Disaster Love

Disaster Love
DISASTER LOVE 44



"Mencintaimu seperti menghirup gas beracun. Di setiap tarikan nafas hanya akan ada rasa sakit, yang perlahan akan membunuhku."


Calista Maylafaisha


*****


Pagi itu juga menjadi pagi yang sangat buruk. Digendongannya Calista tidak sadarkan diri, wajahnya pucat, hidungnya mengeluarkan darah dan juga dari paha dalam Calista mengalir darah. Detakan jantung Aaron menggila, ia sudah berada di dalam mobil yang melaju kesetanan.


Aaron membenci situasi ini. Ia benar-benar benci saat dirinya merasa sangat takut. Ketakutan yang begitu mendalam, ketakutan yang tidak bisa ia ungkapkan, dan ketakutan yang mampu membuat air matanya tumpah. Aaron pernah merasakan ketakutan yang sama dulu, saat kedua orang tuanya meninggal dan meninggalkan ia beserta kedua adiknya sebatang kara. Saat itu Aaron harus berjuang bertahan hidup serta menjaga kedua adiknya. Dan sekarang melihat Calista tidak sadarkan diri membuat ketakutan yang sama menggerogoti dirinya. Aaron takut terjadi sesuatu dengan Calista dan juga anaknya.


Tatapan Aaron hanya fokus ke Calista. Sedari tadi dirinya sangat berharap mata indah itu akan terbuka dan membalas tatapannya dengan senyuman manis seperti biasanya. Tetapi itu sama sekali tidak terjadi. Mata indah Calista tidak kunjung terbuka, bibir itupun tidak menerbitkan senyuman manis seperti biasa. Yang ada hanyalah wajah pucat pasi, disertai darah yang mengalir tak henti-hentinya dari hidung Calista.


Mulutnya memang bungkam, tetapi hatinya terus saja mengutuk dirinya sendiri. Ia begitu bodoh, Calista terluka karena dirinya. Aaron tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri jika sampai terjadi sesuatu pada Calista. Wanita yang benar-benar ia cintai, wanita yang telah menghapus segala kebencian di hatinya dan membuat harinya berwarna. Aaron mencintai Calista, dan cinta itu belum sempat diutarakan.


Hujan deras mengiringi perjalanan mereka ke rumah sakit. Sopir yang mengendarai mobil Aaron merasa panas dingin. Aaron memang tidak berteriak marah-marah ataupun bertindak kasar. Majikannya itu hanya diam sambil memandangi istrinya. Sopir itu tertekan oleh situasi, jalanan macet, hujan deras, keadaan majikannya yang tidak sadarkan diri, dan juga sikap Aaron yang bungkam. Menurutnya, keadaan Aaron yang bungkam jauh lebih menakutkan. Jika tuannya sudah kehilangan kesabaran, maka dirinya bisa dimusnahkan dari dunia ini dengan sangat mudah. Sopir itu menelan saliva susah payah. Perjalanan itu terasa sangat panjang.


CIIIITT...


Bunyi kendaraan yang direm tepat di depan pintu rumah sakit membuat perhatian orang-orang tertuju pada mobil hitam mewah itu. Beberapa saat kemudian keluarlah seorang lelaki yang menggendong wanita hamil dalam keadaan tidak sadarkan diri. Reaksi orang berbeda-beda. Ada yang khawatir, ada yang tidak peduli dan melanjutkan kegiatannya, bahkan ada juga yang tertarik pada ketampanan lelaki itu. Lupakan.


Beberapa staf rumah sakit dengan sigap menolong Aaron yang sedang menggendong Calista. Ketika sudah ditidurkan di atas brankar, Calista segera dilarikan ke ruangan gawat darurat. Dokter dan suster berlarian memasuki ruangan itu. Aaron yang tidak diizinkan masuk merasa frustasi. Ia menendang kursi yang berada di lorong itu hingga menimbulkan bunyi yang sangat keras. Wajahnya memerah, dan beberapa saat kemudian Aaron menangis. Ia merosot dan terduduk di depan ruangan gawat darurat. Ini adalah pertama kalinya ia menangis di tempat umum. Aaron sama sekali tidak pernah menangis lagi setelah kedua orang tuanya meninggal.


Calista mengalihkan semua pikirannya. Calista mampu membuatnya menjadi sangat lemah. Calista mampu membuat bahunya bergetar karena menangis. Hanya Calista yang mampu.


Tiba-tiba James datang dan menarik Aaron hingga berdiri dengan kasar.


BUGG


Pria itu memukul wajah Aaron hingga terjungkang ke belakang. Tidak cukup sampai disitu, James menghajar Aaron seperti orang kesetanan. Wajahnya sudah memerah saking marahnya, urat-urat wajah hingga leher tercetak dengan jelas. Saat ini James terlihat sangat mengerikan, James sudah berada di ujung kesabarannya. Tanpa henti pria itu menghujami Aaron dengan pukulan, Aaron tidak melawan. Tenaganya terkuras habis oleh keadaan Calista, ia bahkan terlalu lemah untuk menahan serangan bertubi-tubi itu.


