
Semua keluarga telah berada di rumah sakit, tepatnya di depan ruangan Calista. Baby Calista masih dapat diselamatkan sementara keadaan Calista sendiri masih tidak sadarkan diri. Sarah membawa Calista tepat waktu, hingga pertolongan dapat dilakukan oleh tim dokter.
Kondisi Calista masih sangat lemah. Ia mengalami guncangan yang serius dengan batinnya. Hal itu karena Calista mendapat sebagian ingatannya kembali dan juga karena Areon. Areonlah alasan terbesar Calista berada di tempat ini. Laki-laki itu juga sudah mendapat ganjarannya. Aaron menghajarnya habis-habisan. Aaron bahkan tidak peduli jika laki-laki yang dihajarnya adalah adik kandungnya sendiri.
Aaron murka begitu mendengar hal yang dilakukan adiknya itu pada Calista. Aaron mendengar kabar Calista yang sedang berada di rumah sakit dari Sarah. Setelah mendengar yang terjadi dari Sarah, amarah Aaron meledak. Pria itu tanpa pikir panjang menuju ke mansionnya. Aaron berteriak memanggil nama Areon, ia seperti orang kesetanan dengan wajah yang menyeramkan, tatapan tajam, juga aura membunuh.
Sedangkan Areon masih terpaku di tempat tadi, di kamar Calista. Ketika kakaknya itu masuk ke kamar itu, Aaron menghajarnya membabi buta. Areon tidak melawan, ia hanya pasrah menerima semua pukulan Aaron.
Setelah puas memberi pelajaran Areon barulah Aaron menyeret adiknya yang sudah tidak berdaya itu ke rumah sakit. Jane yang sudah mulai tenang kembali murka saat melihat Aaron datang bersama Areon. Jane langsung menyambar Areon yang sudah tidak berdaya dengan wajah babak belur. Jane memegang kerah baju Areon.
"Kenapa kau melakukannya ini, huh? Kenapa kau menyakiti putriku!! Apa hatimu tidak sakit saat kau melakukannya? Kau gila! Laki-laki biadab!" teriak Jane tepat di depan wajah Areon.
Tatapan Areon kosong. Ia tidak mendengar apapun yang dikatakan Jane. Bahkan saat Jane memukul dadanya pun tidak ia rasakan. Ia masih saja dihantui fakta bahwa Calia, wanita yang selama ini ia incar telah tiada dan juga tangisan kesakitan Calista. Kelemahan Areon adalah anak-anak, termasuk bayi di kandungan Calista. Sementara tadi, ia sudah menyakiti bayi itu dan ibunya. Tanpa Areon sadari, ia menyesali itu semua karena terlalu ingin mengetahui fakta dari Calia.
Jane akhirnya melepas Areon. Laki-laki itu tidak merespon sama sekali amarahnya, sampai Jane lelah sendiri. Sarah memeganginya.
"Apa baby nya baik-baik saja?" lirih Areon tanpa menatap satu orang pun yang ada disana.
"Dia hampir tiada karena kau!" teriak Jane.
Ada sedikit rasa lega dihati Areon. Untung saja bayi itu masih bisa diselamatkan, jika tidak ia tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri. Areon terduduk lemas, seluruh tubuhnya terasa sakit akibat pukulan Aaron. Sementara Aaron menahan amarahnya untuk tidak menghajar adiknya lagi. Untung saja James tidak disini, jika dia ada Areon mungkin sudah tiada di tangan pria itu.
Seorang dokter keluar dari ruangan Calista. "Siapa yang bernama Aaron?" tanya dokter itu.
"Saya dok, saya suaminya." kata Aaron
"Pasien menyebut nama anda beberapa kali, temui dia. Tapi ingat, kondisi pasien saat ini masih lemah. Jangan membuatnya tertekan ataupun berusaha mengingat sesuatu dengan paksa, karena hal itu akan mengancam keselamatannya."
Aaron mengangguk lalu masuk ke ruangan itu. Calista menatapnya dengan mata berlinang air mata. Hati Aaron terenyuh melihat Calista, istrinya nampak sangat terguncang karena kejadian itu. Aaron berdiri di sebelah Calista, mengelus lembut rambut Calista sembari tersenyum manis.
"Baby nya baik-baik saja. Maafkan aku Aaron, aku hampir saja kehilangannya." ucap Calista sambil menangis.
"Sssttt tenanglah. Ini bukan salahmu, yang. terpenting sekarang dia baik-baik saja"
"Aku merindukanmu, Aaron. Sangat merindukanmu."
"Ma..aaf aku sempat melupakanmu" lanjut Calista terbata-bata.
Aaron terkejut dengan ucapan Calista. Apakah Calista sudah mengingat semuanya? Aaron membeku, ia tidak tau harus berbuat apa. Apakah ia harus senang ataukah sedih dengan fakta ini? Aaron tidak tau.
Calista melepas pelukannya dan menatap Aaron. Ia memegang wajah Aaron dengan kedua tangannya.
"Tapii... aku tidak ingat kapan kita menikah. Apa yang terjadi saat itu dan setelahnya?" kata Calista menatap Aaron.
Aaron balik menatap Calista. Keningnya berkerut, jadi Calista belum mengingat semuanya. Aaron tersenyum simpul.
"Kau tidak harus mengingatnya, yang terpenting sekarang adalah kau dan baby baik-baik saja." Calista tersenyum mendengar jawaban Aaron. Ia mengangguk dan kembali memeluk erat suaminya.
Calista mendapat ingatannya kembali tepat sebelum ia menikah dengan Aaron. Dimana Calista sangat mencintai Aaron dan hubungan mereka berjalan harmonis. Sedangkan ingatan setelah pernikahan masih tersimpan indah di ingatan paling dalam Calista. Ingatan itu masih belum dapat Calista temukan, karena terletak terlalu jauh dan dalam.
*Apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah mereka akan kembali saling mencintai dan hidup bahagia selamanya?
Tidak semudah itu. Masalah yang sebenarnya akan segera dimulai. Calista dan Aaron akan kembali mulai merajut kisah cinta tetapi apakah masalah yang nantinya datang akan dapat mereka selesaikan?
Ini akan menjadi awal yang manis untuk perjalanan pahit yang akan lalui. Bersiaplah*!
To be continue.....