
Jam menunjukkan pukul 5.41, langit masih gelap, dan sang surya belum menampakkan diri. Tetapi kamar itu sudah dipenuhi tangisan bayi yang menggelegar, yang membuat laki-laki yang sedang tertidur menggeram kesal.
"Ooeeekk, oeeekk....."
"Aaarrghhh...." laki-laki itu menggeram. Ia membuka mata dengan kesal, dan menjambak rambutnya frustasi.
Sementara tangisan itu malah semakin kencang. Laki-laki itu bangun dari tidurnya dan menghampiri mahkluk kecil di tempat tidurnya yang sedang menangis kencang.
"Apa maumu sepagi ini, huh?" ucap Areon pada bayi itu, seolah olah yang diajak bicara dapat mengerti dengan apa yang dia katakan.
Saat itu juga si bayi berhenti menangis. Areon terpaku beberapa saat, amarah dan kekesalannya seketika lenyap setelah melihat wajah malaikat kecil itu. Matanya yang bulat besar itu dihiasi sisa air mata, hidungnya yang mancung memerah akibat menangis, serta bibir mungilnya melengkung membentuk senyum yang indah ketika melihat Areon. Sungguh Areon jatuh cinta pada bayi manusia ini. Apalagi kedua tangan kecilnya sekarang melentang meminta digendong.
Areon tidak tahan untuk tidak menggendong malaikat kecil ini. "Kenapa kau lucu sekali, huh?" Areon menghujami wajah bayi itu dengan kecupan di seluruh wajahnya.
Bayi tampan itu tertawa dan kegelian menerima kecupan Areon. "Nakal sekali kamu ini, uuuhh"
Kim Aldreeyan Gavrilo, anak dari Aaron dan Calista yang kini sudah berumur 6 bulan. Sudah setengah tahun pula Calista meninggalkan mereka semua. Calista benar-benar sudah meninggal, dan sejak saat itu baby Dree tinggal bersama daddynya.
Areon menggendong Baby Dree ke luar kamar. Mansion masih sepi, hanya ada pelayan yang berlalu lalang di lantai bawah.
"Mari kita temui Daddy mu" Baby Dree terlihat sangat anteng ketika bersama pamannya. Dia akan meracau tidak jelas dan bermain di leher Areon.
Areon akan kegelian saat baby Dree mulai menggigit gemas lehernya dan bahkan membanjirinya dengan air liur, tapi lagi-lagi ketika Ia akan memarahi ponakannya itu Ia gagal. Areon selalu terhipnotis dengan baby Dree. Bayi laki-laki tampan dengan kulit seputih susu, mata bulat, bibir tipis dan hidung yang sangat mancung seperti pinokio. Aldreeyan sama sekali tidak mirip dengan Aaron ataupun Calista yang memiliki wajah orang barat. Aldreeyan mirip dengan kakeknya, ayah dari Calista yaitu Kim Christian yang merupakan orang Korea.
"Ini dia, daddymu ada di dalam. Ayo kita ganggu dia, kau harus berjanji padaku kau akan mengacaukan tidurnya seperti yang kau lakukan padaku, Penjahat Kecil."
Baby Dree hanya menatap pamannya tanpa tau yang barusan diucapkan.
CUP
"Aku rasanya ingin memakan hidup-hidup." Areon selalu gemas melihat Baby Dree, dia tidak akan tahan untuk tidak menciumi seluruh wajah malaikat kecil itu sehari saja.
Areon membuka pintu kamar di depannya. Ternyata dugaannya salah, pria itu tidak sedang tidur. Aaron tidak sedang tertidur. Pria itu menatap keluar jendela kaca yang besar. Dia duduk di atas kursi rodanya seperti biasa.
Areon menghela nafas, kakaknya pasti tidak tidur semalaman. Areon tau betul, karena hal itu sudah menjadi kebiasaan baru kakaknya sejak 6 bulan lalu. Sejak Calista meninggalkan mereka semua.
"Kakak, Dreeyan merindukanmu" pria itu masih diam tak merespon ucapan Areon.
"Kakak..." panggil Areon sekali lagi
Perlahan Aaron menoleh ke manusia di sebelahnya. Terlihat dengan jelas, pandangan mata itu menyiratkan rasa sakit yang mendalam, wajahnya terlihat sangat lelah, Areon bahkan dapat melihat kerinduan yang mendalam di kedua mata kakaknya.
Tanpa sepatah kata apapun Aaron menggapai Baby Dree. Mencium kedua pipinya dan akhirnya senyum kecil Aaron terbit. Hatinya menghangat dan kembali mengalirkan perasaan aneh ketika melihat anaknya. Tanpa sadar pandangannya mengabur akibat air mata yang menggenang, ya, setiap melihat Baby Dree akan mengingatkan dirinya dengan Calista dan semua penyesalan yang ia rasakan.
Ia benci dengan fakta bahwa ia masih hidup setelah kecelakaan itu. Terlebih lagi sekarang ia lumpuh. Setiap hari yang ia lewati seperti neraka. Setiap ia menarik nafas, ribuan jarum akan menusuk jantungnya, saat ia memejamkan mata bayangan Calista saat menangis dan ketakutan akan muncul dan mengalirkan rasa sakit ke seluruh tubuhnya. Rasa sakit dan penyesalan membelengu Aaron sangat dalam. Satu-satunya alasan Aaron untuk tetap bernafas adalah Aldreeyan, buah hatinya dengan Calista. Hadiah terakhir yang wanita itu titipkan padanya. Malaikat kecil yang membuatnya bertahan sampai sekarang.
Areon tersenyum melihat mereka. Kejadian 7 bulan lalu sudah mengubah banyak hal. Kepergian Calista membuat banyak sekali perubahan dan rasa sakit.
*Ini bukanlah akhir, melainkan sebuah awal baru. Mahkluk hidup dilahirkan untuk kemudian mati, begitupun sebaliknya. Sebagian orang mempercayai adanya reinkarnasi. Apakah kamu percaya?
Matahari menampakkan dirinya, langit memerah dan memancarkan cahaya yang mulai menerangi peradaban itu. Aaron menyaksikan matahari terbit itu, bisakah hal itu juga terjadi di hidupnya? Bisakah sebuah awal baru terbit di kehidupannya?
"Sebuah kisah akan berakhir bahagia, jika tidak itu bukanlah sebuah akhir."
Kim Aldreeyan Gavrilo (dewasa*)
#Note
Hai semuanya, ekstra part ini akhirnya selesai 😁 aku dedikasikan kepada seluruh pembaca setia Disaster Love dan khususnya dubber DL.
Aku nggak nyangka bisa dapet dubber, suatu kebanggaan tersendiri karena ini cerita pertama aku yang tembus 50k+ view, 2k+ likes, dan 170 comment.
Terima kasih semuanya udah nemenin aku sampai akhir, love you all
Aku masih bingung antara lanjutin kisah ini atau buat cerita baru, hehe.
Kalau ada saran bisa comment ya, see you guys