Disaster Love

Disaster Love
BEGINNING OF EVERYTHING 33



Calista terbangun saat langit masih gelap. Matanya bengkak dan terasa susah dibuka karena menangis semalaman. Calista melirik Aaron, ternyata suaminya itu masih tertidur. Calista melirik jam di nakas, pukul 05.08. Itu artinya baru beberapa jam ia tidur.


Calista mengelus perutnya, ia tersenyum tipis. Calista harus pura-pura tidak terjadi apapun. Ia juga harus berpura-pura tidak mendengar apapun, ia tidak ingin menciptakan kecanggungan hubungannya dengan Aaron. Bahkan jika perlu, Calista akan tetap mengatakan bahwa dirinya masih belum dapat mengingat kejadian setelah dirinya dan Aaron menikah.


"Kenapa semuanya terasa begitu rumit?" batin Calista.


Calista menyeka air mata yang sudah kembali mengalir dari pelupuk matanya. Air mata itu mengalir tanpa izin dari empunya.


"Tuhan, kapan ini semua akan berakhir? Kuatkan kami." lirih Calista sembari menatap langit-langit.


Saat Calista masih sibuk dengan pikirannya, Jane membuka pintu dan masuk ke ruangannya. Jane dengan senyum mengembang berjalan mendekat ke brankar Calista. Jane baru saja bangun dari ruangan sebelah. Kamar ini terbagi menjadi dua ruangan, pertama ruangan Calista dan yang kedua berisi tempat tidur untuk istirahat.


"Kau sudah bangun?"


"Baru saja, Aunty" Jane yang semula tersenyum berubah khawatir melihat wajah Calista. Matanya terlihat bengkak, dengan senyum yang dipaksakan.


"Ada apa dengan matamu? Kau habis menangis? Apa yang terjadi?" Tanya Jane bertubi-tubi. Kedua tangannya memegang wajah Calista.


"Aku baik-baik saja aunty" jawab Calista dengan senyum mengembang. Senyum itu sedikit mengurangi rasa khawatir Jane. Tapi tetap saja, Jane masih sangat khawatir karena wanita yang ia anggap anak itu baru saja mengalami tragedi yang hampir merenggut nyawa calon anak Calista.


Jane mengelus rambut panjang Calista. Jane sedikit tersenyum memaksakan.


"Kamu jangan banyak pikiran dulu ya sayang, kasian anak kamu. Dia pasti ikut sedih kalau mommynya menangis" tutur Jane lembut. Calista mengangguk sebagai balasannya dan memeluk Jane.


"I'm hungry, aunty Jane"


Jane terkekeh mendengar ucapan Calista. Ini masih pagi buta dan Calista sudah kelaparan. Pantas saja dia bangun sepagi ini. pikir Jane.


"Wait here. Aku akan kembali dengan banyak makanan"


"Sure" jawab Calista.


Calista memudarkan senyumnya. Aaron masih belum bangun, ia menatap sendu suaminya.


"I love you, Aaron" lirih Calista.


Setengah jam kemudian Jane kembali dengan makanan yang cukup banyak seperti yang ia janjikan pada Calista. Senyum wanita hamil itu mengembang melihat kedatangan Jane, lebih tepatnya kedatangan makanan yang sudah ia tunggu. Calista makan dengan lahap, sesekali ia tertawa ketika Jane menggodanya.


Tawa mereka membuat Aaron terusik. Ia menggeliat dan bangun. Aaron tersenyum memandang tawa Calista yang terlihat tanpa bahagia walaupun wajah cantik itu terlihat agak kusut dan lelah. Namun Calista tetaplah istrinya, calon ibu untuk anaknya yang mampu membuat hatinya bergetar hanya dengan melihat senyumnya. Jantung Aaron kali ini benar-benar berdebar melihat senyum manis dan tawa Calista. Aaron tidak tau betul perasaan ini, apakah ia benar-benar sudah mencintai Calista?


Calista yang tertawa dengan mulut penuh makanan, Calista yang sesekali tersenyum sambil mengelus perutnya yang sudah mulai membuncit. Aaron rela jika harus membayar berapapun untuk tawa itu, tawa yang seakan mengangkat rasa lelah dipundaknya. Menghilangkan sedikit beban di hatinya.


"Eekkhhmm"


Jane dan Calista seketika menghentikan candaan mereka dan menoleh ke sumber suara. Mereka baru menyadari jika Aaron sudah bangun.


"lanjutkan saja, aku tidak akan mengganggu" ucap Aaron memecah keheningan sementara di antara mereka. Aaron berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Calista menatap Aaron hingga suaminya itu menghilang dibalik pintu kamar mandi. Bahkan Calista tidak mendengar ketika Jane memanggil namanya beberapa kali. Pikiran Calista masih menerawang ke kemarin malam, semua ucapan Aaron berputar di kepalanya.