"Matilah kau, Baj*ng**!! Sialan! Baj*ng** sepertimu tidak pantas hidup. Kau harus mati ditanganku." Teriak James di atas wajah Aaron yang kini ia duduki.


Aaron hampir tidak sadarkan diri. Ia pasrah dengan James yang memukulinya tanpa celah, yang dibayangannya sekarang hanya satu. Calista, wanita itu terus membayangi pikirannya.


"James... hentikan!! hiks...hiks" Tangan James meyalang di udara. Nafasnya tersenggal menatap Aaron yang sudah tidak berdaya. Tangannya yang terkepal di udara hampir saja mengenai Aaron jika Jane tidak berteriak menghentikannya. Jane menangis, wanita itu juga terpukul dengan kondisi Calista.


Di sisa kesadarannya, Aaron melihat bayangan Calista. Wanita itu nampak sangat cantik dan memakai pakaian serba putih yang indah. Calista tersenyum sangat manis. Melihat itu Aaron tidak sadar tersenyum, tangannya terangkat untuk menggapai bayangan Calista. Tetapi belum dapat Aaron menggapainya, Calista sudah melambaikan tangan sambil tersenyum. Senyum Aaron pudar, bayangan Calista yang melambai semakin jauh. Semakin menjauh dan akhirnya menghilang.


DEG


Hatinya terenyuh, Calista nya menghilang. Calista nya pergi.


"Calista... ja-jangan pergi" Kesadaran Aaron menghilang setelah kata itu terucap dari bibirnya. Ia pingsan dengan bekas pukulan di wajahnya.


James mengernyit, tangannya yang terkepal perhalan turun. Ia bangkit dari atas tubuh Aaron dan menjauh, sedangkan Aaron tampak mengenaskan dengan luka-luka di wajahnya. Tidak ada seorang pun yang berani menolong Aaron selagi James didekatnya. Orang-orang hanya terdiam melihat kejadian itu, mereka takut dijadikan sasaran amukan dari James.


"Apa yang kalian lihat? Pergi!!"


Orang-orang yang berkerumun akhirnya pergi dengan tergesa. James mendekati Jane yang menangis lalu memeluknya.


"Maafkan aku..."


"Mom takut, James. Mom takut Calista pergi.. hiks....hiks...." tangisan Jane tidak terbendung di dekapan anaknya.


James tersentak dengan ucapan ibunya. Dan sekarang kata-kata itu terus berputar di kepalanya. Tanpa bisa ia hapus, atau bahkan ia alihkan.


Petugas keamanan kemudian datang bersama dokter dan perawat. Mereka melihat Aaron yang tidak sadarkan diri kemudian menolongnya. Untung saja ada beberapa orang yang melapor, jika tidak Aaron dipastikan akan berada disana hingga ia bangun dengan sendirinya. Aaron yang babak belur dibawa ke ruangan lain untuk diobati. Sementara petugas keamanan itu hanya untuk jaga-jaga jika James kembali menyerang. Untung saja itu tidak terjadi. Mereka masih selamat dari kebuasan James.


*****


*Aaron tengah berada di suatu tempat yang sangat sepi dan gelap. Tidak ada seberkas cahaya yang dapat membantunya melihat. Aaron tengah meringkuk kesakitan, seluruh tubuhnya terasa sakit, terutama bagian wajahnya.


Tiba-tiba ia mendengar langkah kaki, seseorang datang ke arahnya membawa cahaya. Orang itu bercahaya, sosoknya perempuan. Aaron menutup matanya saking terangnya cahaya itu. Perlahan matanya mulai beradaptasi, perempuan itu semakin mendekat. Saat itu juga terdengar suara tangisan bayi, Aaron mendongak.


Semua rasa sakit ditubuhnya menghilang entah kemana. Tangisan bayi itu begitu nyaring dan menggema di tempat nan sepi itu. Aaron terpaku beberapa saat, hatinya menghangat mendengar tangisan bayi.


Tepat di depannya, perempuan itu berdiri sambil menenangkan bayi yang digendongnya. Dengan senyuman manis ia menenangkan bayinya. Aaron tertegun, melihat wajah perempuan itu hatinya berdebar kencang. Wajah yang selalu dinantikannya, wajah yang menghiasi pikirannya setiap saat, wajah yang sangat Ia rindukan.


"Calista..."


Aaron bangkit, saat ini Ia menatap wajah yang begitu ia rindukan. Air matanya mulai menggenang, ia sangat bahagia.


Calista beralih menatap Aaron sembari tersenyum. Sangat indah!


"Ooeeekk.... oeeekkk" Aaron tersadar dari lamunannya.


Calista menyerahkan bayi yang menangis itu pada Aaron. Di pikirannya Aaron bertanya-tanya.


Kenapa Calista menyerahkan bayi itu padanya?


