah menolaknya dan lebih nyaman dengan perempuan itu.


"Tidak! Aku akan mengambil Dreeyan. Aku pamannya, Aku yang lebih berhak mengajaknya dibanding perempuan itu." Areon meletakkan wadah air dingin itu sembarangan dan kembali menuju ke ruang tamu tempat Baby Dree dan Viollet berada.


Areon menghentikan langkahnya ketika ia melihat sosok yang begitu ia kenal. Orang itu berada di depan Viollet dan Baby Dree. Dia berhasil membuat semua pelayan di ruangan luas nan megah itu tertunduk hormat padanya. tidak ada seorang-pun yang berani mengangkat kepalanya kecuali perempuan itu dan Areon.


Areon melihat Vio menatap Kakaknya dengan pandangan yang sulit dijabarkan. Pandangan kakaknya terlihat seperti biasanya, sangat tajam dan dingin. Sangat mengerikan apalagi untuk orang asing seperti Viollet. Suasana menjadi sangat menegangkan, tidak ada orang yang mengeluarkan sepatah katapun. Tidak sebelum Aaron yang berbicara terlebih dulu.


Areon menyilangkan kedua tangan di depan dada. Ia penasaran, apa yang akan terjadi selanjutnya. Sekarang ia akan menjadi penonton yang baik.


Sementara itu, pandangan Viollet dan Aaron masih terkunci. Viollet mencari sesuatu yang ia temukan kemarin malam, ia mencari pandangan kerinduan pria di depannya itu. Aaron yang kemarin malam sangat berbeda dengan Aaron yang berada di depannya sekarang. Kemarin Viollet melihat Aaron yang begitu lemah, ia begitu merindukan seseorang yang bahkan tidak Vio kenal. Tapi, jauh berbeda dengan sekarang. Aaron yang berada di depannya begitu dingin seolah tak tersentuh. Garis wajahnya yang tegas dengan rahang kokoh dan pandangan penuh kemarahan serta rasa tidak suka terpancar dari mata Aaron. Viollet dapat merasakan, dia begitu berbeda. Seolah dua orang yang berbeda.


Seorang wanita paruh baya berpakaian pelayan tiba-tiba mendekati Viollet dan mengambil alih Baby Dree. Dia Sarah, kepala pelayan di rumah itu.


Viollet memandang Sarah seolah enggan memberikan Baby Dree, tapi ia sadar bahwa ia bukan siapa-siapa. Ia tidak berhak untuk itu. Tetapi tubuhnya seolah tidak rela melepas bayi tampan itu.


Baby Dree kemudian diserahkan kepada Aaron. Bayi itu memandang Daddynya sekilas lalu kembali memandang Viollet.


"Pergi!" hanya sepatah kata yang terucap dari mulut Aaron. Jelas sekali itu ditujukan pada Viollet.


Viollet ingin membalas tetapi belum sempat ia berkata tatapan pria itu sudah ke arah lain. Sarah kemudian memutar kursi roda Aaron dan mendorongnya menjauhi Viollet.


"Pergi dari sini sebelum saya berubah pikiran!"


Aaron menjauh bersama Baby Dree. Bayi itu bergerak-gerak gelisah di gendongan Aaron. Sementara Vio menurunkan pandangannya, ia lalu berbalik dan bersiap pergi. Namun...


"Ooeeekkk.....ooeekk" tangisan Baby Dree kembali terdengar.


Semua orang terkejut. Bayi itu menangis saat bersama Daddy-nya atau, ia menangis saat dijauhkan dari Viollet?


Areon pergi dengan gaya khasnya. "Tunggu!!" Viollet tiba-tiba teringat sesuatu.


Areon berhenti, Viollet berlari mendekatinya. Viollet berdiri di depan Areon, ia tiba-tiba menjadi gugup.


"Te-terima kasih."


Sebelah alis Areon terangkat. "Terima kasih telah menolongku semalam." lanjut Viollet.


Areon tersenyum melihat kegugupan perempuan di depannya.


"Kenapa perempuan ini berubah dalam menjadi begitu menggemaskan?" batin Areon.


Vio memandang Areon sekilas lalu kembali menunduk. Jari-jari tangannya saling bertautan karena gugup.


Karena lama tidak mendapat balasan, Viollet akhirnya memberanikan diri untuk kembali melihat wajah Areon. Tetapi karena itu pula Areon malah mendekatkan wajahnya. Viollet automatis bergerak munduru tapi tubuhnya ditahan oleh tangan Areon.


Posisi keduanya menjadi begitu dekat, hanya beberapa sentimeter. Viollet bahkan dapat merasakan hembusan nafas laki-laki di depannya. Jantungnya tiba-tiba berdetak lebih kencang.


"Aku...." Viollet bersumpah ia ingin sekali mendengar lanjutan kata dari Areon karena laki-laki itu lebih mendekatkan wajahnya.


Viollet memejamkan mata. Jantungnya marathon dan ia sangat gugup juga takut.


"Tidak menerima ucapan terima kasih." ujar Areon dalam dan lirih. Tepat di depan wajah Viollet.


Viollet memberanikan diri membuka matanya. Laki-laki itu dilihatnya malah tersenyum miring lalu menjauhkan wajahnya dan juga menarik kembali tangannya dari punggung Viollet.


Viollet bernafas lega, ia menelan savilanya lalu kembali bertanya. "La-lalu?"


"Bayar!"


"Apa? Bayar? Tapi, Tuan. Aku tidak punya uang." jawab Viollet sungguh-sungguh.


"Aaaiiishhh... bodoh! kau harus bekerja." sejujurnya Areon merasa kesal karena perempuan itu memanggilnya Tuan. Apa ia terlihat tua? yang benar saja! usianya baru 21 tahun, masih sangat muda untuk artis terkenal sepertinya.


Viollet memutuskan kontak mata mereka dan kembali menunduk. Ia kemudian menjawab dengan ragu. "Aku tidak punya pekerjaan, Tuan."


"Sekarang kau punya. kau harus menjadi pelayan pribadiku." ujar Areon lalu kembali berjalan melewati Viollet dengan senyum penuh kemenangan.


"Ta-tapi..."


"Kau bekerja mulai hari ini" ujar Areon kembali seraya berjalan makin menjauh.


Viollet tidak habis pikir. Kemarin Tuhan mengirim seseorang untuk menyelamatkan dirinya tetapi Tuhan malah kembali mengirimnya ke tempat ini, tempat yang berisi orang-orang yang mengerikan baginya. Ia terjebak dengan orang asing yang menyelamatkannya. Viollet tidak tau, apakah hidupnya akan menjadi lebih baik ataukah sebaliknya. Sekarang ia tidak punya pilihan lain, ia juga tidak punya rumah untuk pulang. Satu-satunya tempatnya dikurung adalah tempat terkutuk itu. Tempat yang Viollet tidak akan datangi lagi seumur hidupnya. Selamanya Viollet tidak akan menginjakkan kaki di club malam yang menjijikkan itu lagi.


Bersambung....


Jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, comment, share, dan vote yaa...


Gomawo yoo....