"Sayang, kau baik-baik saja?"


"Ahh ya? aunty mengatakan sesuatu?" Calista baru sadar ketika Jane memegang lengannya. Calista malah balik bertanya dan gelagapan.


"Kau melamum sayang. Aku jadi khawatir padamu, belakangan ini kau jadi sering melamun."


Aaron keluar dari kamar mandi dan kelihatan jauh lebih segar. Ia mendekati Calista dan duduk di sebelahnya.


"Bagaimana keadaanmu?"


"Jauh lebih baik" jawab Calista dengan senyum mengembang. Calista menatap lekat wajah Aaron. Ternyata dibalik wajah tampan itu tersembunyi banyak penderitaan.


"Maafkan aku. Keadaan perusahaan sedang buruk, jadi kemarin aku..."


"It's okay. Aku mengerti, baby juga mengerti."


Aaron tersenyum dan mengangguk. "Aku harus kembali ke perusahaan, mereka membutuhkanku. Kau tidak apa-apa jika aku tinggal bukan?"


"Tentu saja, Aunty Jane juga ada disini menemaniku. Dan James juga akan kesini untuk menjengukku. Kau tidak usah khawatir." Ungkap Calista.


"Baiklah kalau begitu. Jaga dirimu dan dia baik-baik." Aaron bergegas meninggalkan ruangan itu. Keadaan perusahaannya memang sangat kacau sekarang. Perusahaan yang berhasil ia bangkitkan dari yang semula hampir bangkrut hingga menjadi perusahaan besar yang disegani seperti sekarang. Aaron tidak akan membiarkan perusahaan itu bangkrut atau jatuh ke tangan orang lain. Perusahaan ini adalah hasil kerja kerasnya selama bertahun-tahun. Ini adalah milknya.


Aaron sampai di perusahaan pagi sekali. Hanya ada petugas keamanan dan beberapa office boy yang sudah melaksanakan tugasnya masing-masing. Dan hari ini ia harus kembali berkutat dengan berkas dan juga rapat. Sungguh melelahkan.


Jam makan siang...


"Mr. Aaron, Mr. Maxwell menolak ajakan makan siangmu dan telah menarik seluruh investasinya." ungkap wanita yang merupakan sekretaris Aaron.


BRAKK


Aaron memukul meja kerjanya dengan sangat keras. Sekretaris Aaron sudah menundukkan kepalanya dalam, jantungnya berdegup sangat cepat. Ia tahu betul bagaimana sikap bossnya jika sedang marah.


"Apa yang terjadi? Kenapa jadi seperti ini? Atas dasar apa dia menarik investasinya?" Rahang Aaron sudah mengeras, tangannya mengepal kuat. Ia sedang menatap tajam sekretaris yang berada di depannya sekarang.


"Katakan!! Apa yang terjadi selama aku tidak ada!!" teriak Aaron murka. Wanita itu sangat terkejut mendengar teriakan Aaron. Jari tangannya saling bertaut untuk mengurangi ketakutannya.


"Beberapa investor merasa kesal saat kau tidak hadir, Pak. Mereka menganggap kau tidak konsisten dan menganggap remeh proyek baru kita."


"Siapa yang melakukannya? Aku tau mereka tidak akan berpikiran seperti itu jika tidak ada yang memancing." Nafas Aaron memburu. Ia benar-benar marah. Mr. Maxwell adalah salah satu investor yang sangat berpengaruh di perusahaan.


"Siall. Pergilah!"


Aaron menjambak rambutnya frustasi. Tanpa dijawab pun Aaron sudah tau siapa pelakunya. Ia memang meninggalkan perusahaan selama beberapa hari, itupun karena masalah Calista. Aaron sempat tidak hadir di beberapa rapat penting untuk pembahasan proyek baru.


Oleh sebab itu, kesalahan kecil yang dibuat pegawainya dimanfaatkan dengan mudah untuk menghancurkan Aaron dan perusahaannya.


"Kau sedang bermain dengan orang yang salah." Geram Aaron dengan aura membunuh. Tatapannya tajam, rahang yang mengeras sempurna dan senyuman sinis.


**To be continue....


Tahun baru tapi ide buntu. Maaf yaa temanΒ² semua Aku baru sempat update lagi. Padahal target tanggal 1 udah up, tapi karena ide tidak kunjung muncul akhirnya baru jadi sekarang deh. Inipun terpaksa yaa, karena puluhan kali aku ngetik selalu tidak puas sama hasilnya, dan alhasil aku hapus lagi πŸ˜‚**


Note :


Semoga bisa mengobati rindu dan rasa kecewa kalian. Support aku terus yaa, like comment, kasi bintang πŸ™πŸ˜«


Biar bisa tiap hari update :(


See you πŸ’•