Disaster Love

Disaster Love
SALAH PAHAM 07



Aaron menatap ruang VIP tempat Calista dirawat. Aaron juga tau bahwa Calista telah melewati masa kritisnya. Aaron membuka pintu perlahan, pemandangan di depannya membuatnya muak. Tangan Aaron terkepal kuat. Rahangnya mengetat.


Laki-laki yang sama sedang berada dekat Calista. Mengelus kepala Calista lembut. Laki-laki yang sama yang Aaron lihat di restaurant. Hatinya memanas. Amarahnya memuncak. Aaron menutup pintu cukup keras, Ia berbalik dan meninggalkan tempat itu.


"Rasa sakit ini... kau juga akan merasakannya Calista. Tunggu saja" Geram Aaron marah.


"Halo, kirimkan jadwalku hari ini. Aku akan segera ke kantor" Tanpa menunggu jawavan, Aaron memutuskan telpon itu. Aaron berjalan gagah, mengeluarkan aura gelap. Sangat gelap.


Selama 3 hari berturut-turut Aaron tenggelam pada pekerjaannya. Sementara di rumah sakit, Calista telah sadar 2 hari lalu. Orang pertama yang Ia lihat adalah James. Perasaan kecewa menggerogoti hatinya. Ia berharap Aaron yang berada di sampinganya dan menjaganya.


James juga mengatakan tidak ada yang menjenguknya. Harapan Calista hancur, Aaron tidak menjenguknya sama sekali. Hatinya sakit, Ia terus menanti Aaron. Hari demi hari, tetapi yang ditunggu tidak kunjung datang. Calista mencoba berpikir positif bahwa Aaron sibuk di kantor, tetapi hingga hari ketiga Ia dirawat Aaron tak kunjung datang.


Diam-diam setiap malam Calista menangis tanpa sepengetahuan James ataupun Jane. Ia tidak tau keberlanjutan hubungannya dengan Aaron. Calista sangat mencintai Aaron, Ia tidak mampu jika Aaron meninggalkannya.


Di perusahaan, Aaron bekerja seperti orang kesetanan. Nama perusahaan Aaron semakin melejit. Tender-tender penting telah dimenangkan. Nama Aaron semakin naik daun dan sedang ramai diperbincangkan.


Aaron duduk di kursi kebesarannya, menatap pemandangan kota California dari balik tembok kaca ruangan miliknya. Wajah dingin, tatapannya kosong.


Pintu ruangan Aaron diketuk, sekretarisnya masuk. "Mr. Gavrilo next meeting will be starting 5 minutes later" Aaron tidak menjawab sama sekali. Sekretarisnya undur diri. Dan kembali fokus ke pekerjaannya.


Aaron bangkit, memakai jasnya dan menuju ruang meeting.


Di Rumah Sakit


Calista *** sprei dengan kuat. Tiba-tiba saja kepalanya berdenyut sakit. Sebelah tangan Calista menggenggam erat kepalanya.


"James... aaakkkhhh" teriakan Calista percuma. Tidak ada siapapun diruangan itu.


Semakin lama, rasa sakit itu makin parah. Calista mencoba menggapai bel di atas nakas. Calista berusaha mati-matian menggapai bel, namun jaraknya terlalu jauh. Darah mengalir dari hidung Calista. Rasa sakit kepalanya pun tidak tertahankan. Calista merintih kesakitan. Air matanya luruh begitu saja. Hingga kesadarannya mulai terenggut. Calista tak sadarkan diri.


PRANK


Sebuah gelas tersenggol dan pecah. James sedang mencari makan sedangkan Jane pulang untuk mengambil pakaian Calista.


"Excuse me miss, it's time to...." Seorang perawat yang masuk ke ruangan Calista terkejut melihat kondisi Calista. Makanan yang dipegangnya pun jatuh berserakan. Perawat itu berlari dan segera memencet bel.


Di lobby dokter yang merawat Calista serta beberapa suster berlari terburu-buru. James yang menyadari hal tersebut juga ikut berlari. Pikirannya berlabuh pada Calista yang Ia tinggal sendirian.


Dokter serta suster segera mengecek kondisi Calista. James yang baru sampai terengah-engah. James sangat takut, mendengar penuturan perawat membuat rasa bersalahnya makin besar. Tidak seharusnya Ia meninggalkan Calista sendirian.


"Selamatkan dia, kumohon dokter. Aku akan membayarmu tetapi kau harus memastikan kalau dia baik-baik saja." kata James.


"I'll do my best. Biarkan aku melakukan tugasku" jawab dokter paruh baya itu.


James mundur dan membiarkan mereka melakukan tugasnya. Selama beberapa saat Calista diperiksa. James berjalan kesana kemari. Ia sangat khawatir pada kondisi Calista.


"Bawa dia ke ruang ICU" James tersentak mendengar perkataan dokter dengan beberapa suster.