Aaron seakan bisu, ia tidak mampu berbicara ataupun bertanya apapun lagi. Hanya keningnya yang mengernyit sembari menerima bayi itu. Calista mengelus kepala bayi itu dan menciumnya, kemudian perlahan-lahan menjauh. Tubuhnya seolah mundur dan menghilang bersama cahaya yang dibawanya.


"Jangan pergi...."


Air mata Aaron menetes. Tangannya ingin menggapai Calista yang sudah menghilang namun tidak bisa. Ia ingin memanggil Calista yang menjauh tadi, namun bibirnya bungkam. Aaron seolah tidak bisa berbuat apa-apa dengan keadaan. Hanya hatinya yang terus mencoba memanggil Calista.


Bayi itu terus menangis, dirinya kembali diselimuti oleh kegelapan. Air matanya terus mengalir.


Aaron menatap bayi itu. ia terus menangis seolah sama bersedih seperti dirinya. Bayi itu seolah menangis karena ditinggal pergi. Aaron mencoba menenangkannya, ia mencoba segala cara namun tidak bisa. Bayi itu menangis dan terus menangis, namun satu hal yang ia sadari. Bayi itu mengeluarkan cahaya, cahaya yang hampir sama seperti milik Calista. Cahaya yang menerangi kegelapan hidupnya*...


*****


Di sisi lain Aaron sadar. Ia menatap langit-langit dan sekeliling. Ternyata ia berada di rumah sakit. Aaron sadar, tadi ia hanya bermimpi. Tetapi anehnya, sampai sekarang ia masih bisa mendengar suara tangisan bayi itu. Bayi yang berada di mimpinya.


Aaron berusaha duduk, dan seluruh tubuhnya masih terasa sakit. Ia mengingat kejadian sebelum ia pingsan. Wajar jika ia merasa sakit.


Tetapi tangisan bayi itu masih terdengar. Hatinya terasa seperti terpanggil oleh tangisan itu. Aaron turun dari brankar itu dan mencabut infus di tangannya. Ia berjalan perlahan mencari sumber tangisan itu.


Aaron menemukan sebuah ruangan, ia masuk dan disana terdapat banyak sekali bayi. Tetapi pandangannya hanya terfokus kepada bayi yang berada di inkubator. Bayi itu menangis kencang, Aaron terus merasa terpanggil oleh tangisannya. Ia berjalan mendekat, hingga kini ia berada di di sebelah inkubator.


Bayi itu mungil, kulitnya seputih susu. Tanpa sadar Aaron tersenyum.


"Apa yang kau lakukan disini, Tuan?" Aaron terperanjat dengan suara itu.


Seorang suster mendekati Aaron. Aaron menatap suster itu seolah bertanya tentang bayi di depannya. Tetapi bibirnya hanya bungkam, tidak bersuara.


"Dia baru saja lahir, dia lahir premature sehingga perlu diinkubator. Tetapi, sayangnya dia sudah ditinggalkan lebih dulu oleh ibunya."


DEG


Penjelasan suster itu membuat Aaron terkejut. Yaa, perasaan itu kembali merambat di hatinya. Perasaan takut, seperti di mimpi itu.


"Kenapa?" Tanya Aaron kaku.


"Ibunya masih sangat muda, dia meninggal karena penyakit yang dideritanya. Dia meninggalkan karena kanker darah. Dan bayi ini juga terpaksa lahir premature karena ibunya mengalami pendarahan." jelas suster itu.


Perasaan Aaron tidak menentu. Ia begitu penasaran dengan wanita yang dimaksudkan suster itu. Tidak mungkin, kan, wanita itu adalah Calista?


"Si-siapa wanita itu?" tanyanya ragu


"Namanya Calista. Dia masih sangat muda dan cantik, tetapi sayangnya Tuhan lebih mencintainya....." ucapan suster itu tidak lagi terdengar oleh Aaron. Tiba-tiba tubuhnya bergetar, air matanya menetes. Hatinya terasa diremas sangat kuat saat suster itu menyebut nama Calista.


"Tidak mungkin!! Banyak orang bernama Calista! Calista siapa yang kau maksud?" Aaron menggoyang-goyangkan bahu suster itu.


Suster itu sedikit ketakutan dengan Aaron. Ia mencoba menelan salivanya dan menjawab pertanyaan lelaki ini.


"Cal-Calista Maylafaisha"


to be continue.....


**Halo semuanya!! Pertama-tama aku ingetin ke kalian semua buat like, comment dan vote. Hehee,, itu yang paling penting...


Kedua, belum tamat yaa ༎ຶ‿༎ຶ aku Kira bisa tamat sekarang tapi,, kepanjangan kalo dipaksain. Mending aku pisahin aja 😁


Buat kalian yang mungkin lupa sama visual Aaron Gavrilo, ini dia**...




Ini Calista, dan baby mereka? ada yang kepo? hahahaha...


Visual baby bakalan hadir di next chapter, don't miss it!!