"What happen? kenapa harus ruang ICU? Apa terjadi sesuatu yang serius?" Tanya James.


"Belum dapat dipastikan, namun aku curiga dia mengalami pendarahan yang cukup serius. Kami akan melakukan pengecekan, sementara itu Dia harus dirawat intensif agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan" jelas dokter panjang lebar.


Calista segera dibawa ke ruang ICU. James mondar-mandir di depan ruang ICU. Pikirannya melayang pada wajah Calista yang pucat. Ia teringat beberapa hari belakangan Calista selalu murung. Tidak ada senyuman manis ataupun kata-kata manja yang sering Calista perlihatkan, terutama pada James.


James merindukan Calista. Rasa cinta yang Ia pendam semakin besar. James tidak mau terjadi sesuatu pada gadis yang Ia sayangi.


Di ruang rapat James tengah serius menyimak presentasi rekan bisnisnya. Asisten pribadinya masuk dan berbisik. Sontak Aaron berdiri dan meninggalkan ruang rapat. Aaron melajukan mobil tanpa memperdulikan umpatan pengemudi lain. Kecepatan mobilnya diatas rata-rata. Mungkin setelah ini Ia akan berurusan dengan polisi. James tidak peduli. Saat ini yang ada di pikirannya hanya Calista.


"Kau tidak boleh mati, belum saatnya. Kau hanya milikku" desis Aaron.


Namun ketika mendengar kabar Calista kembali tidak sadarkan diri. Aaron tidak bisa berdiam diri. Tidak boleh terjadi sesuatu pada Calista. Tidak boleh!


Aaron sampai. James dan Jane sudah di depan ruang ICU. Jane yang menangis, menoleh pada Aaron.


"Aaron?" Jane mengingat bahwa laki-laki di depannya adalah kekasih Calista. Calista sendiri yang mengenalkannya.


Aaron memandang kedua orang itu, James dan Jane. Merasa namanya dipanggil Aaron mendekat dan memeluk Jane.


"Calista, dia... diaa" Jane mengadu, tangisannya tidak dapat Ia bendung.


"Ssttt, dia akan baik-baik saja. Calista akan baik-baik saja" Aaron berujar, Ia mencoba menenangkan Jane dan juga.... hatinya.


James hanya diam. Bukan saat yang tepat untuk bertanya. Dokter keluar dari ruang ICU. mereka bertiga bangkit dan menghampiri dokter tersebut.


"Bagaimana keadaannya, Dokter?" Aaron lebih dulu bertanya. Hal itu membuat James bungkam. Ada yang memanas di hatinya. James cemburu.


"Kami sedang menunggu hasil pemeriksaan darah pasein. Dalam 1 minggu hasilnya akan keluar dan Kita akan tau keadaannya."


"Pasien sudah sadar, dia menyebut nama Aaron. Dan ingat, hanya satu orang yang boleh menjenguknya. Dia masih harus beristirahat." lanjut Dokter itu.


Aaron bergegas masuk. Ia mengenakan pakaian khusus.


"Calista" panggil Aaron.


Yang dipanggil menoleh. Calista sangat merindukan lelaki yang saat ini berjalan mendekat. Matanya berkaca-kaca. Bilang saja dia cengeng, namun air matanya keluar tanpa permisi.


Calista mengulurkan sebelah tangannya. Aaron menyambut tangan itu, menggenggamnya lembut. Mengusap pelan sembari menatap manik mata wanita di depannya.


"Aaron, kau..." ujar Calista lirih


"Shut up. I'm here" Aaron membungkam bibir Calista dengan bibirnya. Menyalurkan rasa rindu yang selama ini tidak tersalurkan. Calista tidak menolak. Ia membalas ciuman Aaron yang begitu lembut.


Aaron berakhir dengan mengecup puncak kepala Calista. "Get well soon, baby" Aaron tersenyum.


Perasaan Calista membuncah. Setetes air matanya mengalir. Ia sangat bahagia Aaron datang. Harapan dan doanya dijawab Tuhan.


Calista perlahan terpejam oleh usapan lembut Aaron di kepalanya. "Don't leave me again" Calista berucap sebelum matanya terpejam sempurna.


"Beristirahatlah sayang" Aaron mencium tangan Calista.


Aaron membiarkan Calista beristirahat. Ia keluar dan menemui Jane. mendengar penuturan Aaron, Jane sangat lega. Putrinya telah sadar, Ia sangat bersyukur.


Aura permusuhan begitu kental disana. Aaron dan James saling tatap. Mereka sama-sama menakutkan. Pengusaha yang sama-sama disegani. Wajah dingin, tatapan tajam. Jika Jane tidak disana. Aaron mungkin sudah memberi pelajaran pada laki-laki yang bermesraan dengan Calista tempo hari.


To be continue....



Calista lagi ditunggu sama abang Aaron..


Tampan banget lhoo 😍😍


Wiil be update everyday!


Stay Tune!!